
Lisa duduk di batu karang sambil menunggu Aldrick selesai menyalami para tamu nya. Lisa memejamkan mata nya dan teringat mendiang Mama dan Papa nya. Air matanya luruh jatuh membasahi pipi mulusnya membuat Aldrick yang baru datang pun terkejut.
"Hei, kenapa kamu?" Tanya Aldrick mendekap tubuh Lisa.
"Hiksss.. aku nggak mau durhaka sama Mama dan Papa mertua Kak." Lirih Lisa.
"Tenang oke, Mama dan Papa tidak datang karena ada urusan. Jangan pikirkan ucapan Mama kemarin malam." Ujar Aldrick diangguki Lisa.
"Mau pulang?" Tawar Aldrick diangguki Lisa.
Flashback On Jione-
Qi Wo Jione mendapat kabar dari Vino jika Aldrick kembali ke negara asal nya dan membawa anak gadis kembali bersamanya. Qi Wo Jione pun langsung menyusul Aldrick ke hotel dan masuk tanpa permisi karena betulan kamar Lisa tak terkunci.
"Jadi ini calon menantuku?" Sinis Jione.
"Anda si-apa?" Tanya Lisa sedikit kesusahan berbicara bahasa Jepang.
"Tentu saja aku Mama dari Aldrick Barrack Fonata." Ketus Jione.
"Lumayan cantik, tapi apa kemampuanmu? Aldrick akan aku jodoh kan dengan gadis anak sahabatku yang bernama Mauren, dia cantik, dia mandiri, jago beladiri, dan kuat tanpa menangis." Sinis Jione sambil melirik Lisa yang meneteskan air mata.
"Lalu dirimu? Gadis lemah yang hanya bisa menangis. Aldrick sangat bodoh karena memilihmu sebagai calon istri. Aldrick memberikan segalanya untukmu, dan kamu? apa yang akan kamu berikan untuk Aldrick? dan apa alasanmu menerima putraku? apa karena uang?" Pertanyaan bertubi-tubi membuat Lisa menghela nafasnya sambil mengusap air mata yang tak mau berhenti turun tersebut.
"Saya memang gadis biasa, saya tak punya uang, tak punya har-ta, tak punya kedua orang tua lagi. Dan, jika anda beranggapan kalau saya menerima putra anda hanya ka-rena uang, itu salah besar nyonya. Saya memang gadis biasa yang menyukai uang, dan saya mungkin tak bisa memberikan apapun untuk putra anda. Tapi percayalah jika rasa sayang dan cinta saya hanya untuk putra anda." Ujar Lisa tegas dengan logat bicaranya yang sedikit berbeda.
"Mama! Apa yang Mama lakukan disini?" Jione menoleh kebelakang dan mengulas senyum membuat Aldrick bingung.
"Pilihanmu sangat aneh." Ejek Jione langsung pergi.
Aldrick hanya menatap sinis kepergian Mama nya tersebut, dia kembali menoleh kearah Lisa yang tersenyum kearahnya dengan mata yang sembab dan basah seperti habis menangis. Aldrick menghela nafas sebelum membawa Lisa kedekapannya. Lisa meneteskan kembali air matanya di pelukan Aldrick.
"Mauren? apa Mama memberitahukan sesuatu denganmu?" Tanya Aldrick dingin.
Lisa menggeleng, "Aku hanya takut." Lirih Lisa membuat Aldrick menghela nafas lega.
"Percayalah jika kamu adalah yang pertama dan terakhir untukku Lisa." Ujar Aldrick diangguki Lisa.
Flashback Off Jione-
Lisa membalas genggaman tangan Aldrick, dia tersenyum lega karena telah dipertemukan dengan pria yang benar benar mencintainya dengan tulus. Dia pulang ke kediaman Hawasaki utama. Sedangkan Aulia, gadis itu masih sibuk bermain dengan Lilulu dimobil. Aldrick tersenyum dan mengusap-usap tangan Lisa lembut.
"Emm.. kak!" Panggil Lisa pelan sambil menunduk.
Aldrick menoleh, "Apa?" Tanya Aldrick.
"Ti.. tidak jadi, lanjutkan saja menyetirnya." Ujar Lisa gugup.
Aldrick menyeringai, ia tau persis apa yang ada di pikiran Lisa saat ini. Dia menoleh dan mendapati pipi Lisa yang memerah karena malu.
"Kamu mau anak berapa?" Tanya Aldrick mewakili Lisa membuat gadis itu tersedak air liurnya sendiri.
"Uhuk!! Uhuk!!! Kakak tanya apaan sih? Uhuk!!" Kesal Lisa memukul mukul dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa? bukannya itu yang ingin kamu tanyakan sayang?" Goda Aldrick lagi membuat Lisa kesal.
"Haisss.. suka banget deh. Yaudah deh, mau anak berapa?" Tanya Lisa malu.
"20 boleh, biar rame dan bisa buat team sepak bola sendiri." Ujar Aldrick enteng.
"What??!! dikira aku induk kuching apa?!" Pekik Lisa keras membuat Aldrick menutup telinga nya.