
Leon pergi berlalu begitu saja tanpa sedikitpun menoleh ke arah Lily. Di susul Bibi Carlota yang juga ikut pergi ke dapur sambil menendang wadah ayam kari yang saat ini berserakan di lantai.
Lily memungut setiap makanan yang telah jatuh ke lantai dan menempatkannya pada wadahnya semula. Lily tetap memakan makanan masakan ibunya yang telah di buat dengan susah payah meski telah jatuh kelantai sembari membiarkan air matanya terus mengalir karena Lily menyadari untuk membeli ayam untuknya mungkin saja di rumah ayah dan ibunya harus mengikat perutnya menahan rasa lapar.
Dari jarak yang tak cukup jauh Aray menyaksikan apa yang telah terjadi kepada majikan cantiknya itu. Aray menggumpalkan tangannya dan berjanji akan melepaskan Lily dari neraka ini.
*********
Beberapa hari kemudian,
Matahari kembali rutin menyapa bumi dengan cahaya dan kehangatannya. Kehidupan Lily di rumah megah itupun tak ada yang berubah. Masih di penuhi dengan derita dan tekanan.Lily benar-benar pasrah dengan jalan hidup yang saat ini ia tempuh.
Angin sejuk berhembus lembut menerpa tubuh Lily yang saat ini sedang menyapu halaman rumah yang luas seorang diri. Di halaman banyak di tumbuhi pohon yang rimbun dan bunga-bunga yang bermekaran indah, ditengah halaman itu ada air mancur yang menari dengan elok.
Brukkk...
Lily menjatuhkan tubuhnya ke atas bangku di dekat air mancur di halaman itu.
Hffftt...
Lily membuang nafas tanda lelah selesai mengerjakan tugasnya membersihkan halaman dan taman seorang diri. Sehari-hari di rumah hanya tinggal dia dan beberapa pembantu dan pengawal di rumah itu karena Pak Zubair sibuk mengurusi pekerjaannya, beliau pergi pagi setelah sarapan dan pulang menjelang makan malam sedangkan Leon tak tahu kesehariannya ada di mana. Yang jelas ia sering mabuk-mabukan dan jarang ada di rumah. Ia hanya pulang untuk tidur dan kemudian pergi lagi. Tak jarang ia gonta ganti membawa wanita asing ke kamarnya kalau Pak Zubair pergi keluar kota.
Tiba-tiba terlintas bayangan Ipen yang sedang tersenyum di benaknya.
Tes ... Air mata Lily mengalir.
'Aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu?. Jangan tersenyum semanis itu lagi. Aku tak sanggup membedakan antara bayangan dan kenyataan tentangmu. Hanya saat ada di dekatmu aku merasa sempurna dan bahagia'
Brukk..
Tiba-tiba Lily terkejut saat ada orang yang duduk di sampingnya.
"Aray?!"
Aray tersenyum.
"Sedang apa Nyonya sendirian di sini?"
"Nyonya? Dengan penampilan ku yang lebih tragis dari pada pembantu di sini kamu panggil aku Nyonya lagi ?"
Aray tertunduk saat Lily menatapnya.
"Panggil aku Lily!!"
"Ii.. ii..iyaa Lily"
"Gitu dong bagus. Coba ulang pertanyaanmu yang tadi."
"Sedang apa kamu sendirian disini Li..Li..Lily??!!" Aray dengan malu malu.
"Aku baru saja menyelesaikan tugasku."
"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?"
"Entahlah..." Lily tertunduk lesu.
"Apakah Pak Zubair dan Tuan Leon tau tentang semua ini?"
"Hmm ... . Entahlah ... walau tahu pun mungkin mereka tak perduli."
"Tapi semua ini tidak bisa di biarkan Nyonya. Eh maaf ... Maksutku Lily"
Lily tertunduk menatap kosong.
" Apakah kamu tidak ingin bebas dari tempat ini ?"
Lily menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Arya dengan suara yang lembut.
Saat mendengar pernyataan Lily Aray semakin besar menaruh rasa kasihan terhadap gadis yang ada di hadapannya itu.
'Bagaimana bisa gadis baik sepolos dan selugu Lily harus melewati jalan kehidupan yang sangat berat di usianya yang masih sangat muda ini' Gumam Arya dalam hati.
"Oh ya Aku ingin ke rumah temanku lagi apakah kamu bersedia ikut bersamaku?"
"Tentunya nyonya karena aku adalah pengawalmu"
"Ya sudah kalau begitu aku akan bersiap-siap merapikan diri"
"Ngomong-ngomong kamu mau kerumah Teman yang mana?"
"Itu ke rumah teman aku saat kita kesana terakhir kali" Ucap Lily sambil meninggalkan Aray untuk bersiap-siap.
Bayangan Aray langsung teringat akan kejadian saat Lily di perlakukan dengan kasar di depan rumah Mona.
'Ke rumah itu lagi? untuk apa? Bukankah terakhir kali ia di perlakukan dengan sangat tidak baik. Ya Sudahlah begitulah Lily aku harap kali ini temannya itu menyambutnya dengan tangan terbuka' Lirih Aray dalam hati.
Aray telah cukup lama menunggu Lily bersiap-siap di bangku taman. Sehingga membuatnya penasaran dan masuk ke dalam rumah karena Lily tak kunjung keluar.
"Nyonya!!!" Teriak Aray reflek saat melihat Lily sedang di hardik oleh Bibi Carlota dan beberapa pembantu lainnya.
Bibi Carlota dan yang lainnya pun ikut terkejut mendengar teriakan Aray yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
" Dengar Bibi!! Aku adalah pengawal Nyonya Lily dan aku akan melindunginya dari segala macam bentuk bahaya termasuk aku tidak akan segan-segan melindunginya dari perlakuanmu kejammu." Ucap Aray geram terhadap perlakuan para pembantu itu. "Mari Nyonya kita pergi dari sini." Lanjut Aray mengajak Lily pergi keluar.
"Hai anak baru!! Jangan mentang-mentang kamu ya di sini. Gak usah sok menjaga Nyonya palsu di sini. Akulah yang di berikan wewenang oleh Pak Zubair untuk mengurus gadis ***** itu."
Arya dan Lily pergi dari sana tanpa sedikitpun menggubris kata-kata Bibi Carlota.
******
Sesampai di rumah Mona. Lily melihat pria yang sedang menangis dan berlutut di depan pintu rumah Mona. Bayangan asing itu tak asing lagi baginya.
"Leon?!"
Sama seperti Lily berhari-hari Leon juga sedih dan berlutut berharap orang yang di cintainya itu memaafkannya.
"Ini semua gara-gara aku. Seandainya aku tidak terlahir ke dunia ini. Ayah dan Ibu takkan kehilangan kak Mela. Leon dan Mona pun takkan terpisah. Benar kata semua orang bahwa aku pembawa sial. Sebaik apapun aku menjalani kehidupan tetap saja aku ini pembawa sial dan semua orang di sekitarku ikut menderita karena aku." Kata kata Lily terus menyalahkan dirinya sendiri.
Sleppp.
Aray reflek memeluk Lily yang sedang kehilangan arah dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Cukup Lily... Cukup!!! Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kamu orang baik, aku yakin kebahagiaanmu akan datang tepat pada waktunya."
BERSAMBUNG...
.
.
.
.
.
.Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.
Jangan lupa terus dukung aku !
Dengan cara Like, Coment, dan rate bintang 5.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa mendukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤