
Lily masih terpana dengan apa yang di katakan Ipen. Kata-katanya mampu memotivasinya untuk bangkit dan bersemangat lagi.
"Maka dari itu Lily... menangis lah jika kamu ingin menangis. Tertawalah jika kamu ingin tertawa. Karena apa ? .. .. Karena kamu juga berharga".
Tanpa terasa tetesan air mata berjatuhan mengalir di pipi Lily. Dia sangat terharu oleh kata-kata pria yang di cintainya itu.
Kemudian mereka berjalan santai mengelilingi ladang bunga yang indah itu.
"Oh ya.. kamu tahu tidak sejarah bunga Lily bagaimana?"
"Ya ampun Ipen. Aku saja baru tau kalau nama bunga ini Lili apa lagi sejarahnya tau dari mana aku coba ?"
Ipen tertawa
"Yeeee kok malah ketawa ? dari pada ketawa gak jelas gitu mending ceritain aja deh gimana sejarahny.!".
"Dengerin baik-baik yaaaa...."
Lily mengangguk.
Kemudian Ipen mulai bercerita.
"Menurut mitos Yunani kuno bunga lili tercipta ketika Dewa Zeus jatuh cinta pada wanita Bumi bernama Alceme dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Hercules. Dewa Zeus menginginkan agar Hercules menjadi Dewa seutuhnya, maka Hercules dibawa ke surga untuk disusui oleh Hera, istri Zeus.
Zeus mengira bahwa Hera tidak akan mau menyusui Hercules. Maka Hera dibius hingga tertidur. Saat Hera tertidur, Hercules diletakkan di bawah payudara Hera, tanpa ia sadari ternyata Hera pun menyusui Hercules. Karena efek dari obat bius yang habis, Hera pun kaget dan terbangun dari tidurnya dan tak sengaja melempar Hercules.
Kemudian, air susu pun menyembur ke langit dan ke bumi. Air susu yang menyembur ke langit berubah menjadi bintang yang disebut Galaksi Bima Sakti (Milky Way), sedangkan yang menyembur ke Bumi berubah menjadi bunga lili pertama yang tumbuh di bumi.".
Ipen menghela nafas tanda ia selesai bercerita.
Lily semakin terpukau dengan sosok tampan yang ada di hadapan-nya ini.
Matahari pun lelah menujukkan sinarnya. Perlahan demi perlahan matahari mulai turun ke barat. Menyadari bahwa hari sudah sore hampir petang Ipen dan Lily memutuskan untuk pulang.
Mereka kembali menaiki perahu melewati danau, kembali berjalan kaki mengikuti jalan setapak sampai tiba di tempat jembatan kayu itu lagi.
"Ipen .."
"Hmmm"
"Apa kita tidak perlu mampir dan pamit sama nenekmu lagi ?" Tanya Lily
"Tidak usah Li.. nanti keburu malam. Keburu tidak ada kereta kuda yang melintas lagi."
Mereka berdua dengan sangat berhati-hati melewati jembatan kayu itu. Meski Lily tak setakut saat awal melewatinya. Kini justru Lily takut momen berharganya ini segera berakhir.
Aku tidak mau pulang. Mungkin itu yang ingin Lilu katakan pada Ipen.
Tak menunggu waktu lama akhirnya kereta kuda yang di tunggu melintas. Kemudian mereka pulang dengan menaiki kereta kuda itu.
"Terimakasih banyak ya sudah membawaku jalan-jalan, membuatku bahagia, memberitahuku akan berbagai macam hal. Terimakasih banyak telah mengajarkanku apa arti hidup ini. Terimakasih karena kamu telah mencintaiku Ipen." Lily menyandarkan kepalanya pada bahu Ipen.
"Aku mencintaimu Lily... Hanya kamu di hatiku.. Tak kan ada yang lain sebelum atau sesudah kamu di hati dan hidupku.Untuk selamanya dan untuk waktu yang lama Aku ingin menemani, melindungimu, membahagiakanmu seperti hari ini. Selama sisa umurku ini." Ipen mengecup kening Lily
Betapa dalam mereka saling mencintai..
Matahari mulai memacarkan warna senja yang menandakan ia akan terbenam dan malampun akan datang.
BERSAMBUNG....