MY LOVE For MAFIA

MY LOVE For MAFIA
MATI



Thalita mengayun-ayunkan kaki nya sambil menunggu pesanan nya datang. Lisa kembali sambil membawa nampan milik Thalita dan sekantung plastik besar berisi es dan jeruk nipis. Lisa meletakkan semua itu di depan Thalita.


"Silahkan tuan putri, ini sate nya." Kata Lisa dongkol membuat Aldrick tertawa.


"Hahaha, itu anak kamu loh." Kata Aldrick.


"Ngeselin, udah sini Mama racikkin bumbu nya." Ketus Lisa sambil mengaduk kecap dengan bawang dan cabai.


"Rasanya enak nggak Ma?" Tanya Thalita mengendus bau sate nya.


"Thalita! Jangan bikin Mama hipertensi!!" Teriak Lisa kesal.


"Ye Mama, Thalita kan penasaran." Kesal Thalita mengambil air untuk ia siramkan ke Viona.


"Woy stop! Itu tugas Mama." Kata Lisa merampas ember berisi air es.


Aldrick menggelengkan kepala melihat tingkah posesif Lisa yang iri kepada Thalita. Sedangkan Thalita menghentak-hentakkan kaki nya di lantai dan memilih duduk di samping Aldrick.


"Mau nya apa sih? Tadi katanya tugas Mama racik bumbu, sekarang Thalita mau main air tugas nya juga." Gerutu Thalita membuat Aldrick gemas.


"Thalita ngalah bentar ya, sama Mama. Mama cuma pengen main doang." Kata Aldrick diangguki Thalita.


*


Lisa menyeringai, dia menyiram air dingin itu ke tubuh Viona. Wanita yang terbius itu reflek membuka mata nya karena kedinginan. Dia mendongak kesal dan mendapati Lisa dengan wajah sangar nya. Nyali Viona menciut saat melihat tatapan tajam dari Thalita yang berada jauh di belakang Lisa. Sedangkan Lisa tersenyum miring saat melihat ketakutan Viona.


"Katanya gak takut siapa pun, Hem?" Kata Lisa menggoda Viona.


"Diem lo jal*ng!" Sinis Viona.


"Dih, gak ada kaca ya dirumah lo? Sekarang gue tanya, siapa yang jal*ang? siapa yang bayar organisasi itu pake tubuh lo? Cih, kalau gue sih malu ya." Sinis Lisa menghempaskan kepala Viona.


"Gue bakal buat lo mengemis kematian sama gue." Bisik Lisa pelan.


"Jangan mimpi bisa bunuh gue." Kata Viona kekeh dengan pendiriannya.


"Yosh, tentu bisa." Kata Lisa kemudian menyayat tangan Viona.


"Lepaskan saja sayang, gue bakal seneng kalau lo minta kematian itu sekarang." Kata Lisa meneruskan kegiatannya.


Srettt... Srettt.. Srettt...


Lisa menggores-gores tangan Viona kanan dan kiri. Dia meneteskan jeruk nipis di atasnya membuat rasa perih itu tak bisa di tahan Viona.


"Akhhhh!! Hentikan!! Bunuh aja gue!!" Teriak Viona sambil menangis.


"Hahaha! Lagi Mama! Seru!!" Teriak Thalita kegirangan sambil bertepuk tangan.


Aldrick menatap bingung gadis di samping nya. Dia menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. Thalita benar-benar psikopat kecil.


Ada yang tidak beres dengan kepribadian gadis ini. ~Batin Aldrick.


"Sesuai perintah tuan putri kecilku, aku akan membuatmu mengingat dua nama." Kata Lisa dingin.


"Jangan lagi, gue minta maaf, gue salah, bunuh aja gue biar ketemu sama orang tua lo." Kata Viona sesenggukan.


"Jangan mimpi!" Dingin Lisa.


Lisa menuliskan dua nama, yang pertama L dan E yang berarti Liah dan Elang. Yang kedua adalah B2LS yang berarti Black Lion dan Black Swan. Dia tersenyum iblis saat melihat Viona yang melemas akibat kehabisan darah. Aldrick hanya diam menonton, seperti nya dia ketinggalan beberapa episode dan melewatkan kejadian saat Lisa berubah menjadi iblis tak tersentuh. Thalita merotasikan mata malas, dia berjalan mendekati katana Mama nya dan membawanya mendekat kearah Viona.


Tubuh nya menggeliat, sorot mata tajam dan semburat warna ungu terdapat di netra teduh itu. Perpaduan mata Elang dan Liah hadir di dalam diri Thalita.


Dengan langkah pasti dan wajah yang dingin polos, Thalita menyenggol tubuh Lisa dan dalam secepat kilat katana itu menghempas kepala Viona.


Srangg!! Brukk!


Lisa dan Aldrick menutup mulut tak percaya, Lisa langsung berlari untuk memuntahkan isi perutnya yang terasa mual saat melihat hal itu. Aldrick bahkan tersedak air liur saat Thalita melakukan hal gila itu.


Ueeeekkk.. Ueeeeekkkk ..


Suara muntahan Lisa terdengar, Aldrick memijit tengkuk Lisa agar mendingan. Thalita tersenyum sinis sebelum menginjak dada Viona. Darah kembali muncrat seperti air mengalir saat Dada Viona di tekan.


"Setimpal, nyawa dibalas nyawa. Aku Merliah, aku membalaskan dendam Mama dan Papa ku," Dingin Thalita membanting katanya asal.