
**Gaun sutra berwarna putih kini melekat erat di tubuhku.
Bunga-bunga merangkai indah di atas mahkotaku.
Ku tatap cermin tapi tak ada bayanganku di cermin itu.
Ikatan suci yang tak ku rindukan kini akan membelengguku.
Janji suci yang ku harap dapat mengucapkan dengan orang yang ku cintai, kini lenyap tak berarti.
Separuh jiwaku telah pergi bersama angin yang membawa duri..
Separuh hatiku telah bernanah, tersayat luka yang tiada henti.
Separuh jantungku telah tak berdetak lagi.
Separuh hidupku telah mati.
Aku harus tertatih menjalani hidup ini dengan sisa separuh nafas yang ku miliki.
Hilang sudah semua harapanku di kehidupan ini.
White Lily**
Lily sudah berhias dan bergaun pengantin. Wajah polos itu benar-benar terlihat sangat mempesona meski tak ada senyum di bibirnya.
Tatapannya penuh kekosongan, kesedihan sangat terpancar dari wajahnya meski tak ada air mata yang menetes lagi.
" Lily.." Suara gadis memecah lamunan Lily yang tak lain adalah suara Mona sahabatnya.
Lily menoleh ke arah gadis yang baru saja masuk ke kamarnya itu.
Sleppp
Mona memeluk Lily dengan penuh linangan air mata. Dia benar-benar tak menyangka sahabatnya akan menikah dengan orang yang akan menjadi ayah mertuanya, Ayah Leon.
"Lily bagaimana semua ini bisa terjadi seperti ini?. Katanya setelah kekasihmu datang kau akan dilamarnya dan menikah dengannya tapi kenapa hal ini bisa terjadi?. Kenapa justru Pak Zubair yang akan menikahimu?. Lalu di mana pria yang kau cintai itu dimana kekasihmu itu?."
Pertanyaan demi pertanyaan terus keluar dari bibir Mona bagaikan peluru yang menjuru ke segala arah. Lily hanya diam terpaku dan tak tahu apa yang harus di katakan terhadap sahabatnya itu karena Lily sendiri tidak dapat menemukan jawabannya.
"Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi dalam hidupku dan apa yang terjadi dengan Kekasihku. Mungkin ini sudah menjadi takdirku. Takdir yang harus aku jalani sendiri" Ucap Lily sambil memandang nanar.
" Lily.. ayo siap-siap karena acara segera dimulai" Ucap salah seorang yang telah membantu Lily berhias.
Dengan perlahan Lily terus melangkah menuju tempat di mana kehancuran hidupnya akan dimulai. Semua orang berkumpul untuk menjadi saksi atas pernikahan Lily dan Pak Zubair.
Di sana sudah ada penghulu pernikahan dan Pak Zubair yang berdandan sedemikian rapinya dan senyum bahagia merekah di wajah Pak Zubair yang tak sabar menyambut kedatangan pengantin wanita nya itu.
Sahabat-sahabat Lily seperti Mona dan Amira menangis tersedu-sedu melihat apa yang menimpa sahabat yang polos itu. Pak Candra dan Bu Lisa terus menangis dan berharap Leon akan datang membantunya. Membantu Lily keluar dari masalah ini dan membuat Lily bahagia.
"Mempelai wanita akan memasuki Aula pernikahan. Mohon hadirin sekalian untuk berdiri!" Ucap pemandu acara.
Para undangan pun berdiri mengikuti instruksi dari pemandu acara tersebut. Lily datang didampingi ayahnya menuju pelaminan dan duduk dengan tenang di samping Pak Zubair calon suaminya.
"Baiklah para tamu silahkan duduk kembali karena acara akan segera di mulai."
Pembacaan janji suci pernikahan pun telah dimulai oleh penghulu.
Tiba-tiba...
Brrakkkkk
Suara pintu aula yang di buka dengan sekuat tenaga.
"BERHENTIIIII....!!!!!!!"
.
.
.
BERSAMBUNG ... dulu.. biar greget dan penasaran 😁
.
.
.
.Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini dan rate bintang 5.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa ngedukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤