
-Masih Flashback ya..
Sepeninggalan Arsen dan Lisa, Mafioso yang tersisa langsung menelpon Zefann dan orang-orang yang ada di mansion, setelah itu ia membawa Aldrick menuju rumah sakit agar segera ditangani. Jione mulai panik dan segera memperketat penjagaan di perbatasan dan rumah sakit yang ada di markas. Dilain tempat, Lisa mengepalkan tangannya saat mendengar kabar jika Aldrick belum mati sepenuhnya.
"Dia belum mati." Datar Lisa mengusap kasar wajahnya.
"Lalu?" Tanya Arsen membuat Lisa menatapnya tajam.
"Sekolah berapa lama? kok gak pinter-pinter?" Kesal Lisa.
"Dih, kayak kamu pinter aja." Ketus Arsen.
"Kalau aku bodoh, gak mungkin kamu bisa menembak Aldrick seperti tadi." Balas Lisa tak kalah ketus.
"Oke oke kamu pintar, jadi rencana nya gimana?" Tanya Arsen pasrah.
Lisa memberitahukan strategi yang telah ia susun jika hal ini memang benar terjadi, dan sesuai dugaannya, akhirnya rencana ini dapat berguna. Arsen mengangguk menyetujui permintaan Lisa. Pria itu tak begitu yakin dengan perasaan Lisa yang masih menyayangi Aldrick walau sudah membunuh kedua orang tuanya. Lisa mengajak Arsen untuk berangkat setelah berganti baju dengan pakaian rumah sakit.
"Kamu pintar juga." Puji Arsen yang hanya dilirik Lisa.
"Haisss.. mulai sudah dinginnya." Kesal Arsen memalingkan wajah.
Lisa menggedikan bahu acuh sebelum mencium kedua pipi si kembar dan Aulia yang sedang tertidur di samping si kembar yang tampak lucu. Lisa berangkat bersama Arsen menuju rumah sakit.
Tak ada obrolan menarik diantara mereka, Lisa sedang sibuk dengan alat alat yang ada di tas kecilnya. Sedangkan Arsen sibuk menyetir. Satu jam, 25 menit, 4 detik berkendara, mobil yang ditumpangi Arsen dan Lisa sampai.
Lisa turun dari mobil kemudian masuk dan berbelok arah menuju lorong kamar mayat yang terhubung dengan kamar VIP. Sedangkan Arsen mengelabuhi para penjaga agar keluar dari rumah sakit. Lisa menghela nafas saat ia lupa jalur yang telah dia hafalkan. Dia beberapa kali mengusap tengkuknya yang merinding akibat melalui kamar mayat.
"Dih, yakali gue takut sama setan. Gak banget!" Kesal Lisa membuka pintu pembatas.
"Eh,"
"Perawat kok takut, tapi siapa ya? yaudah deh aku lanjut tidur aja." Gumam pak satpam kembali tidur dan menutupi semua badannya dengan kain putih.
"Gilaa.. tuh mayat idup lagi atau gimana?" Takut Lisa memegang dadanya.
Deg
Pria berwajah putih yang terlihat pucat terbaring di brankar rumah sakit, Lisa meneteskan air mata dan berjalan mendekati Aldrick. Gadis itu mengeluarkan pisau dan mengarahkannya kepada Aldrick.
"Nyawa kan ku balas nyawa.. Maafkan aku." Dingin Lisa.
Jlebb
Lisa menusukan pisau ke perut Aldrick kemudian mencabutnya dan pergi dari sana melalui jalur yang sama. Kini dia tak takut dengan setan dan sejenisnya karena dia di selimuti rasa bersalah akibat menusuk Aldrick dan membuat pria itu diambang kematian yang dekat.
Lisa menangis dan berlari kemudian masuk kemobil mendapati Arsen dengan wajah penuh darah dan baju lengan yang sobek. Lisa mendorong Arsen dan mengambil alih kemudi, ia menjalankan mobilnya kencang kembali ke mansion dan tak henti hentinya meminta maaf dalam hati.
"Maafkan aku.. maaf, maaf, maaf, sayang.. kamu kehilangan ayahmu karena Mama." Lirih Lisa dalam hati sambil mengusap perutnya yang membuncit.
Sejak kejadian ini, Aldrick koma selama 2 bulan dan sangat lemah akibat perbuatan Lisa. Namun, tuhan masih memberkatinya tetap hidup.
*
Aku minta maaf kepada semua orang yang baca cerita ku karena sering telat up dan gak up. Akhir-akhir ini darahku sering turun akibat sering begadang. Jadi mohon maaf yang banyak..
Yang mau bertanya tentang saya ataupun yang lain silahkan tanya di kolom komentar.. saya akan menjawab nya secara langsung.. dan jangan lupa mampir di
THE PERFECT BOYFRIEND♥