
Thalita memegangi kepalanya yang sedikit pusing karena menghirup udara yang ada di kamar mandi, bau anyir darah dan efek dari obat tidur itu membuat nya sedikit pusing. Thalita duduk di pinggiran bathup dan membilas wajahnya beberapa kali, setelah efek obat tidur nya sedikit berkurang, dia keluar dan mengunci pintunya dari luar.
"Mending dikunci aja, gak mungkin kalau Thata mindahin mereka semua. Bisa patah nih tangan." Kata Thalita pelan sambil menggelengkan kepala.
Thalita berjalan menuju ruang utama, disana ada Selatan yang masih sibuk membuatkan minuman, Thalita menengok kanan dan kiri kemudian berlari menghampiri saudaranya.
"Masih lama tidak?" Tanya Thalita pelan.
"Sebentar lagi selesai," Kata Selatan masih berkutat dengan minuman yang telah ia campur dengan obat tidur.
Thalita menoleh ke jam dinding, suara adzan maghrib terdengar dari samping mansion. Dia menghela nafas, masih cerah untuk melakukan pembunuhan. Dia menepuk punggung Selatan membuat anak kecil itu terkejut.
"Apa?!" Tanya Selatan kesal.
"Ulur waktu sekitar 2 jam, kita akan langsung bergerak." Bisik Thalita diangguki Selatan.
"Itu lama sekali, aku gak menjamin." Kata Selatan.
"Satu jam setengah!" Kesal Thalita diangguki Selatan.
Thalita duduk sambil mengayun-ayunkan kaki nya, dia melirik sana sini dan menggelengkan kepala saat para penjaga membawa senjata kembali. Thalita mengangguk kecil saat dia tau, para penjaga hanya membawa senjata dimalam hari. Thalita berdiri, dia menghafal sudut sudut ruangan, saat menemukan satu lorong, gadis itu masuk dan mendapati ada lemari besar disana. Thalita membuka nya, gadis ini bukan gadis bodoh, pengheliatannya sangat teliti, ada sebuah tali untuk menarik bagian lemari itu.
"Ruang Rahasia ternyata," Gumam Thalita menarik tali itu.
"Eh? semacam lift?" Kata Thalita lagi.
"Tak apa lah, menghemat tenaga." Kata Thalita masuk kesana.
Thalita masuk kesana dan tidak mendapati ada tombol untuk pemilihan lantai dasar atau lantai atas, dia mendengus kesal saat ini, lift nya bergoyang tapi Thalita masih sibuk mencari tombol.
Srertttttt.. Ting ..
Thalita terkejut saat pintu lift kembali terbuka, dia menepuk jidatnya sendiri sambil bergumam datar.
"Kenapa tidak bilang kalau ini lift otomatis, seharusnya ada tulisannya biar aku tidak bingung." Kesal Thalita datar.
"Tok tok tok, permisi numpang lewat." Kata Thalita terkekeh saat menirukan suara mengetuk pintu.
"Yang ini aja kali ya?" Kata Thalita membuka salah satu ruangan.
Klek.. Klek.. Klekk.
"Haiss, terkunci." Kesal Thalita berjalan menuju ruangan satunya.
Ceklek..
"Kosong?" Kata Thalita bingung, hanya ada ruangan kosong dan seperti tempat latihan.
Thalita menutup nya kembali, dia berjalan menuju ruangan terakhir. Saat ia buka, dia tertawa senang saat mendapati banyak senjata dari yang paling mematikan sampai yang standart. Dia bahkan lompat-lompat sambil bertepuk tangan karena saking senangnya.
"Tuhan terimakasih." Kata Thalita mengambil salah satu pistol kecil yang tak terlalu berat.
"Ini dipompa dulu atau gimana?" Kata Thalita bingung.
"Jangan yang ini deh, yang ini aja." Kata Thalita mengembalikannya ke tempat semula.
Thalita melihat isi pelurunya terlebih dahulu, dia tersenyum saat melihat pelurunya masih utuh dan penuh. Dia mencoba menembakkannya ke dinding dan masih bisa digunakan.
Dor
Thalita tertawa senang, dia memasukan 2 pistol lagi dan beberapa peluru untuk berjaga-jaga jika pelurunya habis ditengah jalan.
Dia memegang chipnya untuk berkomunukasi dengan Mamanya.
Mama, Thalita menemukan ruang senjata, setelah ini dalam waktu 20 menit, para penjaga akan pingsan. Tunggu Thalita di belakang mansion. ~Kata Thalita di chip.
Hati-hati ~Balas mereka serempak.