MY LOVE For MAFIA

MY LOVE For MAFIA
KAMU IBLIS



Plakk


Lisa menampar wajah Aldrick keras hingga menampakan warna merah dengan cap lima jari di pipi putih Aldrick. Gigi Aldrick bergelutuk menahan amarah. Aldrick mendorong tubuh Lisa hingga gadis itu meringis saat membentur tembok dibelakangnya. Aldrick mencengkram erat dagu Lisa membuat gadis itu kesakitan.


"Kamu sudah tau sekarang aku mafia? lalu kenapa? tak suka?" Bentak Aldrick.


"Kamu iblis!" Sinis Lisa menahan sakit.


"Aku memang iblis, dan kamu membangunkan iblis yang ada di diri saya." Ujar Aldrick makin dingin.


"Kenapa kamu tak membunuhku saja? dengan begitu kamu gak merasa bersalah untuk menikahi saya." Dingin Lisa tak henti hentinya menangis dalam diam.


"Menikahi kamu itu pilihan, dan itu pilihanku!" Sinis Aldrick mendorong tubuh Lisa keranjang.


Aldrick mengunci pergerakan Lisa, pria tersebut sudah mirip seperti orang kesetanan. Lisa dapat menangkap guratan kemarahan di netra Aldrick. Lisa menjadi panik saat Aldrick menyentuh tubuhnya. Dia meronta makin membuat Aldrick emosi.


Plakk


Untuk pertama kalinya Aldrick menampar wajah Lisa keras, Lisa memegangi pipi nya yang terasa panas tersebut, dia tak menyangka jika Aldrick berbuat kasar dengannya.


"Mau kamu apa sih?!" Bentak Aldrick.


"Kamu yang mau apa? Mengapa menikmati tubuhku jika kamu terpaksa melakukannya. Breng'sekkk!! Benar benar pria breng'sekkk!!" Teriak Lisa makin membuat Aldrick geram.


"Kamu diam!" Bentak Aldrick menyobek baju yang Lisa kenakan.


Lisa hanya bisa menangis dan memejamkan mata, Aldrick benar benar kasar memperlakukannya seperti ini. Dia menangis saat Aldrick melakukan hal ini saat ia emosi. Beberapa saat setelah Aldrick selesai menyiksa Lisa, pria tersebut keluar kamar dengan emosi dan membanting pintu keras membuat Thalita dan Sabitha yang ada disana menangis. Lisa terkejut saat melihat si kembar ada dikamar dan bangun karena terkejut. Lisa menangis dan mendekap kedua balita tersebut.


"Hiksss.. maafin bunda sayang, bunda bodoh, sangat bodoh. Papamu tak menyayangi kita, dan jangan pernah lagi memanggilnya Papa. Hikss.. Bunda bakal jadi Ibu sekaligus Ayah buat kalian." Lirih Lisa sambil terisak.


____________________________


Aldrick benar-benar emosi, saat ini dia berada di bar untuk meredakan emosi nya. Dia minum ditemani Mauren yang ada disampingnya menggunakan baju kurang kain dengan belahan dada rendah. Aldrick sudah meminum banyak alkohol dan masih ada setengah kesadaran untuk berbicara.


"Sudah Aldrick, ini sudah botol kedua." Peringat Mauren mengambil botol ketiga yang hendak diminum.


"Vodka," Bentak Aldrick membuat Mauren kesal dan memberikan satu botol Vodka ke Aldrick.


"Jika kamu mati aku tak akan ikut tanggung jawab." Ketus Mauren berdiri dari duduknya namun Aldrick cegah dengan mencekal pergelangan tangan Mauren.


"Lisa .." Panggil Aldrick kemudian mencium bibir Mauren kasar membuat gadis itu memberontak.


"Al, hmmmppphh lepas." Berontak Aldrick namun makin kuat kungkungan Aldrick.


Mauren tak ada pilihan lagi, dia membalas ciuman Aldrick dan benar saja. Tangan Aldrick yang mengunci pergerakkan nya menjadi longgar. Mauren memanfaatkan keadaan dengan cepat dia membogem dagu Aldrick dari bawah membuat darah dari mulutnya keluar karena lidah Mauren tergigit oleh Aldrick.


"Sadar Aldrick, aku Mauren bukan Lisa. Kamu gila!" Maki Mauren pergi sambil menjulurkan lidahnya yang terasa perih.


"Auuuhhh.." Ringis Aldrick di ujung kesadarannya sambil memegang dagu nya yang lebam.


Drrrrtttt.. Drrrttt...


Aldrick melihat ponselnya, dia sudah meracau tak jelas karena mabuk. Samar samar dia melihat nama Lisa di ponselnya, dengan segera ia mengangkat dengan wajah senang.


"Hallo Lisa? Kamu kangen?"