
"Permisi!" Jawaban dari dalam membuat Lisa masuk kedalam.
"Hah lo?" Pekik Lisa
Aldrick menoleh dengan tatapan dingin, dia tanpa menjawab pertanyaan Lisa menunjuk kursi didepannya agar Lisa duduk dan memulai pendaftarannya. Dengan muka dongkol, Lisa duduk disana sambil mengerucutkan bibir.
"Kenapa mulut kamu, minta saya cium?" Mata Lisa membulat sempurna karena terkejut dan Aldrick yang sedikit senyum.
"Dasar mesum!" Kesal Lisa membuat Aldrick terkekeh.
"Oke, nama kamu siapa?" Tanya Aldrick walau dia sudah tau nama asli Lisa.
"Lisa, panggil aja Lia. Tanpa S oke?" Ucap Lisa sambil tersenyum setan.
Aldrick mengerutkan dahi, "Lalu S nya kamu kemana in?" Tanya Aldrick polos.
"S nya buat bapak aja, mayan kalau lagi haus wkwkwk." Canda Lisa membuat Aldrick menatap nya tajam.
"Aella pak santuy napa, cepat dah. Nama saya Lisa, umur 20 th. Saya jurusan managemen bisnis." Jelas Lisa membuat Aldrick mengangguk.
"Oke, data kamu sudah saya rekap ulang. Sebenarnya saya penasaran dengan kinerja kamu, yang katanya paling bagus di univ XXX. Bagaimana, apa kamu ada waktu sore ini?" Ucap Aldrick melipat kaki nya.
"Begitulah, tapi saya masih ada tanggung jawab merawat anak saya dirumah!" Ucap Lisa tersenyum membayangkan wajah sikembar.
Aldrick tersentak, "Kamu janda?" Tanya Aldrick tak tau kalau adiknya dia yang mengadopsi.
"Menurut saya, bapak sudah tau jawabannya." Ucap Lisa tersenyum sinis.
"Baik, terimakasih. Saya permisi." Pamit Lisa berdiri dari duduknya.
Aldrick hanya diam mematung, dia melihat manik mata Lisa dalam. Walaupun wajahnya terlihat selalu ceria dan tak bersedih, matanya yang sendu tak bisa membohongi kalau dia sedang bersedih membuatnya makin bersalah karena membunuh orang tanpa tau alasannya. Zefann keluar dari persembunyiannya, dia tersenyum setan kepada kakaknya, membuat Aldrick menggedikan bahu ngeri.
"Gue rasa lo tertarik sama Lisa bang." Goda Zefann membuat Aldrick menatapnya kesal.
Zefann menggeleng, "Dia beda." Ucap Zefann lagi.
"Apapun itu, gue cuma mau menebus kesalahan. Bukan mencintainya, lagi pula dia janda." Ketus Aldrick membuat Zefann tertawa terbahak bahak.
"Kenape lu ketawa?" Tanya Aldrick kesal.
"Gak wkwkwk, masih ingat omongan Lisa aja. S nya buat lo biar gak marah marah teros wkwkwk." Kekeh Zefann membuat Aldrick dongkol dan memilih mengerjakan tugas lain.
Aldrick makin kesal saat tawa Zefann tak berhenti. Beberapa saat kemudian, suara dering ponselnya membuat Aldrick melihat siapa pelaku yang menelponnya di saat jam kerja. Air muka Aldrick berubah dingin saat melihat nama yang ada dilayar ponselnya. Dia menyerahkan ponselnya ke Zefann, membuat Zefann ikut melotot.
"Mama telpon, lo aja yang angkat!" Ucap Aldrick dengan bahasa negaranya.
"Dia pasti akan menjodohkanmu dengan Mauren." Jawab Zefann.
Aldrick hanya menatapnya dingin, mau tak mau Zefann mengangkat telpon dari Mamanya. Mama tiri yang menyayangi nya karena dia tak pernah membantah perintah Mamanya.
"Hello, yes mom?"
"Ini Zefann? kemana kakakmu son?"
"Kak Aldrick lagi makan sore dengan kekasihnya."
Suara keterkejutan dari seberang sana membuat Aldrick menatap Zefann kesal, bisa bisanya dia berbohong dengan alasan makan dengan kekasihnya. Bisa saja kan meeting atau apalah, pikir Aldrick kesal.
"Aldrick sudah memiliki kekasih? bagaimana dengan Mauren?"
Suara disana sangat memperlihatkan kalau Mama nya Aldrick sangat kesal dan emosi. Karena tak tahan lagi, Aldrick merampas ponsel nya dari Zefann membuat Zefann kesal karena drama nya dihancurkan oleh Aldrick.
"Ingat ini, saya tidak akan menerima perjodohan manapun dan dimanapun. Saya akan memilihnya sendiri tanpa harus ada campur tangan dari orang lain."
"Orang lain maksud kamu? Mama ini adalah Mama kandung kamu! Mama yang melahirkan kamu. Apa dengan ini balas jasa mu sebagai anak yang baik ha?" Bentak Qi Wo Jione.