
Setelah sampai di rumah Leon langsung menuju kamarnya di atas. Di dalam kamarnya telah ada Lily yang baru saja tiba di kamar itu dan belum sempat mengganti Pakaiannya yang basah.
"Kamu dari mana kok pakaianmu juga basah Leon?" Lily menghampiri Leon sambil ingin memegang pundaknya namun Leon segera menangkis tangan yang putih bersih itu.
"Jangan sekali-kali kau sentuh Aku lagi!!. Mulai saat ini kamu tidak perlu tidur dikamar ini lagi!!"
Suara Leon meninggi dan Lily sangat kaget dibuatnya. Ada rasa ketakutan di dalam hati Lily kala itu.
"Baiklah Leon lalu aku harus tidur di mana?"
"Nanti Bibi yang akan mengantarmu menuju kamar mu. Cepat kau pergi dari sini Aku muak melihatmu!!!"
Kemarin sikap Leon yang terasa dingin kini berubah menjadi sangat kasar kepada Lily. bahkan untuk masalah sepele pun Leon harus membentak dan meneriaki Lily.
Lily tak percaya dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Perubahan sikapnya sangat berbeda dengan Leon yang ia kenal dahulu yang ia kenal sebelum pernikahan yang tak dirindukan ini terjadi. Perlahan-lahan Lily mencari seseorang di setiap sudut rumah agar ia bisa bertanya di mana harusnya ia tidur saat ini dengan pakaian yang masih basah karena terguyur hujan tadi.
"Bi maaf. Dimana kamar saya yang telah diperintah oleh Tuan Leon ?"
Suasana berbeda juga terpancar dari Bibi yang merupakan kepala pembantu di rumah besar itu. Sikapnya kini dingin cuek dan sedikit angkuh ketika berhadapan dengan Lily.
"Ini adalah kamarmu. Silahkan kamu membersihkan semuanya sendiri!!"
Ucap Bibi setelah sampai di ruangan belakang pojok rumah yang besar itu dan Bibi segera pergi setelah memberi kunci pintu kamar itu kepada Lily.
Kreeekkktttt.
Lily membukanya secara perlahan dan didapatinya kamar itu kosong kotor dan Ada beberapa barang yang tak terpakai berantakan di sana. Ada banyak tikus tikus menari di kamar kosong itu. Hawa dingin menyeruak kala Lily memasukinya. Ruangan kosong itu lebih cocok disebut gudang daripada sebuah kamar bahkan kamar pembantu lebih bagus dari ruangan itu.
Lily harus menerima semua perlakuan Leon dan semua orang yang ada di dalam rumah itu dan Lily masih terus mencoba memahami suaminya itu bagaimanapun juga Leon telah kehilangan segalanya demi menyelamatkan Lily. Dia tak sedikitpun membenci sahabatnya itu.
Perlahan Lily mulai membereskan dan merapikan kamar kosong itu meskipun tak sempurna setidaknya kamar itu kini bisa ditempati walau tak ada tikar ataupun kasur untuk alas Ia tidur.
Malam pun tiba hawa dingin semakin menusuk apalagi baju yang ia kenakan adalah baju saat ia kehujanan tadi siang. Sampai saat ini tak ada satupun orang yang datang untuk sekedar memberi makanan atau pakaian. Sedangkan Lily masih terlalu takut jika harus keluar dari kamar itu atas kehendaknya sendiri karena merasakan atmosfer di rumah itu sudah benar-benar berubah dan Lily merasakan semua orang yang ada di dalam rumah itu membencinya.
Tok tok tok
Bunyi pintu ketuk
"Makanan sudah aku taruh di depan pintu"
Lily yang sedari tadi menahan lapar akhirnya kini bisa tersenyum karena makanan yang ia tunggu akhirnya datang kemudian Lily bergegas membuka pintu kamarnya.
Kreeekkk.
Di luar sudah tidak ada siapa-siapa hanya ada sepiring nasi yang hampir basi berlaukkan tempe hanya satu Iris.
Sesusah susahnya kehidupan Lily, Lily tidak pernah memakan nasi sisa ataupun nasi yang hampir basi. Namun untuk kali ini Lily menerimanya dan masih bisa bersyukur karena dapat mengganjal perutnya yang kosong sedari tadi.
Keesokan harinya.
Byurrr...
Lily bangun terperanjat saat Bibi menyiram wajah mulusnya dengan seember air.
"Ada apa Bi? Kenapa engkau menyiram ku dengan seember air itu?"
"Kamu itu jangan malas-malasan kamu cuma Nyonya palsu di sini. Sekarang segera sterilkan tubuhmu dan pergi ke dapur untuk memasak.!"
Setelah mengucapkan semua itu Bibi pergi begitu saja meninggalkan Lily.
Lily mengusap wajahnya yang basah dan melihat ada sebuah baju yang mungkin disiapkan untuknya. Untuk kali ini baju yang Lily terima bukankah setelan berkain sutra melainkan hanya baju daster compang camping yang lebih jelek dari pakaiannya selama ini.
Lily memasak sendirian tanpa ada yang membantu akhirnya pekerjaan memasaknya sampai menyiapkannya di meja dan mencuci piring telah selesai.
Tiba-tiba...
Perutnya mulai keroncongan dan ingin melahap sepiring nasi.
"Eh enak aja belum apa-apa udah makan. Sekarang kamu harus nyapu dan mengepel semua lantai yang ada di rumah ini!!!"
"Izinkan Aku makan sedikit saja karena aku mulai lelah dan lemas" Lily memohon kepada Bibi.
"Enggak usah sok jadi Ratu kamu ya di sini. Kamu harus ingat !!!! kamu itu hanya Nyonya palsu. Ngerti nggak sih kamu??!!!!"
"Baik kalau begitu aku akan segera menyapu dan mengepel lantai"
"Dan satu lagi Kamu jangan makan sebelum aku menyiapkan makanan untukmu"
"Baik Bi. Aku akan mematuhi mu"
Sebenarnya Lily penasaran kenapa kepala pembantu sangat kasar terhadapnya bahkan semua pekerjaan pembantu ia serahkan kepada Lily. Apakah semua itu perintah dari Pak Zubair ataukah dari Leon?. Lily tak tahu yang Lily tahu kini semua orang di rumah itu sangat membencinya terutama Leon mungkin saja dengan cara seperti ini dapat mengurangi rasa kebencian Leon pada Lily.
Lily menyelesaikan semuanya dengan rasa lelah dan lemas yang hampir saja membuatnya pingsan. Di meja sudah ada sepiring nasi dan lagi-lagi itu makanan sisa para pembantu di rumah besar yang seperti istana itu. Lily segera melahapnya karena perutnya mulai sakit menahan lapar.
Pengawal Lily tanpa sengaja menyaksikan semua yang dialami Lily di rumah itu namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena menyadari ia hanyalah pengawal di sana meskipun Aray sangat tidak tega melihat Lily diperlakukan seperti itu.
'Lily Aku ingin sekali suatu hari nanti membantumu keluar dari neraka ini' Gumam Aray dalam hati.
" Eh sudah makan jangan lupa membersihkan kamar tuan muda Leon!"
"Apakah Leon ada di kamar?"
"Tuan muda ada di kamar. Biasanya ia tidak pernah melarang pembantunya untuk membersihkan kamarnya meski ia ada di dalam."
Sebenarnya Lily takut jika harus mendekati Leon yang merupakan suami sahnya itu karena Lily tidak siap akan teriakan dan bentakan Leon lagi.
Perlahan-lahan ia mendekati kamarnya dan...
Cklek..
Pintu kamarnya tidak dikunci.
Terdengar suara air Pancuran dari kamar mandi.
' Oh mungkin Leon sedang mandi'
Lily mulai membersihkan kamar Leon di mulai dari merapikan ranjangnya namun ia kaget setengah mati saat ia menemukan pakaian beserta dalamannya wanita yang berserakan di sekitar ranjang Leon. Tiba-tiba terdengar suara pria dan wanita yang sedang bersenda gurau di dalam kamar mandi itu.
(Gaesss... Anggep aja ada lagunya Rossa yang judulnya Hati yang Kau Sakiti hehehehehehee)
Meskipun pernikahan ini bukanlah pernikahan yang tak diinginkan namun pernikahan adalah tetap sebuah pernikahan. Bukankah Impian setiap wanita hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya. Begitu juga dengan Lily. Walau cintanya bukan untuk Leon tetap saja ada rasa sakit di hati Lily saat mengetahui suaminya menghianati pernikahan yang suci itu. Meskipun Lily sangat tahu betul bahwa cinta Leon bukan untuknya.
BERSAMBUNG....
.
.
.
.Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.
Jangan lupa terus dukung aku !
Dengan cara Like, Coment, dan rate bintang 5.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa mendukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤