My First Love Is My King

My First Love Is My King
BAB 28



" Bolehkah saya masuk ke dalam rumah anda ?" Tanya pria yang baru saja mengetuk rumah Mbok dukun kepada salah satu pekerja yang membukakan pintu.


Belum sempat pekerja itu menjawab, Mbok dukun datang menghampirinya.


"Ada apa ini ? Anda siapa ? Ada perlu apa kemari ?". Berbagai pertanyaan keluar dari bibir Mbok kepada pria asing itu.


" Mohon maaf Mbok. Saya di beri tugas untuk memeriksa setiap rumah di Desa ini. Jadi alangkah baiknya jika Mbok mengijinkannya selagi saya meminta dengan baik ".


Dengan sedikit keraguan, Mbok menelan ludah dan kemudian Mbok mengijinkan pria itu masuk dan memeriksa rumahnya.


Ketika memasuki rumah itu yang pertama kali nampak ialah beberapa pekerja yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di halaman rumah. Pria itu masuk lebih dalam dan membuka tirai-tira di beberapa ruangan rumah Mbok.


Di ruangan pertama, tempat orang melahirkan. Terdapat 2 wanita yang sedang hamil besar, menanti waktunya melahirkan.


Di ruangan ke-dua, kamar bok. Hanya nampak ruangan kosong, di dalamnya hanya terdiri dari satu buah tempat tidur dan meja yang sudah tertata rapi.


Di ruangan ke-tiga, dapur. Ada 1 pelayan laki-laki yang sedang sibuk memasak.


Tap.. tap.. tap..


Langkah kaki pria itu masuk menuju ruangan ke empat yang merupakan kamar tamu.


Sreeeetttt...


Pria asing itu menyingkap tirai ruangan terakhir kemudian memasukinya. Ada wanita tua yang sedang berbaring lemah tak berdaya.


"Apa ini ?" Tanya pria itu menunjuk ke sebah peti kotak di samping wanita tua yang tak berdaya.


Tanpa ada jawaban. Pria itu langsung membuka peti itu.


Uhuk.. uhuk..


Tiba-tiba wanita tua yang sedari tadi berbaring itu batuk dan menyemburkan banyak darah hingga mengenai pria yang belum sempat melihat isi di kotak itu.


Segerombolan orang datang termasuk Mbok datang ke ruangan tersebut.


Tanpa basa-basi pria suruhan itu berlari keluar dan melupakan peti yang barusan ia buka.


" Silahkan ini di minum setiap pagi, guna menjadi penawar penyakit menular itu". Ucap mbok sambil menyodorkan sekantong minuman herbal. Lalu pria itu beranjak pergi.


*******


Cukup lama Hera mengunyah sirih di dalam mulutnya. Agar menciptakan warna merah yang pekat seperti darah. Steven kecil tertidur pulas di dalam sebuah peti kotak di dekat Hera.


semoga engkau tetap tertidur pulas ya nak. Sampai orang asing itu pergi. pinta Hera dalam hati.


Memang benar, Hera menyamar sebagai wanita tua renta yang sedang sakit keras dan terpaksa memasukkan Steven kecil di dalam kotak. Untuk mengelabuhi pria suruhan perdana menteri itu.


Setelah pria itu pergi, Mbok menghampiri Hera di dalam ruangan ke-empat, Kamar Tamu. Nampak Hera sudah memeluk Steven.


"Nyonya... apa kamu baik-baik saja ?". Tanya mbok kepada Hera.


" Iya Mbok. Saya baik-baik saja. Syukurlah pria itu belum sempat melihat peti berisi bayi merah ini ". Ucap Hera sambil memandang Steven.


" Meskipun begitu, disini bukanlah tempat yang aman untuk kalian, Nyonya ".


" Iya mbok. Setelah saya pulih, saya akan pergi dari sini ".


********


Mendengar bahwa suaminya adalah Pangeran, Hera tak tahu apa yang harus di rasakannya.


Harus kah ia bahagia seperti di negeri dongeng ?


Atau kah... yasudahlah..


Nyatanya, kehidupan Hera yang penuh dengan kedamaian dan kesederhanaan berubah seratus delapan puluh derajat setelah dia menikahi Putra Mahkota di Negeri ini. Dia harus terpontang-panting lari kesana-kemari. Bersembunyi ketempat sana dan sini. Untuk terus bertahan hidup karena banyak yang ingin membunuhnya. Belum lagi seluruh keluarganya yang tidak tahu apa-apa ikut menderita menanggung resiko karenanya.


BERSAMBUNG.....