My First Love Is My King

My First Love Is My King
BAB 47



Lily menangis bersama deburan ombak yang tak pernah berhenti menghantam tebing. Sudah cukup baginya hari ini terluntang lantung di desa tetangga menunggu kehadiran pujaan hatinya. Matahari yang mulai terbenam mengiringi langkah kakinya kembali ke tempat asalnya. Akhirnya Lily pulang dengan membawa separuh hatinya yang telah tersayat sembilu.


" Lily pulang.." Seru Lily sesampainya di rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya sebelum ibu dan ayahnya melihat tampangnya yang telah kacau hari ini.


Brakk..


Suara pintu ketika Lily menutup pintu kamarnya.


"Lily ayo makan dulu nak!" Seru Lisa dari balik pintu.


"Lily sudah makan bu." Teriak Lily dari dalam kamarnya. Ia berbaring sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal. Berharap bisa melupakan semua lukanya. Berharap sedikit saja meninggalkan bayangan manis yang selalu ada di benaknya.


*******


Keesokan harinya saat Lily sedang berjalan pulang setelag bekerja di ladang Pak Sungkar.


" Lily..!!" Teriak Andre yang merupakan tetangga dan teman masa kecil Lily.


"Eh Andre."Lily menoleh ke arah Andre yang ada di belakangnya.


"Denger-denger semalam kamu di lamar ya sama Pak Zubair ?"


Uhuk.. uhuk.. Lily sampai tersedak mendengarnya.


"Yang bener kamu Ndre. Jangan bercanda ah" Lily sama sekali tak percaya dengan apa yang di katakan Andre.


"Beneran Ly.. Aku gak bercanda.Dan Ibumu menerimanya. Coba deh kamu tanya sama Ibumu!"


"Tapi gak mungkin lah Ndre! Secara aku lebih cocok jadi anaknya"


"Ih beneran tau Ly. Pak Zubair itu sudah lama punya perasaan sama kamu atau mungkin km punya banyak hutang padanya." Andre terdiam. "Ya.. kalau kau punya banyak hutang padanya kau takkan bisa menolaknya Ly karena Pak Zubair pasti akan meminta kau melunasi semuanya saat keluargamu menolak lamarannya." Imbuhnya.


Lily di buat linglung oleh informasi yang di katakan Andre barusan.


'Kalau benar desas desus yang di katakan Andre. Kenapa ibu sangat tega menerima lamaran Pak Zubair untukku?' Ucap Lily dalam hati.


Pok..pok..pok.. Lily menepuk pundak Andre.


"Kalau gitu Aku pulang duluan ya Ndre. Aku harus segera bertanya pada Ibu."


Lily berlari melewati sawah-sawah yang terbentang luas. Setelah sampai di rumah Lily melihat Ibunya menata-nata barang baru yang tak tahu itu di dapat dari mana.


"Buk!" Lily mendekati Ibunya.


"Eh Lily.. Kemari Nak."


"Ini apa Buk? Ini dari siapa?"


"Kamu pasti bahagia dengar apa yang Ibu katakan Ly.. Semalam Pak Zubair datang melamarmu. Ibu gak nyangka Nak, kamu akan menikah dengan saudagar kaya seperti di negeri negeri dongeng akhirnya kesabaran mu selama ini berbuah manis. Semoga setelah menikah kehidupan bahagia anakku." Ucap Ibu Lily penuh dengan deraian air mata bahagia.


Lily ikut menangis karena baru kali ini melihat Ibunya sangat bahagia. Entah apa yang harus di katakan dan di lakukannya. Apapun akan di lakukannya demi melihat senyum orang tuanya meski harus mengorbankan segalanya.


"Apa Ibuk bahagia ?"


Ibunya mengangguk dan memeluknya.


"Sangat-sangat bahagia Nak."


'Baiklah Bu. Aku akan melakukan semuanya demi dirimu. Demi senyummu. Demi kebahagiaanmu' Tangis Lily dalam hati.


"Kapan pernikahannya Buk ?"


"Minggu depan Ly.."


Belum selesai rasa sedih di hatinya karena kehilangan cinta pertamanya. Kini harus di hadapkan pada kenyataan harus menikahi orang yang lebih pantas di sebut bapaknya. Sedangkan dia sama sekali tidak bisa menolak mengingat hutang keluarganya yang masih menumpuk kepada Pak Zubair. Apalagi semenjak Mela pergi dari rumah tak pernah ada senyum kebahagiaan yang menghias keluarganya seperti hati ini. Harus kah ia mengorbankan perasaan dan hidupnya? Bagaimana caranya ia kabur dari kenyataan yang pahit ini?.


"Ipen.. Aku sangat merindukanmu.. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat untuk saat ini tanpamu. Mungkin nama ku tak pantas untukku lagi. Nama yang kau bilang melambangkan penantian, kesetiaan dan kesucian. Kini tak lagi pantas untuk aku yang hina ini. Maafkan aku karena tak bisa menunggumu lagi. Maafkan aku tak bisa menjaga kesetiaan ini. Maafkan aku tak lagi bisa menepati janji yang kita ukir bersama. Namun ada hal yang harus kau tau. Bahwa meskipun ragaku bukan untukmu namun selamanya cinta ini masih milikmu"


Deraian air mata mengalir di pipi Lily malam ini. Tangisnya mengalahkan deru air hujan yang mengguyur desa saat ini.


******


"Mau belanja apa Buk? Hayooo di borong semuanya mumpung calon mantu kaya raya" Sindir Bu Anita yang merupakan pemilik toko terbesar di dalam pasar kepasa Bu Lisa, Ibu Lily.


"Eh Bu Anita ada-ada aja" Bu Lisa tersenyum malu sambil memilih dan memilah beberapa barang.


"Emang kapan acaranya Buk Lisa?"Tanya salah seorang pembeli di samping Bu Lisa.


"3 hari lagi. Ibuk-ibuk semuanya hadir yaa jangan sampai gak hadir loh yaa?!" Seru Bu Lisa kegirangan sambil memberikan beberapa barang untuk di bayar. Kemudian beranjak pergi. Tiba-tiba terdengar Ibu-ibu tadi bergosip di belakangnya.


"Kok bisa sih Bu Lisa itu malah kegirangan gitu? Anak gadisnya padahal cantik banget loh Buk. Masak ya mau di nikahkan sama duda tua yang kaya itu"


"Ho,oh Buk. Kalau aku sih amit-amit. Saking pengennya kaya sampai anak sendiri di korbankan"


Deg..


Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong seperti itu lah rasa kaget Bu Lisa saat mendengar ucapan ibu-ibu di belakangnya. Dia menghentikan langkahnya dan memutar balik ke arah ibu-ibu tadi dan mulai mendekatinya.


"Maksud ibu-ibu ini apa ya?"


.


"Masak Ibu tidak tahu kalau yang akan menikahi Lily itu adalah Pak Zubairnya sendiri."


"Tidak.. Tidak mungkin" Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya. " Putriku akan menikahi Leon, Anak Pak Zubair. Mereka saling mencintai" Jelasnya.


"Leon gimana sih Buk Lisa ini. Jelas-jelas saat ini Leon ada di kota dan masih sibuk ujian. Tidak mungkinlah mengadakan pernikahan di saat dia lagi fokus-fokusnya ujian." Sanggah Bu Anita.


"Coba deh Bu Lisa tanya kepada Pak Zubair jelasnya seperti apa?" Imbuh wanita di sebelah Bu Anita.


Bu Lisa langsung berlari ke rumah dan menemui suaminya.


Memang salah Bu Lisa. Saking bahagianya sampai lupa tak menanyakan bahwa lamaran untuk Lily itu dari siapa.


"Pak! Pak! Pak!"


" Ada apa sih Buk? kok teriak-teriak,"


"Hayuk Pak kita ke rumah Pak Zubair sekarang!"


"Kenapa Buk? Ada apa?"


"Kita harus menanyakan Pak bahwa pinangan untuk Lily itu dari siapa."


" Loh! Bukannya Ibu sendiri yang bilang kalau itu lamaran dari Leon."


"Iya Pak. Soalnya tadi Ibu denger gosip yang gak enak Pak. Kalau yang melamar Lily itu Pak Zubair sendiri."


Brusssshhh


Pak Chandra menyemburkan kopi yang baru saja hendak ia teguk.


BERSAMBUNG...


.


.


.


Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.


Jangan lupa terus dukung aku !


Dengan cara Like, Coment, dan rate bintang 5.


Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa ngedukung kalian juga.


Sayangheee dari Author. ❤


.