
Vino turun dari bandara dengan wajah sumringah, dia menginjakan kaki di Indonesia lagi setelah dulu kehilangan teman masa kecil nya. Vino berharap bisa bertemu dengan nya kembali setelah beberapa tahun silam yang memisahkan mereka karena Vino dan orang tuanya hanya menetap sementara untuk import senjata.
"Bayanganmu selalu ada." Lirih nya memberhentikan taxi.
Vino sedikit menghafal seluk beluk negara +62 ini, walau dia dulu berumur sekitar 6 tahunan. Tapi dia menghafal jalanan ini dengan menghafal keadaan bangunan yang tidak akan mudah runtuh seperti masjid, gereja, dll. Dia sedikit bingung saat jalanan disana banyak yang berubah.
"Aldrick dimana ya? aku yakin kalau dia ada sama kekasihnya." Gumam Vino menelpon Aldrick.
"Hallo, my brother!" Sapa Vino dibalas deheman oleh Aldrick.
"Hmm. Ada apa menelponku, ingin meminta uang?" Tebak Aldrick membuat Vino kesal.
"Aku tidak miskin Aldrick. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu disana. Berapa tahun kamu tidak pulang kemari?" Tanya Vino berbohong.
"Baru dua tahun, aku disini baik." Jawab Aldrick seadanya.
"Hmm baiklah, terimakasih sudah mengangkat telponku." Tukas Vino menyeringai kemudian menutup telpon sepihak.
"Aneh," Gumam Aldrick dari seberang sana.
"Ada apa?" Tanya Lisa dibalas gelengan oleh Aldrick.
Aldrick tak tau kalau Vino menelponnya cuma karena ingin melacak keberadaan nya, Vino memang pandai di dunia Hacker. Beberapa kali dia membobol keamanan perusahaan milik Aldrick hingga membuat Aldrick marah sekaligus kesal karena dia tau pelakunya adalah saudaranya sendiri. Vino tersenyum saat melihat alamat yang menunjukan keberadaan Aldrick disalah satu Cafee.
"Victoria Caffe, Sir." Sebut Vino membuat supir mengangguk paham.
Kalau Aldrick tau, bisa habis nanti aku kena semprot omelan satu hari 3 malam 4 bulan 5 tahun gak selesai. ~Batin Vino menggerutu kesal.
"Maaf, sudah sampai." Suara supir tersebut membuat lamunan Vino buyar.
"Ah, terimakasih."
Vino tersenyum lembut sambil menyerahkan beberapa uang lembar kertas warna merah dengan gambar Pak Soekarno kepada supir Taxi. Dia turun kemudian memakai kaca mata hitam sehingga tak terlihat kalau dia adalah pria asing dengan marga nama Fonata. Vino masuk kedalam caffe dan menemukan wajah saudara nya sedang tertawa dengan seorang gadis yang tak terlihat wajahnya karena posisi gadis itu membelakanginya.
"Cih, sialan. Kenapa tak terlihat juga sih, siapa gadis itu?" Gumam Vino melambaikan tangan kearah Waiters.
"Avocado Juice!"
Waiter belum sempat menyelesaikan ucapannya yang sudah tersela oleh Vino yang tak sabaran. Dia ingin berkonsentrasi dengan Aldrick dan gadis didepannya. Waiter mengangguk dan membungkukkan badannya, dia pergi untuk mengambilkan pesanan Vino.
Vino memasang baik baik telinga nya untuk mendengarkan ucapan calon saudara ipar nya dan saudara tirinya tersebut.
"Bagaimana, apa kamu mau menikah dengan saya?"
Pertanyaan yang ke 500 kali nya dilontarkan Aldrick membuat Lisa merotasikan mata malas, benerapa kali dia menolak tapi tetap sama saja. Lisa sebenarnya ragu untuk menerima hubungannya dengan Aldrick karena dia hanya menerima sedikit ketulusan yang ia dengar dari ucapannya.
"Pak, umur saya masih muda. Masih 20 tahun. Tanggung jawab saya juga banyak, demi adik dan anak saya. Lagian yah, saya sudah tau kalau bapak kelamaan menjomblo. Kalau udah kebelet nikah, bapak cari cewek yang mau diajak nikah cepat saja." Kesal Lisa membuat Aldrick menghela nafas panjang dan Vino yang ada disana terbelalak kaget.
Sebegitu cinta nya kah? astaga.. suara ini seperti suara yang aku kenal?
Vino menggeleng kepala dan menyesap jus nya perlahan. Aldrick nampak sedikut frustasi. Dia memegang kedua tangan Lisa dan Lisa yang menatap Aldrick dalam.
"Saya cuma mau kamu jadi pendamping hidup saya. Saya bersungguh-sungguh mencintai kamu. Saya janji bakal bahagia'in kamu, anak anak kamu dan anak kita kelak. Kamu mau kan, menjadi satu satunya wanita yang mendampingi saya hingga menua?" Rayu Aldrick membuat Lisa tak bisa berkutik.
Cih bucin! ~Sebal Vino mencebikkan bibirnya.
Huffffttt.. bagaimana pun juga gue cewek lemah yang gak tahan sama mulut manis. ~Batin Lisa sambil tersenyum kearah Aldrick.
Lisa mengangguk ragu membuat Aldrick senang dan langsung memeluknya, Aldrick merasakan getaran aneh dihatinya saat selalu dekat dengan gadis didepannya. Dia juga mendengar detak jantung Lisa yang berpacu sangat kencang.
Debaran aneh ini selalu datang jika berdua dengan Lisa, apa aku benar benar tertarik dengannya? atau hanya sebuah rasa bersalah? atau hanya mengaguminya? Aku benar benar bisa Gila!~Batin Aldrick berkecamuk.
Lisa ikut tersenyum, dia memeluk erat tubuh Aldrick yang tak melepaskan dekapannya. Sesaat kemudian Aldrick merenggangkan pelukannya dan menatap Lisa.
"Pernikahan kita akan dilaksanakan 5 hari lagi." Finish Aldrick membuat Lisa melotot.
"Tidak, 1 tahun lagi. Beri saya waktu!" Bantah Lisa membuat Aldrick menghela nafas kasar.