
"Yaudah makanannya dihabiskan dulu ya.. mbok mau bantuin anak-anak di dapur.. " Seru mbok Rukmi sambil berlalu pergi dari meja makan itu.
Dengan sangat lahap Ipen dan Lily menikmati semua makanan yang ada di hadapannya. Terlihat senyum dan tawa mereka mengembang, entah apa yang mereka bahas dalam senda gurau mereka.
Akhirnya Ipen dan Lily pamit setelah menyantap habis semua menu yang mereka pilih. Mereka menuju pintu dapur untuk mencari mbok Rukmi, kemudian sosok yang mereka caripun akhirnya muncul.
"Sudah selesai makannya nak ?"
"Iya mbok. Ini kami mau pamit."
"Memangnya kalian mau kemana ?"
"Ini mbok ngajak Lily keliling di pulau ini."
"Oalah iya hati-hati ya kalian berdua.! Jangan lupa mampir kesini lagi."
"Iya mbok pasti. Makanannya mbok paling mantap" Lily mengacungkan kedua jempolnya.
*******
Di perjalanan..
Mereka berdua melawati jalan penuh sawah dan pepohonan yang rimbun. Nampak bayangan gunung yang begitu jelas berjejer rapi di depan mereka.
"Trus kita mau kemana pen ?" Tanya Lily sambil terus berjalan dan menikmati pemandagan alam.
Di jaman ini kendaraan yang beroprasi hanya kapal kayu dan kereta kuda. Dan kebanyakan mereka lebih memilih berjalan kaki karena tarif kendaraan yang lumayan menguras kocek.
" Kamu lelah ya ly ? " Tanya Ipen pada gadis di sampingnya itu.
"Egak kok. Aku gak lelah pen. Pemandangan di sini bagus sekali ya pen ?." Mata Lily berkaca-kaca.
"Iya dong. Kita mau ke kampung nenekku Lily. Sebentar yaa.. kita cari kereta kuda agar lekas sampai di sana."
"Ini pertama kali bagiku naik kereta ini." Ucap Lily takjub
"Loh di desamu tak ada kereta kuda kah Lily ?"
"Ada sih. Tapi aku tidak pernah menaikinya. yaa.. karena kami memang tidak pernah kemana-mana."
Benar-benar gadis yang sangat polos.
'Seberapa miskinnyakah kehidupan Lily sampai tidak pernah merasakan hal sesederhana ini?.' Pikir Ipen dalam hati.
Ipen juga terlahir di keluarga yang menengah ke bawah namun semua kebutuhan Ipen di penuhi oleh kedua orang tuanya. Sedangkan Lily harus merelakan masa kecil dan remajanya karena harus membiayai pengobatan ibunya yang sering sakit-sakitan.
"Kemanakah tujuan kalian anak muda ?" Suara pak kusir terdengar dari arah depan.
"Kami mau ke desa di bawah lereng gunung itu pak" Jawab Ipen.
"Tapi bapak hanya bisa menurunkan sebatas di dekat sungai itu saja ya nak ?. Karena tidak bisa di lalui kereta bapak" Jelas pak kusir itu.
"Iya pak tidak apa-apa, saya tahu di sana ada sungai dan jembatan gantung yang hanya bisa di lalui dengan berjalan kaki" Imbuj Ipen.
Akhirnya kereta kuda itu pun menurunkan mereka di suatu tempat. Dengan sangat hati-hati Ipen membantu Lily turun dari kereta kuda itu. Dan benar untuk sampai ketujuan yaitu rumah nenek Ipen, mereka harus menyebrangi sungai lewat jembatan gantung yang terbuat dari kayu dan tali yang bergoyang-goyang sepanjang 5 meter.
Jarak dari jembatan dan sungai cukup tinggi dan curam. Membuat Lily merinding takut untuk melewatinya.
"Apa tidak ada jalan lain kah disini ?" Tanya Lily mulai panik.
"Tidak ada li.. Jangan takut li.. Aku akan terus menggenggam tanganmu dan melindungimu untuk melewati jembatan ini." Ucap Ipen
'Aku juga ingin mendampingi dan melindungimu untuk melewati di kehidupan yang keras ini.' Ucap Ipen lirih dalam hati.
BERSAMBUNG ....