
Lisa duduk bersandar di dinding ruang bawah tanah, malam-malam seperti ini dia harus memuntahkan isi perutnya gara-gara kelakuan Thalita yang menebas kepala Viona tanpa aba-aba. Kepala menggelinding kembali berputar di pikiran Lisa. Asam lambung nya serasa naik dan ia harus memuntahkannya kembali.
Ueeeeekkkk.. Ueeeeeeekkkk..
"Astaga, kamu begini banget sayang?" Kata Aldrick khawatir dengan tangan masih memijit tengkuk Lisa.
"Thalita ueeekkk.. Sialan!!" Kesal Lisa pelan.
Aldrick menggendong tubuh Lisa yang melemas menuju lantai atas, sedangkan Thalita menggeliatkan tubuh nya dan menatap bingung kepala Viona yang sudah terputus dari tubuh nya. Dia menggerutu kesal dan menuduh Lisa yang melakukan ini semua.
"Apa-apaan sih? Kenapa mati nya cepet banget? La terus? yang makan sate nya siapa?" Kata Thalita menendang kepala Viona kesal.
"Udah mati nyusahin aja." Ketus Thalita pergi dari sana.
Ngomong-ngomong siapa yang nebas? perasaan Mama gak berani nebas kepala. ~Batin Thalita menerka-nerka.
Mata Thalita sudah sangat lengket, dia mengantuk akibat terlalu lama mengurusi Viona. Sekarang matahari sudah hampir naik, pukul 04.30 WIB. Bayangkan saja, anak seusia Thalita begadang sampai jam pagi? Author aja paling poll pukul setengah dua:v
Thalita masuk kedalam mobil dan tidur di kursi belakang, dia sudah terlihat seperti gadis pada umum nya karena tak ada darah di tangan nya. Wajah teduh nya membuat sesiapa pun yang melihat menjadi ikut tenang. Lisa dan Aldrick menyusul Thalita di dalam mobil, Lisa ikut terlelap di bangku belakang, sedangkan Aldrick melajukannya ke rumah sakit.
Aldrick memakirkan mobil nya lalu menepuk-nepuk Pipi Lisa agar melepas kan dekapan dari Thalita. Lisa menggeliat dan menatap manis Aldrick, wanita itu mengecup sekilas bibir dan pipi Aldrick.
Aldrick tersenyum, "Aku akan gendong Thalita." Kata Aldrick membalas ciuman Lisa di pipi kanan dan kiri.
Lisa mengangguk, mata nya masih mengantuk akibat kurang tidur dan badan yang melemas karena muntah tadi. Aldrick menggendong Thalita dengan pelan lalu berjalan menuju ruangan Sabitha.
Aldrick membuka pintu dan mendapati Sabitha, Galaksi, Selatan, Aulia dan Zefann tertidur pulas disana. Aldrick duduk di sofa sambil membiarkan Thalita tertidur di pangkuan nya. Lisa ikut duduk dan menyandarkan kepala nya di bahu Aldrick. Mereka sama-sama terlelap di alam mimpi.
*
"Sayang, bangun. Kamu gak ke kantor?" Suara lembut milik Lisa membangunkan Aldrick dari mimpi indah nya.
Aldrick tersenyum dan mengecup kening Lisa seperti kebiasaan nya. Dilihat nya Thalita masih tertidur di pangkuannya membuat Aldrick tersenyum.
"Bentaran Pa, Thalita masih ngantuk." Kata Thalita mengeratkan pelukan nya.
"Anak pintar gak boleh bolos sekolah dong?" Goda Aldrick membuat Thalita bangun dengan kesal.
Thalita turun dari gendongan Aldrick lalu mencium pipi Lisa, "Morning Mama." Sapa Thalita dengan suara imut nya.
"Morning too, princess." Kata Lisa tertawa kecil.
"Morning kiss buat Papa mana?" Kata Aldrick cemberut.
Chup.
"Morning Pa." Kata Thalita mengecup singkat pipi Aldrick.
Aldrick tersenyum dan mengangguk, Lisa mengisyaratkan kepada Thalita untuk membangunkan Galaksi dan Selatan juga. Thalita mengangguk dan berjalan mendekati si kembar yang pemalas itu.
"HOI KALIAN BANGUN!! GALAKSI!! SELATAN!!" Teriak Thalita membuat Sabitha terkejut.
"Auhhh.. Thalita!!" Teriak Sabitha sambil memegangi perutnya.
"Aduh, lupa maaf deh maaf." Kata Thalita terkekeh kecil.
"Aduh, Thalita suara kamu bikin penghuni rumah sakit bangun aja." Kesal Aulia yang ikut bangun.
"Tau tuh." Tambah Zefann.
"Lagian mereka gak bangun-bangun tante." Kesal Thalita yang melihat kembarannya tak beranjak dari tidur nya.
"Siram air sama." Ketus Aulia melanjutkan tidurnya.
Ide bagus ~Thalita Anneth.