
Galaksi dan Selatan memeluk tubuh Thalita erat, Thalita menangis dalam diam saat mengingat kenyataan bahwa orang tuanya sudah meninggal saat ia masih kecil. Thalita merasakan suhu badan Selatan terasa panas, gadis itu mengeluarkan 4 roti dan satu obat Vitamin penambah stamina dan kekebalan tubuh. Thalita sudah menduga jika saudaranya akan sakit. Dia menghela nafas, untung saja jaket yang ia kenakan besar, sehingga dapat meletakkan roti dan pistol tanpa pengetahuan siapapun. Thalita menyelipkan 2 butir vitamin pada jaketnya untuk berjaga-jaga dan benar saja, ia membutuhkannya sekarang.
"Kita akan keluar besok malam, kalian minum ini agar besok bisa lari." Kata Thalita lirih.
"Kamu menyiapkan semuanya?" Tanya Galaksi diangguki Thalita.
"Makanlah ini, setelah itu minum obat." Kata Thalita memberikan masing masing 2 roti.
"Lalu kenapa kamu tidak makan?" Tanya Selatan saat tidak melihat Thalita memakan roti.
"Aku sudah kenyang, cukup untuk bertarung besok pagi." Kata Thalita santai sambil bersandar di dinding.
Thalita meminta Galaksi dan Selatan menceritakan pengalamannya selama disini, Selatan pun menceritakan bahwa dia disuruh membuatkan minum dan bersih-bersih di mansion sebesar ini bersama Galaksi. Thalita mengangguk dan memasukan tangannya disaku jaket, dia terkejut saat tangannya menyentuh sesuatu yang ia lupa apa isinya. Dia menerogoh dan menemukan sebotol kecil isi 5 ml berupa serbuk, dia juga menemukan secarik kertas kecil.
"Apa ini? seingatku tidak pernah membawa gula halus?" Guman Thalita membuka kertas.
Tante menyelipkan ini saat Mama mu menangis tadi malam, ini adalah obat tidur dosis tinggi. Jika Thata bisa menerobos keamanan, kamu taburkan ini pada minuman atau letakkan di lemari pendingin.
Thalita tersenyum senang, hal-hal yang tak ia duga ternyata datang begitu saja kepadanya. Thalita menyerahkan bungkusan tersebut kepada Selatan, Selatan menerimanya dengan bingung.
"Apa ini?" Tanya Selatan.
"Taburkan di minuman orang mansion, dan untuk Galaksi, kamu bantu aku karena bela dirimu bagus." Kata Thalita memberikan satu pistol.
Galaksi mengembalikan pistolnya, "Aku tidak pernah membunuh orang, gak baik." Kata Galaksi takut.
Thalita menghela nafas, "Anggap saja kita sedang bermain tembak Zombie, siapa yang mendapatkan kill paling banyak, mereka yang menang." Kata Thalita senang membuat Galaksi tepuk jidat.
"Jika Mama tau, Mama tidak akan membiarkanmu kecanduan dengan game itu Thata." Kata Selatan kesal.
"Yaudah sih, sibuk amat. Nurut kenapa," Kata Thalita dongkol.
"Kalau salah sasaran gimana?" Elak Galaksi masih kekeh.
"Membidik burung kecil sejauh 400 meter saja bisa, masa ini targetnya besar gak bisa sih?" Kesal Thalita.
"Udahlah Gal, cuma kali ini doang. Lagian bukan orang baik yang kita bunuh, mereka iblis jika dibiarkan akan merajalela." Kata Selatan membela Thalita.
"Iya, kali ini aja ya?" Kata Galaksi diangguki Thalita dan Selatan.
Ya tuhann, Galaksi mohon ampun. Galaksi takut kena Azab yang jenazahnya terbang masuk got ya tuhan!! ~Do'a Galaksi dalam hati.
Thalita terkekeh saat melihat wajah Galaksi yang sangat terpaksa, entah mengapa dia merasa sangat senang jika ada pertumpahan darah yang ia lakukan dengan tangannya sendiri, dia pernah berfikir, apa Mama kandung nya juga memiliki keanehan seperti ini? Entahlah, hanya Mama nya dan tuhan yang tau.