MY LOVE For MAFIA

MY LOVE For MAFIA
AJAIB



Thalita kembali duduk dengan nyaman, dia mengepal tangannya kuat, Aldrick yang ada di sana hanya bisa mengelus rambut Thalita. Galaksi dan Selatan tidak mau lepas kepada Aldrick, mereka nampak lebih menempel pada Aldrick daripada dengan Lisa.


"Kita jenguk adik ya?" Kata Aldrick lembut kepada Thalita.


Thalita hanya diam dan berdiri dari duduk nya, dia menggandeng tangan Lisa untuk masuk ke dalam ruangan Sabitha. Semua orang sedang masuk ke sana, dilihat nya Sabitha dengan muka pucat sedang berbaring dan memejamkan mata. Lisa, Aldrick dan yang lain hanya bisa menangis dan berdoa.


"Nak, jangan bikin Mama takut. Sabitha bangun ya?" Kata Lisa lirih sambil menggenggam tangan Sabitha.


"Papa akan ada selalu disamping Sabitha, kamu cepat sembuh. Saudaramu sudah ada lagi disampingmu." Kata Aldrick mencium kening Sabitha.


Air mata Lisa dan Aldrick kompak menetes mengenai pipi Sabitha. Ajaib tapi benar ada nya, jari-jari tangan Sabita bergerak perlahan. Lisa dan Aldrick melongo kemudian menghapus air mata nya.


"Sabitha dengar ucapan kita." Kata Aldrick senang kemudian menekan-nekan tombol merah yang ada di samping brankar.


Krieeet..


Dokter masuk dan langsung memeriksa Sabitha. Dia tersenyum menatap Lisa sekeluarga, semua orang yang ada di sana langsung mengusap dada lega.


"Pasien telah melewati masa kritis nya, hanya tinggal menunggu dia sadar." Kata Dokter tersenyum kemudian pergi.


"Terimakasih dok." Kata Lisa diangguki dokter.


"Ma..ma, Pa.. .. pa?" Bibir Sabitha bergerak dan berujar lirih, sangat kecil hingga hampir tak dengar suaranya.


Lisa dan Aldrick menangis bahagia dan memeluk Sabitha erat, Sabitha tersenyum kecil dan menutup mata nya karena lampu ruangan membuat mata nya silau. Aulia yang melihat mata Sabitha menutup pun menjadi panik.


"Hei, dia masih sakit!! Lepaskan!" Pekik Aulia membuat Lisa terkejut.


"Sabitha, Shasa.. kamu kenapa nak?" Kata Aldrick menepuk pelan pipi Sabitha.


"Haus." Kata nya pelan.


Aldrick membuka botol minum dan memberi nya sedotan agar Sabitha bisa minum tanpa kesusahan. Sabitha menggapai sedotan tersebut dan meneguknya hingga tandas. Thalita, Galaksi, dan Selatan duduk di samping Sabitha dan memeluk saudarinya erat.


"Jangan membuat kami khawatir." Kata mereka serempak.


Lisa, Aldrick, Aulia dan Zefann tersenyum menanggapi keempat bocah itu yang terlihat sangat akur. Zefann menoleh ke Aulia dengan senyum menyeringai.


"Jadi pengen punya anak." Kata Zefann berbisik membuat Aulia melotot.


"Jangan macam-macam!" Ketus Aulia membuat Zefann terkekeh.


"Iya bu dokter." Kata Zefann sambil pose hormat.


Sekedar info, sekarang Aulia adalah mahasiswi lulusan kedokteran, dia bekerja di salah satu rumah sakit yang dulu Papa nya ikut memberikan donasi disana. Untuk pertanyaan, mengapa Aulia tidak mengobati Sabitha? dia masih takut untuk mengambil peluru itu.


Sabitha menginap di rumah sakit dengan waktu yang di tentukan dokter, Lisa teringat janji nya, dia mengecup pipi Aldrick dan anak anaknya.


Aldrick mengangguk, "Jangan tinggalkan jejak." Bisik Aldrick yang tau kemana arah Lisa akan pergi.


"Iya." Balas Lisa sambil tersenyum.


Aulia dan Zefann tersenyum kearah Lisa dan dibalas senyuman manis juga oleh Lisa. Saat dia akan membuka pintu, suara Thalita membuatnya berhenti mendadak.


"Mama ikut!" Pekik Thalita berlari kearah Mama nya.


"Eh, jangan. Cuma sebentar kok." Kata Lisa kebingungan.


"Mama, Thalita juga ingin ikut andil pada wanita itu." Kata Thalita membuat Galaksi dan Selatan bergedik ngeri.


"Bukan saudariku." Kata mereka serempak sambil membuang muka.


"Dih, nyinyir aja kalian. Iri bilang boss." Kesal Thalita membuat Aldrick tertawa.


Anak angkat ku memang benar-benar unik ~ Batin Aldrick tertawa.


Lisa menunduk dan mengamati manik mata Thalita dengan dalam, terkadang tatapan itu terlihat seperti tatapan Papa nya yang tajam, terkadang juga teduh namin menghanyutkan milik Mama nya. Disana, Lisa melihat jika manik mata Mama nya yang hadir di dalam tubuh Thalita.


"Baiklah, tapi Mama tidak ingin Thalita kecanduan." Kata Lisa diangguki Thalita.


Hihihihi.. seperti zombie hunter, aku suka darah, itu manis. ~Batin Thalita senang.


Lisa menggandeng Thalita menuju mobil, sepanjang perjalanan melalui lorong, Thalita tak henti-hentinya tersenyum membuat Lisa menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah bocah yang satu itu.


"Sebegitu senang nya kamu dengan darah?" Tanya Lisa saat sudah di mobil.


Thalita mengangguk, "Rasanya manis." Gumam Thalita senang.


"Jangan lakukan ini pada temanmu oke?" Kata Lisa diangguki Thalita.


"Ma, apa Papa juga sama seperti kita?" Tanya Thalita yang penasaran dengan sesosok Aldrick.


"Tunggu dulu, Thata panggil apa tadi?" Tanya Lisa tak percaya jika Thata sudah menerima Aldrick sebagai Papa nya.


"Papa, ada yang salah?" Tanya Thalita dibalas gelengan Lisa.


"Papa lebih menakutkan dari kita, kalau Thalita berkunjung di negara asal Papa pasti suka. Disana banyak buaya, banyak pistol, banyak pisau, dan banyak darah." Gumam Lisa pelan.


"Ayo kita kesana!" Semangat Thalita menatap serius Lisa.


"Apa?!"