
Pagi-pagi buta. Lily sudah berdandan rapi dan mengemasi barang-barang yang harus ia bawa.
" Lily mau kemana ?" Tanya Ibunya.
" Aku ada urusan bu sama teman hehehe"
" Kok pagi-pagi sekali Ly ?"
" Iya bu. Janjiannya jam segini, Lily takut terlambat."
" Sarapan dulu yuk Lily!"
" Tidak usah bu. Nanti Lily makan di warung langganannya Lily buk. Lily pamit ya bu."
Muach.
Kecupan Lily mendarat di pipi Ibunya.
" Hati-hati di jalan Ly. Jangan pulang malam-malam."
"Siap komandan"
Berbagai macam alasan keluar dari bibir manis Lily, agar ia bisa segera pergi dari rumahnya. Besar harapannya untuk hari ini agar bisa bertemu pujaan hatinya.
Kapal yang di naiki Lily akhirnya mendarat dengan aman di dermaga desa seberang. Rumah Ipen sudah terlihat meskipun terlihat kecil karena lumayan jauh dari dermaga posisi dia berdiri saat ini. Dengan berjalan kaki ia perlahan-lahan mendekati rumah yang baginya sangat hangat itu.
Akhirnya sosok bayangan yang selama ini ia nanti dan rindukan ada di hadapannnya, ada di depan matanya.
" Ipen.!" Lily berhambur memeluknya.
Air mata bahagia menetes deras dari wajah putih yang di miliki Lily.
" Sudah.. sudah.. Jangan nangis lagi, sekarang aku sudah ada di sini."
" Kamu jahat Ipen!! kenapa meninggalkanku begitu lama ? Aku pikir aku tak bisa melihatmu lagi." Semakin deras tangis Lily karena tak sanggup membayangkannya dan semakin dalam menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan Ipen.
" Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi. Sudah ya nangisnya."
Dengan tangan kekarnya Ipen menghapus air mata di wajah yang saat ini pink kemerahan itu.
"Eh.. Lily sudah datang. Mari nak masuk kita makan dulu." Ajak Ibu Ipen.
Dengan sangat lahap Lily menyantap makanan yang ada di hadapannya.
" Kamu kurusan ya ly ?" Goda Ipen sambil mencubit pipi Lily.
"Ini gara-gara kamu. Semenjak kamu pergi aku jadi tak berselera untuk makan." Lily menekuk wajahnya.
" Iya deh iya.. aku minta maaf ya cantik"
Lily tersenyum.
"Sejak kapan kamu datang ? katanya kamu mau mencariku terlebih dahulu ?"
" Iya Ly. Niatnya nanti sore aku mau ke sana. kalau sekarang masih sibuk bantuin Ibu bersih-bersih"
Saat itu Lily benar-benar bahagia, karena kini orang yang di kasihinya ada di depan mata dan semua yang ia takutkan takkan terjadi lagi.
Tiba-tiba..
Krukk..krukkk.. krukk..
' Aku baru selesai makan bersama Ipen. Kenapa masih lapar ya ?' ucapnya dalam hati.
Suara perut Lily yang kelaparan menyadarkannya dari lamunannya.
Dia sedang duduk sendirian dan benar-benar sendiri di teras rumah yang telah kosong berbulan-bulan lamanya.Rumah yang tak lain adalah rumah Ipen.
" Pen !!! Ipen !!!"
"Buk !!! Ibuk !!!"
Wajah Lily mulai gelisah dan histeris memanggil nama-nama penghuni di rumah kosong itu.
Lily menangis meraung-raung terus memanggil nama mereka.
,"Ipen kamu dimana pen ? Jangan bercanda.! jelas-jelas baru saja kamu ada di sampingku" Ucap Lily sambil menangis tersedu-sedu.
Dia terus berkeliling di sekitaran rumah berharap menemukan sosok yang ia cintai itu.
" PEEEENNNNNN!!!!!!!!!" Suara Lily semakin keras memanggil nama pujaan hatinya itu.
BRUKKK!!!
" Tidak.. Tidak mungkin!!"
"Baru saja jelas-jelas aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tidak mungkin !!" Tangis Lily semakin histeris tak percaya bahwa yang ia lihat hanyalah bayangan semu.
Tap.. tap.. tap..
Suara langkah kaki.
" Ipen?!"Lily segera berdiri dan menoleh ke suara itu berasal.
Ternyata hanyalah wanita tua yang tinggal di sekitar sana menyapanya.
" Kamu kenapa nak ? Rumah ini sudah kosong sejak 3 bulan yang lalu."
" Gak mungkin nek! barusaja aku sarapan berasama mereka."
Krukk kruukk kruukk..
Perut Lily yang kelaparan berbunyi lagi.
' Sudah sarapan kok perutnya masih demo' Pikir wanita tua itu.
" Yasudah Nenek pergi dulu ya.."
Setelah memberi tahu yang sebenarnya, Nenek tua itu beranjak pergi menjauh dari tempat Lily berdiri.
Lily masih diam terpaku berusaha mencerna semuanya. Bulir bening masih terus mengalir di pipinya.
Perlahan dia mulai menghapus air matanya dan berjalan menjauh dari rumah itu. Dengan gontai terus berjalan menyusuri jalan yang pernah ia lalui dengan Ipen. Bayangan Ipen seolah tak mau pergi dari sisinya.
Tak sengaja ia melewati pasar dan mampir ke warung yang pernah singgahi dengan kekasihnya di awal mereka berkencan itu.
"Loh ini bener Lily ?" Suara Mbok Rukmi tak percaya dengan kedatangan Lily yang hanya sendiri.
Lily mengangguk.
"Mau makan apa Non Lily ?" Tanya Mbok Rukmi yang melihat kekacauan di wajah ayu Lily.
"Aku pesan makanan yang paling di sukai Ipen Mbok!"
"Iya Non. Tunggu sebentar ya?!"
Kemudian Mbok Rukmi memberi tahu pelayannya untuk menyiapkan makanan yang telah dipesan oleh Lily.
"Non.. dari mana ? bukannya Ipen lagi pergi ya ?" Sapa Mbok Rukmi kembali menghampiri Lily yang masih saja terpaku.
" Apakah Ipen sering pergi selama ini Mbok?"
" Tidak pernah Non. Biasanya keluarga mereka yang paling anteng diem di rumah."
" Tadi pas baru sampai di rumah Ipen. Aku melihat Ipen menyapa dan tersenyum padaku Mbok, Ibu Ipen juga mengajakku sarapan Mbok. Aku benar-benar memeluknya. Aku benar-merasakan kehangatannya. Tiba-tiba suara perut ku keroncongan padahal aku baru saja sarapan dengan mereka. Tiba-tiba.. tiba-tiba" Lily menangis seolah tak sanggup melanjutkannya. " Tiba-tiba semuanya hilang Mbok. Sama sekali tak ada jejak ataupun bayangan Ipen dan Ibunya. Aku sudah berlari, berteriak mencari kesana kemari namun tak ada siapa-siapa." Lily menangis sampai nafasnya tersenggal-senggal.
Mbok Rukmi pun ikut tenggelam dengan kesedihan yang Lily rasakan. Ia menatap prihatin ke arah gadis cantik yang sedang terisak-isak itu.
" Apakah aku gila Mbok ?" Lily masih menangis.
" Tapi aku rela jadi gila asal aku dapat melihatnya dan bertemu dengannya walaupun itu hanyalah khayalanku saja" Tangis Lily semakin menjadi.
3 Bulan yang lalu sebelum berangkat ke kota. Ibu Ipen berpamitan kepada seluruh orang yang ia kenal, termasuk Mbok Rukmi. Dia berpamitan dan berkata jikalau kemungkinan besar keluarga mereka takkan kembali ke desa ini lagi.
' Apa yang harus ku katakan kepada anak gadis yang malang ini? Kemungkinan Ipen sama kaget dan sedihnya sama seperti gadis ini. ' Lirih Mbok Rukmi.
Tanpa Mbok sadari air matanya mulai ikut menetes seirama dengan tangisan Lily.
BERSAMBUNG...
.
.
.
.Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.
Jangan lupa terus dukung aku !
Dengan cara Like, Coment, dan rate bintang 5.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa ngedukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤