
Suara deburan ombak memecah sunyinya malam, terdengar jelas dari rumah Ipen yang memang berada dekat dengan laut.
Di dalam kamar yang remang remang Lily tak bisa memejamkan matanya, ada gemuruh di hatinya. Ingin sekali keluar kamar dan melihat wajah orang yang di cintainya pada pandangan pertama itu.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu secara perlahan.
"Lily.. kamu sudah tidur??" Ipen berbisik dari belakang pintu.
Kkreeeekkkkkkkk..
Lily membuka pintu secara perlahan.
" Belum.. ada apa pen ? " Tanya Lily
" Emm anu.. Aku mau mengambil selimut.. Di luar sangat dingin." Jawab Ipen sambil berjalan masuk ke depan box yang seperti lemari penyimpanan .
Disaat Ipen mencari selimut itu tiba - tiba
Jleebb
Ada tangan mungil yang putih bersih melingkar diperutnya. Lily memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada bahu Ipen.
"Lii,,, li,,,, Lily.. " ucap Ipen terbata bata " Ada apa ?" lanjutnya..
" Aku tak bisa tidur.." Ucap Lily lirih..
" Aku terus memikirkanmu ,, rasanya besok tak ingin pergi darimu,, tapi aku harus bekerja demi menyambung hidup keluarga kami." Lily mengukapkan kegalauannya
Ipen berbalik badan dan memeluknya
"Mau aku temani ?....(oppss !!) eh,, maksutnya aku akan berada di dekatmu selama kamu tidur. Iya hanya sekedar menemani hehehehe ( menggaruk kepalanya yang tidakgatal)"
Lily mengannguk.
"Tapi kita tidurnya di depan yaa ? takut ibu dan bapak berfikiran aneh-aneh tentang kita." Kata Ipen.
" Dimana aja gak masalah Pen, asal di temani kamu."
Kemudian mereka berdua menuju ruang tamu dan Lily tertidur di pangkuan Ipen.
" Li... "
" Hhmmm" . Jawab Lily dengan mata yang terpejam
" Makasih yaa sudah mencariku." Sambil mengusap rambut lembut Lily.
" Terimakasih juga karena telah menungguku pen" Ucap Lily
" Makasih banyak banyak karena sudah menemukanku." Ucap Ipen sungguh sungguh
" Iya iyaaa ,,, makasih banyak banyak juga karena telah merindukanku." Balas Lily.
Kemudian mereka tertawa bersama.
Esok Harinya.
Lily mengucek-ngucek matanya yang masih terasa berat.
" Kalian berdua kok tidur di luar ?" Suara ayah Ipen mengagetkan keduanya.
" Emmm anuuu" Ipen salah tingkah
" Semalam aku tak bisa tidur Pak. Jadi aku menghampiri Ipen untuk menjadi teman bicara. dan gak lama kami ketiduran di sini." Jelas Lily kepada ayah Ipen.
" Oohh begitu yaa ?. Bapak mau berankat ke pasar dulu kalau begitu." Menyadari bahwa Ipen dan Lily salah tingkah, Ayah Ipen langsung pamit pergi.
Seperti biasa Lily bangun pada pagi buta dan bersiap-siap karena di kejar waktunya kapal dan jam kerjanya.
Pagi ini Ipen yang mengantarnya menuju dermaga dengan berjalan kaki.
Di perjalanan...
"Li apakah kamu tidak pernah libur bekerja ?" tanya Ipen.
" Aku libur 1 bulan sekali pen . Kenapa ?"
Ipen menghentikan langkah kakinya..
"Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat" kata Ipen
" Dimana itu ? ayo di mana ? " Tanya Lily penasaran.
" Gak di mana-mana hahahahha. Nantilah kalau kamu libur pasti aku ajak ke sana. Emang jatah bulan ini libur kapan ?"
" Aku libur minggu depan. Hmmm. Beneran ya ajak aku kesana."
" Iya iya Lily. Yuk lanjut jalan"
Mereka kembali berjalan menuju dermaga.
Setelah sampai di dermaga kapal yang akan di naiki Lily belum bersandar ke tepi.
Sambil menunggu kapal bersandar Lily dan Ipen terus bercengkrama ..
Tiba tiba Ipen tertawa ketika mengingat momen pertama kali bertemu Lily.
"Ihhh jangan di inget-inget terus dong." Lily malu karena posisi dia saat itu sedang kacau..
" Eeh tu lihat kapalnya sudah bersandar. Aku pamit dulu ya salam buat bapak dan ibu di rumah." Pamit Lily.
" Kamu hati-hati yaa .. Jangan lupa minggu depan saat matahari terbit aku tunggu di dermaga ini lagi."
Kemudian Lily melambaikan tangan.
BERSAMBUNG.....