
Sudah 5 hari sejak kejadian itu Lily terus menyembunyikan dirinya di dalam kamar yang tak layak di sebut kamar itu. Semenjak saat itu Lily sakit demam dan tak ada satu pun orang yang mencarinya, hanya mbak Rina yang mengantar sepiring makanannya di bawah pintu kamar. Kondisi Lily kini sangat lemas dan panas di badannya belum juga turun.
Dengan bibir bergetar dan sangat lemah Lily berkata, "Ibu... Ayah... tolong Lily"
Tok... tok.. tok..
Suara pintu kamar Lily di ketuk seseorang.
"Siapa? Masuklah!" Ucap Lily lemah.
Kreekkk.
"Lily!!!" teriak Aray sangat panik ketika membuka pintu ia telah mendapati Lily berbaring lemah tak berdaya.
Aray semakin panik saat menyentuh kening Lily yang terasa sangat panas.
"A... a.. ray.. Tolong aku!" ucap Lily lemah lalu pingsan di tangan Aray.
Tanpa berfikir panjang Aray menggendong Lily dan berlari keluar mencari tabib.
*****
Leon duduk terpaku di tepi ranjangnya sambil sesekali menggigit bibirnya. Dia kebingungan dan merasa tak percaya, perlahan-lahan ingatannya selama ia mabuk mulai pulih dan terlintas di benaknya termasuk apa yang telah ia lakukan terhadap Lily.
"Tidak... Tidak mungkin"
Leon berusaha menghindari apa yang ia ingat barusan tapi semenjak saat itu Leon memang tak pernah bertemu Lily membuat Leon semakin penasaran. Akhirnya dia mulai bangkit dari ranjangnya dan berniat mencari Lily di lantai bawah.
Sesampai di bawah.
Deg.
Leon terkejut saat berpapasan dengan Aray yang sedang terburu-buru sambil menggendong Lily yang sudah tak sadarkan diri.
"Ada apa ini?" Tanya Leon. Ada guratan kecemasan di wajahnya.
"Minggir!" Aray menatap Leon dengan sangat tajam seolah hendak memangsanya.
Kemudian Aray terus berlari keluar untuk mencari pertolongan tanpa sedikitpun peduli dengan Leon yang merupakan majikannya.
Hhh.
Leon membuang nafas seolah beberapa menit yang lalu nafasnya berhenti karena tak percaya dengan apa yang ia saksikan barusan. Ada rasa yang tak biasa kala Leon melihat Lily berada dalam gendongan Aray dan tatapan tegas Aray yang hampir melotot itu kepadanya. Kemudian ia berlari menyusul Aray karena ada rasa khawatir yang teramat besar terhadap Lily hingga menuntunnya untuk terus berlari mengejar Aray.
Ia berfikir untuk membawa kudanya agar lebih tepat waktu menolong Lily.
"Aray! Berhenti!"
Aray tak memperdulikan teriakan Leon dan terus berlari.
"Aku bilang berhenti Aray!"
"Aku tak akan membiarkanmu menyakitinya lagi." Ucap Aray tersenggal-senggal sambil terus berlari.
"Jangan egois Aray! saat ini kita berperang melawan waktu untuk menyelamatkan Lily. Akan lebih cepat jika Lily bersamaku menunggangi kuda." Teria Leon dari atas kudanya.
deg.
Aray menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah wajah Lily yang semakin pucat. Ia berfikir tak kan sanggup menyelamatkan Lily hanya dengan berlari. Akhirnya Aray menurunkan egonya dan melepaskan Lily dari gendonganya agar Leon bisa membawanya menemui tabib tepat waktu.
"Aku akan menyusulmu meski dengan berlari. Selama itu jangan berani kau menyentuhnya" Kecam Aray terhadap Leon.
Sejujurnya Leon merasa terganggu dengan ucapan Aray yang terdengar sangat peduli terhadap istrinya itu, namun untuk kali ini Leon mengabaikannya karena fokus untuk menyelamatkan Lily.
******
Setelah sampai di kota.
"Leon?"
Tabib yang merupakan tabib keluarga Leon itu terkejut melihat Leon menggendong seorang gadis yang sudah sangat pucat dan tak sadarkan diri.
"Kenapa kau jauh-jauh kemari dan tak memanggilku saja untuk pergi kesana?"
"Kalau aku harus memanggilmu dahulu mungkin semuanya akan terlambat."
"Siapa gadis ini?"
"Dia istriku. Tabib,, Aku mohon selamatkan istriku!"
Waktu terasa berputar sangat lambat, sesi pengobatan pun terasa sangat panjang. Leon dengan segala kegelisahannya menanti kabar dari Tabib yang saat ini sedang berusaha menyelamatkan Lily. Mulai dari pemeriksaan sampai pengobatan herbal telah di lakukan tabib itu. Akhirnya tabib itu menyuruh Leon masuk.
"Bagaimana keadaan istriku Tabib ?"
"Istrimu mengalami shock dan ada infeksi di sekitar organ kewanitaannya." Tabib itu menyunggingkan sedikit senyum. "Aku tahu kalau kalian masih pengantin baru tapi ya melakukannya jangan terlalu bersemangat, pelan-pelan saja. Untungnya kamu membawanya tepat waktu"
Deg.
Leon sangat terkejut dengan apa yang di jelaskan oleh Tabib itu namun Leon berusaha tersenyum kecil membalas senyuman Tabib itu. Sebenarnya ia sangat shock karena apa yang ia tak percayai selama ini adalah hal yang nyata sehingga hampir saja membuat Lily nyaris tak tertolong. Di tatapnya wajah cantik yang sedang terlelap bagaikan putri yang sedang tertidur di cerita dongeng-dongeng.
Tes.. tes.. Air mata Leon menetes tak sanggup memandang wajah cantik yang sangat damai itu.
"Maafkan aku Lily! Aku tak sengaja melakukan semua itu padamu. Aku mohon segera bangunlah dan buka kedua mata indahmu itu. Aku mohon kembali lah sehat seperti sedia kala" Leon menggenggam erat tangan Lily.
Ia tak tahu bagaimana cara menghadapi Lily untuk kedepannya, dia sangat sangat merasa bersalah dan menyesal atas apa yang telah ia lakukan terhadap Lily.
"Bagaimana keadaan Lily ?"
Terdengar suara pria yang tak lain adalah Aray.
"Dia sudah mendapatkan pengobatan dan saat ini masih tertidur. Temani ia sampai ia benar-benar sadar dan bawalah ia pulang dengan mengendarai kudaku aku akan pulang menggunakan kendaraan lain." Jelas Leon sesingkat mungkin karena ia juga tak sanggup menatap Aray.
Kemudian Leon keluar mencari tabib.
"Tolong rahasiakan tentang penyakit istriku terhadap semua orang termasuk pengawalku yang saat ini sedang bersamanya dan rahasiakan juga terhadap istriku. Katakanlah bahwa ia hanya kelelahan atau apalah karena aku tak ingin ia khawatir."
"Baiklah Leon aku memahaminya."
" Tolong rawat ia sampai ia benar-benar pulih, aku akan mengirimkan pengawalku untuk membayar semua jasa-jasamu"
Tabib itupun mengangguk tanda menyetujuinya.
Leon pulang tanpa membawa kudanya agar Aray bisa membawa Lily pulang menggunakan kuda itu.
**************
**************
Dari kejadian di atas mungkinkah hati Leon mulai terketuk untuk Lily ?
Mungkinkah bunga cinta di hatinya mulai tumbuh ?
Atau semua itu hanyalah rasa bersalahnya sesaat ?
Atau mungkin hanya sebatas rasa kasihannya ?
Lalu bagaimana dengan Aray yang sudah dari awal menaruh perhatian khusus terhadap istri majikannya itu ?
*dan pertanyaan terumum dari para readers😁* adalah ...
Ipen/Steven ketemu sama Lily.nya kapan ?
Semua itu akan terjawab nanti.
Makanya tetap setia membaca novel ini yaaahhh..
Aku yakin akan berakhir dengan sangat memuaskan.
BERSAMBUNG...
.
.
.
.Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.
Jangan lupa terus dukung aku !
Dengan cara Like, komen sebanyak-sebanyaknya, rate bintang 5 dan Ajak teman-teman atau saudara kalian ikut menikmati novel ini juga.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa mendukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤