My First Love Is My King

My First Love Is My King
BAB 26



Sejak malam itu, malam dimana Hera mendapat surat dari Louis. Hera hanya berdiam diri di rumah dan menunggu suami yang di kasihinya itu kembali meski hasilnya sangat nihil, dia tetap sabar menantinya.


Tanpa terasa sudah 5 bulan berlalu, dan usia kandungan Hera memasuki usia 9 bulan yang berarti tidak lama lagi ia akan segera melahirkan.


Sore ini, matahari masih nampak cerah dan terang. Hera mejahit kain dan di jadikan-nya baju-baju kecil untuk calon bayinya. Tiba-tiba di luar rumah terdengar kegaduhan. Hera mengintip lewat lubang pintu dari dalam rumahnya. Ternyata ada rombongan pria berpakaian hitam mencari wanita yang di nikahi Putra Mahkota Louis. Hera ternganga dan membungkam mulut dengan kedua tangannya. Dia tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Melihat kegaduhan di luar membuatnya tak bisa berfikir apa-apa lagi, kemudian dia teringat akan surat dari Louis yang menyuruhnya untuk bersembunyi jika terjadi kegaduhan. Tanpa berfikir panjang dengan tergesa-gesa dia mengemasi barangnya dan lari sekuat tenaga menjauh dari kegaduhan itu dan terus berlari tanpa arah.


Ternyata ada salah satu dari rombongan itu yang berhasil mengikutinya. Hera semakin mempercepat langkah kakinya.


Setelah cukup lama kerjar-kejaran, Pria berseragam hitam itu pun berhasil menangkap Hera.


"A..a..aaaammpuni aku tuan". Lirih Hera memohon kepada pria asing itu. " Jangan bunuh aku tuan !.... Aku mohonnnn.. ttt.ttt..ttoolong aku." Ucap Hera memelas kemudian jatuh pingsan.


Melihat darah bercucuran di kaki Hera, pria itu goyah. Apalagi perut Hera yang besar dan Hera juga menahan rasa sakit mau melahirkan. Pria itu teringat kembali oleh bayangan ibunya yang meninggal saat melahirkan adiknya di kala ia masih kecil. Tak butuh waktu lama ia segera menggendong Hera dan mencari dukun beranak untuk hera melahirkan. Setelah menemukan rumah dukun beranak tersebut, pria itu meminta 1 set pakaian Hera untuk di jadikan bukti bahwa Hera telah meninggal kepada Raja dan kemudian langsung pergi begitu saja.


********


Malam ini bulan bersinar terang bagaikan cahaya lentera yang menerangi seluruh belahan bumi. Hera ada di antara hidup dan mati untuk melahirkan buah hatinya.


Setelah cukup lama mempertaruhkan nyawa, akhirnyaaa..


Owekkk..Owekkk..


Terdengar suara tangis bayi sangat nyaring dari rumah dukun beranak itu. Hera berhasil melahirkan anak dengan sehat dan selamat.


Dukun itu terhentak kaget melihat bayi yang baru saja di lahirkan Hera.


" Ke..ke..kenapa mbok ??" Tanya Hera


" Emmm ... ii..iinii nyonya.. selamat ya. nyonya telah melahirkan bayi laki-laki yang sehat." Sambil menunjukkan wajah bayinya ke wajah Hera.


" Sebentar ya nyonya biar saya bersihkan dulu bayinya."


Tak lama kemudian. Dukun itu kembali berasama bayi yang sudah bersih dan rapi.


" Silahkan di susui nyonya bayinya!".


" Baik mbok"


Hera berusaha duduk meskipun masih lemah.


" Nyonya. Kalau boleh saya tahu, sebenarnya nyonya ini siapa ?"


" Kenapa mbok ? saya hanya wanita biasa yang tinggal di desa perbatasan hutan di ujung sana"


" Emmm begini.. nyonyaa... emmmm... sebenarnya.. saya melihat bayangan ketika putra anda lahir."


" Bayangan seperti apa mbok ?"


" Kelak suatu hari nanti anak ini akan menjadi Raja terbesar dan terakhir di negeri ini. Siapa kah gerangan anak ini nyonya ?? "


Hera masih diam seribu bahasa. Dia terpaku, lagi-lagi ada hal yang tak bisa di cernanya dengan mudah. Semua kejadian ini di luar nalarnya. meskipun ada di antara percaya dan tidak. Hera harus lah tetap menerima kenyataan.


*********


BERSAMBUNG...