
Rintik rintik hujan mulai secara tertib membasahi bumi, membawa angin dingin yang menyusup ke kalbu. Lily masih duduk menangis di atas tanah dimana sahabatnya itu mendorongnya hingga terjatuh. Ia membiarkan air matanya terus mengalir seperti hujan deras yang saat ini mengguyur tubuhnya. Ia segera mendongak ke atas di kala menyadari air hujan kini tak mengguyur tubuhnya lagi.
"Maafkan saya datang terlambat Nyonya"
Pengawal yang menemaninya tadi baru saja muncul bersama payung berwarna biru yang saat ini meneduhkan Lily dan membiarkan tubuhnya sendiri terguyur hujan.
"Aku suka hujan, kamu tak perlu memayungiku." Ucap Lily berusaha tersenyum.
Deg deg deg
Ada debar yang tak biasa di hati pengawal saat melihat Lily menatapnya dan tersenyum. Memanglah kecantikan gadis itu meluluhkan hati lelaki mana saja kecuali Leon, suaminya sendiri.
"Sudah tugasku Nyonya untuk melindungi anda dari hal apapun termasuk hujan. Mari Nyonya sudah waktunya kita pulang"
Lily kemudian berdiri dan mulai melangkahkan kakinya menuju tempat tinggalnya saat ini yaitu Rumah Pak Zubair.
"Apakah kau melihat kejadian tadi?" Tanya Lily saat di perjalan pulang.
"Tidak Nyonya. Setelah mengantar nyonya saya pergi menunggu di warung terdekat."
Sebenarnya Pengawal itu tanpa sengaja memperhatikan kejadian yang menimpa Lily tadi namun ia berpura-pura tak melihatnya agar Lily merasa nyaman. Dari situ si pengawal menaruh rasa kasihan terhadap nyonya majikannya itu. Akankah rasa kasihan itu akan berubah menjadi rasa yang lain?. (Tunggu dulu ..... kalau penasaran staytune terus yaa sama novel my first love is my king ini.)
"Siapa namamu ?"
Suara yang terdengar sangat lembut itu menyadarkan pria yang sedang melamun itu.
"Aray. Nama ku Aray." Ucap pria yang menjadi pengawal Lily.
"Kalau boleh tau usiamu berapa ? nampaknya kau tak jauh beda denganku hehehe."
'Bagaimana bisa gadis polos ini tetap tersenyum setelah apa yang telah menimpa hidupnya.' Gumam Aray dalam hati.
"Ehm... Usia ku 20 tahun Nyonya."
"Jangan panggil Nyonya lah. Lagian usia kita tak jauh berbeda. Kau hanya sedikit 2 tahun lebih tua dariku hehehehe. Namaku Lily."
"Saya tahu Nyonya."
"Trus kenapa tidak mau memanggilku dengan sebutan nama ku ?"
"Karena Nyonya adalah majikanku."
Puk puk puk.
Lily menepuk pundak Aray.
"Baiklah kalau di rumah kamu dan aku adalah majikan dan pengawal sebagai formalitas hehehehe kalau di luar anggap saja kita teman, oke Aray ?!"
Aray terpaksa mengangguk dan tersenyum malu menuruti perintah majikan mungilnya itu.
"Apakah ini hari pertamamu bekerja ? Soalnya ini baru pertama kali aku melihatmu."
"Saya sudah bekerja selama satu minggu Nyonya dan hari ini tugas resmi saya karena saya memang di lantik untuk menjadi pengawal anda."
"Nyonya lagi... Nyonya lagi.. Ray aku Lily. Li...Lyyy...."
"Eh iya Lily."
Aray tersenyum sungkan sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak terasa gatal.
"Sebetulnya aku lebih butuh teman dari pada pengawal. Entahlah.. punya dosa apa aku sehingga kehidupan sama sekali tak memihakku."
Aray kebingungan harus merespon seperti apa kata-kata yang dilontarkan oleh Lily yang tak lain merupakan majikannya.
Menyadari Aray sama sekali tidak merespon, Lily segera mengganti topik pembicaraannya.
*******
Di sisi lain, Leon datang ke rumah Mona tak lama setelah Lily beranjak dari sana. Hujan masih mengguyur bumi bersama langkah kakinya.
"Aku bilang pergi!!! enyah kau dari kehidupanku.!!!" Teriak Mona dari balik pintu tanpa membuka pintu itu.
Deg.
Leon kaget mendengar ucapan orang yang sangat di cintainya itu. Bagaimana dia bisa mengusir seseorang tanpa melihat siapa orang itu.
"Mona.. Aku Leon."
Kreeekkkk. Mona membuka pintu.
"Akhirnya kau datang juga. Aku sangat ingin memakimu." Ucapan Mona terputus saat Leon menghentikannya dengan sebuah ciuman yang mendarat di bibir gadis yang sedang terbakar amarah itu. Leon terus mencium sampai Mona menyerah dengan segala caci maki yang ingin ia lontarkan.
"Aku mencintaimu Mona. Hanya kamu gadis yang paling ku cintai di dunia ini."
"Kalau kau memang benar mencintaiku. Kenapa engkau malah menikahi Lily ?"
Leon menangis bersama Mona yang juga menangis.
"Lily sahabat kita Mona. Hanya itu cara agar bisa menyelamatkan Lily."
"Tanpa memikirkan perasaanku? Tanpa mempedulikan tentangku? Soal menyelamatkan Lily kan bisa dengan cara lain tanpa harus menyakitiku."
"Tidak bisa Mona. Waktu itu saja aku hampir terlambat."
"Terus sekarang bagaimana dengan cinta kita? Apakah kau bisa menceraikan Lily saat ini juga?"
Leon terdiam sesaat mengingat peraturan di desanya bagi seseorang yang baru saja bercerai harus di asingkan selama 1 tahun dari sosial.
"Tidak bisa Mona karena aku akan di asingkan. Sedangkan ayahku sangat tinggi menjaga harga dirinya."
"Jadi kamu lebih mementingkan harga diri ayahmu daripada daripada aku titik Lebih baik aku mati jika harus hidup tanpamu."
"Jangan Mona! Aku janji suatu hari nanti kita pasti bakal bersatu dan aku akan menceraikan Lily.Tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat. Aku harap engkau bersabar."
"Nak Leon masih ada perlu apalagi kamu kemari?" Suara wanita paruh baya terdengar dan memutus pembicaraan mereka. Suara itu adalah milik ibu Mona yang baru saja pulang dari kebun bersama Bu Dewi.
"Maafkan aku Bu!. Itu semua bukan keinginanku. Aku hanya ingin menyelamatkan sahabat kita karena tidak mungkin Lily menikah dengan Ayahku dan menjadi Ibu tiriku saat usianya masih ada di bawahku."
"Lalu kamu tahu dari mana Nak,kalau Ayahmu akan menikah in Lily sedangkan ayahmu menutupnya rapat-rapat dari kamu yang sedang mempersiapkan ujian di sekolah."
"Sehari sebelum acara pernikahan dimulai Pak Chandra datang menghampiriku dan dia menceritakan semuanya saat itu aku bingung. Di sisi lain aku harus menyelamatkan sahabatku tapi di sisi lain aku harus menyelesaikan sekolahku demi masa depan ku dan Mona. Cukup lama berpikir akhirnya aku memilih untuk menyelamatkan Lily meskipun di sisi lain saat ini ada rasa menyesal karena telah menyelamatkannya."
"Aduh Leon...... orang tuanya Lily itu mata duitan. Dia sangat ingin anaknya menikah dengan orang kaya. Saat ayahmu melamar mereka menerimanya dengan lapang dada tanpa mengetahui siapa yang akan dinikahkan dengan anaknya itu. Eeeeehhhh sekarang malah seenak-enaknya kamu yang di suruh tanggung jawab. Itumah sudah modusnya aja pengen nikahin anaknya sama kamu." Ucap Bu Dewi si Ratu gosip.
Mendengar kata-kata itu tanpa Leon sadari perlahan-lahan membuat Leon mulai membenci Lily meskipun ia tahu bahwa kata-kata itu tidaklah semuanya benar karena Leon juga telah mengenal bagaimana keluarga Lily namun hati dan pikirannya masih dipengaruhi oleh emosi yang tidak bisa membuatnya berpikir jernih.
Kemudian ia pulang kerumah membawa segala kebencian untuk Lily gadis yang baru saja tanpa sengaja ia nikahi kemarin.
BERSAMBUNG...
.
.
.
Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.
Jangan lupa terus dukung aku !
Dengan cara Like, Coment, dan rate bintang 5.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa mendukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤