
Sepoi-sepoi angin membawa Duri masuk menerobos relung hati yang hampir mati.
Sakit, pedih, perih Hanya itu yang dirasakan si pemilik hati yang telah hampa ini.
Bagaikan burung yang telah kehilangan sayapnya, yang hanya mampu menatap kawan-kawannya menari indah di angkasa, yang hanya mampu menatap bayang-bayang langit penuh luka dan Asa.
Seperti itulah kepedihan Lily dan Ipen yang telah saling kehilangan, yang kini sudah tak bisa lagi saling memeluk di kala rindu menyapa.
Hanya cucuran bulir-bulir bening yang menjadi saksi bisu betapa berat kisah ini, dikala mereka sudah tak kuat lagi membendung apa yang mereka rasa.
Matahari tersenyum lebar membiaskan cahayanya pada seluruh permukaan bumi. Istana adalah tempat yang sangat indah dan megah. Arsitekturnya sangat mempesona dan membuat siapapun terpana di buatnya. Merupakan impian setiap insan untuk dapat tinggal di sana.
Tapi tidak dengan Steven Morlouis yang merupakan satu-satunya penerus takhta di Negeri ini. Baginya Istana hanyalah penjara neraka berwajah surga.
Meskipun dia hanya diam dan berwajah damai, ada banyak gejolak dan kecamuk di dalam sanubarinya. Ingin sekali rasanya memberontak, berteriak, dan berlari sekuat tenaga ke dalam pelukan gadis bermata indah yang selama ini bersemayam dengan damai di hatinya.
'Jadilah berkuasa, terkuat,dan terpintar agar dirimu mampu melindungi orang-orang yang kau cintai'
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya dan menggumpal di dalam aliran darahnya bersatu bersama genggaman tangannya . Kata-kata itu yang selama ini menjadi sumber kekuatan yang mampu memotivasinya.
Tap..tap..tap..
Langkah kaki penuh kewibawaan dari Steven Morlouis terdengar dari lorong Istana. Ia hendak menuju kamar sang Ratu Felisha.
" Ratu, Pangeran Steven ingin menumui anda." Ucap seorang pelayan memberitahu kedatangan Steven.
Mendengar ucapan pelayannya, Ratu Felisha menghentikan aktifitasnya yang sedang bercermin.
'Steven? ada perlu apa sampai dia datang kemari' Ucap Ratu Felisha dalam hati sambil sedikit mengernyitkan alisnya.
"Hhftt" Ratu Felisha membuang nafas. "Baiklah suruh ia masuk!" Perintahnya.
Kemudian wajah yang di tunggu itupun datang. Ratu Felisha menyambutnya dengan senyuman yang merekah bagaikan bunga.
" Ada apa gerangan anakku ? Ibunda sempat terheran karena ini baru pertama kali bagimu ingin menemuiku."
Steven segera duduk di depan Ratu dan menundukkan pandangannya.
"Aku ingin segera naik takhta Ibunda. Aku ingin segera menjadi Raja."
"Takhta itu hanya milikmu anakku. Takkan ada yang bisa merebutnya darimu karena hanya dirimu yang paling berhak atas itu namun apa yang membuatmu menjadi terburu-buru ?"
"Aku harus melindungi orang-orang yang harus ku lindungi dari kekejaman para perdana menteri Ibunda."
"Setelah kau banyak belajar dan berlatih serta kau sudah cukup kompeten kau sudah berhak di nobatkan menjadi Raja. Namun sebelum itu kau harus menikah dengan salah satu putri dari kerajaan yang telah banyak membantu kerajaan kita Pangeran Steven!"
Deg.. Lagi-lagi syarat itu yang keluar. Untuk mengorbankan segala yang ada pada dirinya Steven sudah siap namun untuk mengorbankan hati dan orang yang sangat di cintainya Steven sangat-sangat tidak mampu.
"Apakah tidak ada syarat selain itu Ibunda?" Steven memberanikan menatap penuh harap pada orang yang di panggilnya Ibunda.
"Tidak ada Pangeran. Ini sudah menjadi tradisi. Pernikahan Raja adalah Pernikahan kerajaan yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama. Ini semua demi Negeri yang kita tinggali saat ini."
"Aku gak siap Ibunda. Aku tidak mampu."
"Pangeran ketika kau siap memakai mahkotamu saat itu juga kau harus siap mengorbankan segalanya demi Negerimu."
Semenjak saat itu hari-hari pangeran Steven Morlouis di penuhi dengan fokus untuk apa yang jadi tujuannya. Terus belajar agar semakin pintar, berlatih pedang atau memanah agar semakin kuat. Namun untuk naik takhta Steven harus mengorbankan hatinya dengan menikahi salah satu putri dari ke tiga kandidat kerajaan yang banyak membantu Negara Morland.
Untuk syarat yang terakhir itu Steven masih belum bisa melakukannya karena di hatinya hanya untuk Lily kekasihnya. Dia masih berharap akan adanya keajaiban sehingga ia dapat menjemput pujaan hatinya itu.
" Lily... Aku harap kau masih sabar menantiku kembali. Apapun caranya aku akan tetap memilihmu untuk menjadi pengantinku."
******
Tok.. tok.. tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah Lily mengejudkan Lisa dan Chandra yang sedang bersantai di ruangan dekat dapur di temani teh hangat dan biskuit yang Lisa beli di pasar.
"Siapakah yang bertamu malam-malam begini ya Pak?" Tanya Lisa kepada suaminya.
"Coba Ibu lihat siapa yang datang!"
Kreettttt Decak bunyi pintu tua itu di kala Lisa membukanya.
Mata Lisa terbuka lebar lebar saat melihat apa yang ada di hadapannya.
"Pp..pp.. Pak Zubair?" Tanya Lisa gagap.
Di depan Lisa sudah berdiri Pak Zubair yang merupakan pemilik tanah bangunan yang saat ini ia tempati datang bersama beberapa pengawalnya.
Tak seperti biasanya, kali ini Pak Zubair datang dengan sangat rapi dan sopan dengan senyum yang terus menggores di bibirnya.
"Siapa buk yang datang kemari?" Seru Chandra dari dalam menghampiri Lisa yang masih terpaku.
"Pak Zubair? Mm.. mmohon maaf pak" Ucap Chandra salah tingkah. "Kami belum punya uang untuk membayar hutang dan uang sewa kami." Imbuhnya.
"Kedatanganku kemari bukan untuk soal itu Pak Chandra hahahaha" Pak Zubair mencoba mencairkan suasana dengan tertawa khasnya.
"Kalau begitu mari silahkan Pak Zubair masuk dulu!" Ucap Lisa mengajak tamunya itu masuk ke rumahnya.
Tanpa paksaan Pak Zubair mengikuti Lisa dan Chandra masuk dalam gubuknya.
"Silahkan duduk Pak! Pak Zubair mau minum apa?" Lisa menawarkan minuman pada tamunya.
"Apa aja Bu Lisa. Tidak usah repot-repot!"
Bu Lisa pun masuk menuju dapur menyiapkan teh untuk Pak Zubair.
"Pak Chandra hanya tinggal berdua dengan Bu Lisa ?" Tanya Pak Zubair basa-basi.
"Iya Pak. Kebetulan anak pertama kerja di desa seberang dan anak yang ke dua masih main di rumah temannya."
"Oh..begitu." Pak Zubair mengangguk-anggukan kepalanya.
Kemudian Lisa datang membawa 3 cangkir teh.
"Silahkah di minum Pak Zubair! Mumpung masih hangat."
Kemudian Lisa duduk di samping suaminya.
"Jadi.. ada apakah gerangan Pak Zubair datang malam-malam kemari ?" Tanya Pak Chandra.
Hmmmm..
"Jadi begini Pak Chandra. Kedatanganku kemari ialah bermaksud untuk meminang putri ke dua dari Pak Chandra dan Bu Lisa."
Lisa ternganga tak percaya dan tanpa pikir panjang langsung menerima tawaran Pak Zubair.
Setelah menyampaikan segala niatnya Pak Zubair pulang dengan hasil yang sangat memuaskan.
"Bu.. Apakah keputusan kita ini benar Bu? Tanpa meminta persetujuan Lily dahulu."
"Tidak apa-apa lah Pak. Keburu Pak Zubair berubah pikiran nanti. Lily pasti sangat senang mendengarnya. Kan sudah jelas toh Pak kalau Lily sama Leon saling mencintai." Mata Ibu Lily berbinar.
BERSAMBUNG...
.
.
.
.
.Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.
Jangan lupa terus dukung aku !
Dengan cara Like, Coment, dan rate bintang 5.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa ngedukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤