
"What??" Pekik Lisa agak keras membuat Aldrick membungkam mulut Lisa dengan tangannya.
Lisa meronta karena tak bisa bernafas, sedangkan Aldrick tersenyum kikuk kearah pengunjung lain yang sedikit terganggu. Karena akan pingsan, Lisa menggigit telapak tangan Aldrick membuat Aldrick melepaskannya dan meringis kesakitan.
"Ughh... Oh God, my hand!" Pekik Aldrick mengibas ngibaskan tangannya membuat Lisa menatap nya kesal sambil mengatur nafasnya hanya tersenggal.
"Gila, bapak ingin membunuh ku!" Cerca Lisa memegangi dadanya yang masih naik turun mengambil banyak pasokan oksigen.
"Kamu yang apa apaan berteriak seperti orang gila!" Kesal Aldrick membuat Lisa melotot.
"Bapak yang gila menanyakan hal seperti tadi di tempat umum seperti ini." Kesal Lisa membuat Aldrick menatapnya sambil terkekeh kecil.
"Saya tidak bercanda, apa kamu mau menikah dengan saya?" Tanya Aldrick sekali lagi makin membuat Lisa terkejut.
"Saya bilangin sama bapak ya, jantung saya cuma satu, ginjal saya cuma satu (pasang), terus saya punya riwayat paru-paru. Pokoknya gak deh, mata saya juga katarak, jadi kalau dijual kagak ada yang mau!" Ucap Lisa membantah dengan mengatakan kata 'pasang' dengan pelan.
Semoga penyakit yang gue sebutin gak terkontaminasi beneran tuhan.
Sedangkan Aldrick tertawa terbahak bahak saat paham arah pembicaraan Lisa yang mengiranya mengajak menikah untuk ia jual organ organ nya hingga ia menyebutkan penyakit yang bukan ia derita. Lisa menggerutu kesal sambil memberikan susu ke arah Aldrick seolah meminta bantuan untuk memberikannya kepada Thalita.
Aldrick tak henti hentinya tertawa membuat Lisa kesal, sesaat kemudian makanan yang ia pesan datang. Berhubung susu milik Sabitha sudah habis, dia langsung menyambar sendok dan memakannya dengan lahap membuat Aldrick menggelengkan kepala.
"Kamu ini anak orang kaya tapi kalau makan seperti orang belum makan 2 hari." Cibir Aldrick membuat Lisa menatap nya tajam.
"Kalau gasuka yaudah, asal bapak tau aja, saya belum makan dari tadi pagi!" Kesal Lisa membuat Aldrick terkekeh kecil.
"Terimakasih." Singkat Lisa kemudian membenarkan cara makannya seperti biasanya.
Aldrick tersenyum kemudian mengangguk, ia memakan makanannya dengan bermain ponsel, oh tidak. Bukan bermain ponsel, namun ia mengambil foto Lisa, Thalitha dan Sabitha secara diam diam.
Air muka Aldrick berubah menjadi dingin saat mendapat info dari bawahannya kalau mereka menemukan mata mata yang dikirim Qi Wo Jione ke mansion nya saat ini untuk memantau nya dan mencari tau siapa kekasih yang dimaksud Zefann tadi. Lisa menoleh sekilas Aldrick dengan bingung.
"Pak ada apa? mikir utang yang gak lunas lunas ya?" Tuduh Lisa membuat Aldrick mengerutkan dahi.
"Utang? What's Utang?" Tanya Aldrick tak paham dengan bahasa Indonesia yang satu ini.
"Haisss.. salah server gua!" Ucap Lisa datar kemudian mengacuhkan pertanyaan Aldrick.
"Lisa, bawalah kedua anakmu saat bekerja!" Pinta Aldrick lagi lagi membuat Lisa menatap nya tajam.
"Saya tidak ingin mereka ada diruangan AC terlalu lama!" Tolak Lisa tak enak hati.
"Saya akan mematikan AC nya." Ujar Aldrick lagi membuat Lisa terpaksa mengangguk.
Aldrick menyelesaikan makannya kemudian berdiri dari duduknya membuat Lisa mengerutkan dahi.
"Saya ada urusan, saya pamit duluan ya?" Pamit Aldrick mencium pipi Thalita dan Sabitha membuat Lisa benar bebar tercengang.