
Zefann dan Aulia terkejut dengan perkataan Lisa. Mereka hanya berciuman dan tanpa sengaja, Zefann membuka kancing Aulia. Itu saja, hal ini wajar jika ada di negara barat. Aulia juga berfikir, bagaimana bisa? Dia dan Zefann menikah. Sedangkan Lisa dan Aldrick sudah menikah. Tak mungkin kan, jika mereka menikah?
"Me.. menikah?" Tanya Aulia terbata.
"Iya, kakak gak mau kalau kamu sampe ngelakuin hal ini diluar nikah." Kata Lisa tak ingin di bantah.
"Tapi kita tidak melakukan hal seperti yang kak Lisa pikirkan." Kilah Aulia membuat Zefann tersenyum kecut.
Zefann kecewa saat Aulia menolak menikah dengan-nya. Lisa menggelengkan kepalanya kemudian memalingkan wajahnya di luar ruangan.
"Jika saja aku tak datang, mungkin saja kalian sudah berbuat lebih. Lihat saja lehermu." Kata Lisa datar tanpa melihat Aulia.
Aulia mengambil ponsel, dia melihat lehernya dan melotot. Sejak kapan ada tanda kissmark disana? Dia menatap tajam Zefann yang sedang menatapnya dengan wajah watadosnya. Zefann berjalan mendekati Lisa dan berjongkok didepannya.
"Saya akan bertanggung jawab." Kata Zefann membuat Lisa melotot.
"Nggak, aku masih mau kuliah. Aku masih mau lanjut S2 yang masih beberapa bulan lagi." Kata Aulia menggeleng keras.
"Aulia!" Hardik Lisa dengan nada tinggi.
"Ini bukan salah Aulia kak, ini salah Zefann." Kata Zefann memegangi kedua tangan Lisa.
"Kamu bisa kuliah walau dengan status istri, Kakak gak mau kalau kamu hamil diluar nikah, bahkan saat Zefann menciummu, kamu tidak menolak." Hardik Lisa emosi.
Aulia hanya menunduk sambil meneteskan air matanya, perkataan Lisa benar, jika tadi kakak nya tidak masuk, mungkin dia akan hamil anak Zefann besok. Lisa menghela nafas sebelum berdiri dan mendekap tubuh adiknya erat, dia mencium kening adiknya kemudian menghapus air matanya.
"Bukan kakak ikut campur dalam hubungan kalian. Hanya saja, disini kakak yang masih punya tanggung jawab buat jaga kamu." Kata Lisa sambil tersenyum.
"Maafin kakak ya?" Kata Lisa lembut sambil tersenyum.
"Aulia sayang kakak." Lirih Aulia memeluk kakaknya kembali.
Pintu kamar terbuka, menampilkan Aldrick dengan tangan berdarah bersama si kembar yang datang dengan wajah senang kecuali Thalita. Thalita sendiri entah mengapa dia punya dendam tersumat kepada Aldrick. Dia menusuk tangan Aldrick lantaran dia mencoba meyakinkan jika dia adalah Papa Thalita dan Sabitha. Lisa terkejut dan menghampiri kedua anaknya.
Om ini kenapa maksa banget jadi Papa nya Thata sih? ~Thalita Anneth.
"Ada apa ini?" Tanya Lisa bingung.
"Thalita!" Hardik Lisa sedikit tinggi.
Thalita menunduk, dia melempar pisau lipatnya asal kemudian keluar dari kamar. Lisa mengusap wajahnya kasar, sikap keras kepala Mama nya menurun ke adiknya. Sungguh, cobaan berat karena menjadikan kedua bocah tersebut menjadi mafia. Sabitha hanya diam dan memberikan kotak obat ke Lisa, dia tanpa sepatah kata apapun langsung pergi menyusul kembarannya.
"Maafkan mereka," Lirih Lisa mengobati luka ditangan Aldrick.
"Tidak apa. Setelah ini, kita harus menyelamatkan anak-anakku." Lirih Aldrick meneteskan air mata.
"Jangan gegabah, Viona akan membunuh mereka jika kita berbuat seenaknya." Kata Lisa menangis sesenggukan.
Aldrick mendekap tubuh Lisa ke pelukannya, tubuhnya terasa perih karena luka tusukan di paha dan di telapak tangan. Anak-anak angkat Lisa sangat ganas. Aldrick menoleh kearah Zefann yang sedang membujuk Aulia, dia tersenyum dan mengecup kening Lisa lama.
"Aku mencintaimu." Lirih Aldrick.
__________________________
Ditempat lain, seorang wanita dengan lipstick merah tebal itu sedang berada di dapur bersama dua anak manusia yang nampak kembar identik. Dia melemparkan nasi yang ada di piring ke lantai. Dia memperlakukan dua bocah tersebut seperti hewan.
"Kalian makan ini, setelah itu bersihkan semua ruangan yang ada dimansione. Paham anak-anak?" Kata nya sambil tersenyum iblis.
"Tante jahat, sebentar lagi Mama akan datang untuk membunuh Tante Vio." Kata Galaksi dingin.
Viona tersenyum sinis, dia duduk berjongkok dihadapan Galaksi. Wanita itu mencengkram kuat rahang Galaksi. Galaksi hanya diam saat dagu nya mengeluarkan darah segar akibat kuku Viona yang panjang.
"Kau dengar ini baik-baik. Sebelum Mama mu datang, kalian berdua akan membusuk disini!" Bentak Viona menghempaskan dagu Galaksi.
Selatan hanya diam, ingin sekali dia merobek mulut sialan yang suka mengatai orang dengan mudah. Tapi, karena tubuhnya lemas akibat tidak diberi makan oleh Viona selama 2 hari. Selatan juga pasrah jika dia akan menemui tuhan hari ini juga.
"Heh, bocah bodoh. Setelah ini, kamu kasih makan buaya di belakang." Ketus Viona menendang kaki Selatan.
-Mampir ke
|•THE PERFECT BOYFRIEND •|