
Bulan Purnama ke 13.
Di kamar bernuansa merah maroon yang indah, dengan penuh kegelisahan Putri Felisha menanti kedatangan pangeran Louis di kamar yang sedari tadi di persiapkan oleh para pelayannya menjelang malam bulan purnama ke-13.
Harum bunga mawar yang semerbak menyatu dengan aroma tubuh sang Putri menambah kehangatan di kamar yang sunyi itu.
Balutan gaun tidur berkain tipis menerawang berwarna merah itu menutupi tubuh Putri Felisha, Mengunggah hasrat siapapun yang memandangnya.
Dengan anggunnya Sang Putri duduk di depan cermin, Menanti kedatangan Sang Pangeran yang merupakan suaminya.
Tok..tok..tok..
Terdengar suara pintu di ketuk.
Putri Felisha bergegas mengenakan Mantel tebalnya, untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya. Sebelum pelayannya membukakan pintu kamarnya.
" Pp..Pp..Pangeran ?!."
Putri Felisha tercengang, hampir tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Pria yang selama ini selalu mengabaikan ritual-ritual dengannya, kini ada di depan matanya.
Melihat kedatangan Louis masuk ke dalam kamar ritual itu, membuat para pelayan Felisha berhambur keluar dan menutup pintu kamar rapat.
Cukup lama Louis dan Felisha saling berhadapan. Kemudian Louis duduk di tepi ranjang dan menyenderkan kening pada telapak tangannya.
" Aku tidak tahu. Bagaimana caraku melakukan hal ini denganmu."
" Pangeran,, Aku tahu kau tidak mencintaiku. Tapi ini salah satu ritual agar kau segera naik takhta. Mau tidak mau kita harus melakukannya malam ini." Ujar Putri Felisha sembari duduk perlahan di samping Pangeran.
Terdengar sangat lembut dan penuh kasih sayang saat pangeran menyebut 'Tuan Putriku'. Akan tetapi hati Putri Felisha tetap terluka bagai di hujani belati yang tajam menusuk. Mendengar kata-kata suami yang saat ini ada di sampingnya.
Aku tulus mencintaimu Pangeranku. Tapi kenapa harus luka seperti ini yang kau berikan. Ucap Felisha dalam hati.
" Baiklah.. Bisa di pastikan, aku takkan bisa hamil pangeran." Felisha berkata sambil mengambil sebuah cangkir berisi ramuan.
" Ini adalah ramuan agar aku tidak bisa hamil. Dan aku akan meminumnya sekarang."
Pangeran terus menatap Felisha yang meneguk remuan itu.
" Soal cintamu. Tidak masalah bagiku jika kau harus membayangkannya saat tidur denganku. Yang penting malam ini kita harus melaksanakannya. "
Begitu tinggi dedikasi Felisha untuk Kerajaan.
" Maafkan aku Tuan Putri. Jika harus melakukan semua ini padamu. Aku tahu kau juga seorang wanita yang ingin mendapatkan cinta suami mu sepenuhnya. Dan juga ingin memiliki anak dari rahimmu sendiri. Tapi maafkan aku, yang tak mampu."
" Cukup Pangeran!. Lakukan apa saja yang kau mau padaku karena aku milikmu. Pangeran, jangan lupa. Selain jati diriku sebagai wanita. Aku adalah calon Ibu Negeri ini. Dan aku harus profesional. Apapun yang aku lakukan demi Kerajaan dan Negeri ini. "
" Ttt..**..tapi. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana."
" Minumlah arak ini Pangeran!. Setelah kau mabuk, bayangkan jika aku ini adalah wanita yang kau cintai itu. Lepaskan semua hasrat dan rindumu padanya di sini."
Saat Pangeran mulai minum, Felisha menangis. Entah apa yang harus di rasakannya. Bahagia atau sedihkah. Dia juga wanita, dia juga punya hati. Bagaimana bisa suami yang di cintai menembus benteng pertahannya yang selama ini ia jaga. Dengan mabuk dan brutal, tanpa rasa cinta untuknya dan dengan membayangkan wanita lain yang Pangeran cintai.
BERSAMBUNG...