
Hawa senja yang mendung tak menyurutkan semangat Lily untuk terus berlari mencari Ipen di pantai.
Matanya tak lepas dari setiap sudut dan celah. Dia terus mencarinya di setiap tempat. Dan akhirnya sepasang mata bulat itu menangkap sosok pria yang di carinya sejauh ini. Pria itu duduk menekuk lututnya di pasir putih sambil menatap ke arah laut. Lily terus memperhatikannya setiap detail apa yang pria itu lakukan. Lily juga terus memperhatikan setiap detail lekuk wajah pria tampan dan gagah itu dari kejauhan sambil senyum-senyum malu sendiri. Lily benar-benar menikmatinya dari kejauhan dan tak ingin memalingkan pandangannya walau sekejap saja.
'Akhirnya aku bisa melihat pria yang selama ini aku rindukan. Betapa tampannya dia , hidungnya, matanya, alisnya, tubuhnya, aaahh yaa ampun Lily apa yang kau pikirkan'. Ucap Lily dalam hati dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Aku sudah sampai sejauh ini. Aku malu jika harus menghampirinya. apa yang harus ku lakukan ? lebih baik aku pulang sajalah ,, kurasa sudah cukup menatapnya dari kejauhan. Aku terlalu malu menghampirinya. Sepertinya suasana hatinya sedang tidak bagus aku takut kedatanganku malah membuatnya semakin buruk'. Lanjut Lily dalam hati.
Kemudian Lily melangkahkan kaki menjauh dari sana. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat hati-hati . Lily membuka payungnya dan teringat bahwa ini payung dari ibu Ipen , teringat lagi bahwa pria galau di depan laut itu tadi pasti tidak membawa payung. Selanjutnya Lily berlari ketempat Ipen duduk.
'huft' bernafas lega ' masih ada' gumamnya ketika melihat pria itu masih duduk menunduk sendiri.
Kemudian dengan perlahan Lily menghampirinya dan menutupinya dengan payung. Pria itupun mengangkat wajahnya dan menatapnya dengan sangat dalam.
"Hai.. Ipen" Lily tersenyum.
Ipen masih tercengang , perlahan berdiri dan masih terus menatap dalam pada gadis yang tersenyum itu.
Slepp..
Ipen memeluknya.
"Aku merindukanmu duhai gadis yang tak ku ketahui namanya." Bisik ipen sambil memeluknya erat.
"Aku juga sama. aku sangat merindukanmu. namaku Lily. Mulai sekarang kau bisa menyebut namaku di kala merindukanku."
Mereka tenggelam dalam rasa rindu, satu payung dan saling berpelukan di tengah hujan..
*******
Tok tok tok tok..
"Ipen pulang bu"
" Loh kalian kok basah semua ? Maafin ibu ya tadi cuma bawain satu payung buat kalian. gak muat ya payungnya ??" Ibu Ipen tersenyum nakal.
" Tidak apa apa bu." Jawab Lily.
" Apanya yang tidak apa-apa cobak ? kamu kebasahan gitu, nanti kamu masuk angin apalagi rumahmu jauh di sebrang sana." Ucap Ipen.
"Sudah sudah jangan ribut. Neng pakai baju p unya Ibu saja ya ? daripada masuk angin Neng. ngomong ngomong nama eneng siapa ?"
" Namaku Lily bu." Senyum terpancar dari wajah gadis itu.
" Nama yang bagus. Yuk mari Lily ikut ibu ganti baju di kamar Ibu."
Setelah semuanya membersihkan badan, Ibu Ipen mengajak Lily dan Ipen makan bersama di meja makan.
Ipen tersenyum geli melihat Lily berpakaian kuno milik Ibunya. meskipun begitu kecantikannya masih sangat terpancar secara alami.
" Yaaahh jangan di ketawain lah." Ucap Lily sambil menekuk wajahnya.
" Iya iya.. aku gak ketawa. Ayo sini kita makan malam..! " ajak Ipen kepada Lily
" Bapak di mana bu ?" tanya lily penasaran karena dari tadi tak melihat ayah ipen.
" Oh bapak lagi ngirim ikan kepasar, mungkin habis gini datang. Lily menginap di sini yaa . . Ini sudah malam dan hujannya juga belum berhenti." ucap ibu ipen.
" Tapi Bu??.." terputus
"Sudah gak usah tapi-tapian. Kamu harus nginep sini demi keselamatanmu." Ipen menatap Lily . " Malam ini aku juga ingin tidur di sini Bu..! demi keselamatanku juga masak hujan-hujan mau ketengah laut" Ujar Ipen sambil tersenyum nakal.
" Yaudah nanti neng Lily tidur di kamar Ipen. Biar Ipen tidur di luar." Perintah Ibu Ipen.
BERSAMBUNG....