My First Love Is My King

My First Love Is My King
BAB 57



Malam semakin larut, hiruk pikuk di tempat festival kembang api yang di laksanakan di dekat danau pun mulai berlalu dan semakin sepi.


Mona dan Leon masih duduk di atas rumput yang tak terlalu tinggi, tempat di mana mereka menyaksikan kembang api sedari tadi.


"Udah mulai sepi nih. Yakin kamu gak mau pulang ?"


Mona mengangguk.


"Kamu masih kangen ya sama aku makanya kamu tidak mau pulang ?!" Goda Leon.


Mona tersenyum manja.


"Lalu kita akan bermalam di mana? Yuk kita cari penginapan!" Ajak Leon sambil mulai berdiri dari tempat ia lesehan di atas rumput.


Sreet.


Mona menarik tangan Leon.


"Tidak usah Leon. Kita habiskan malam di sini saja. Aku masih ingin memandang langit malam dan bintang yang berkilauan indah denganmu." Ucap Mona sambil merebahkan badannya di atas rumput.


Leon membuka Blazernya dan menyelimutkannya kepada Mona.


"Pakai ini agar kau tidak kedinginan."


Mona mematuhinya dan mulai memejamkan mata.


'Tuhan aku tahu aku salah saat ini aku merasakan kebahagiaan bersama seseorang yang sudah menikah. Tidak seharusnya aku mencintai suami sahabatku sendiri meskipun aku dan Leon terlebih dahulu saling mencintai. Pernikahan adalah sebuah pernikahan yang terjalin dengan ikatan yang suci, dengan alasan apapun aku tidak bisa menodainya. Namun Tuhan, ijinkan lah aku untuk kali ini membahagiakannya sebelum aku melepaskan genggaman erat tangannya' Ucap Mona dalam hati.


Leon bingung harus membawa cintanya dan Mona di jalan yang seperti apa. Disisi lain saat ini ia adalah suami orang namun Leon mengabaikannya yang penting saat ini dia bahagia.


*******


Langit gelap perlahan merubah warnanya menjadi terang. Silauan cahaya mentari menyinari daerah dengan danau yang begitu tenang menambah kedamaian di sana, kehangatannya menyentuh wajah Mona dan Leon yang ketiduran di atas rumput yang pendek dan rapi.


Kruyuk... kruyuk...


Suara perut Mona berbunyi.


"Kamu laper ya Mona?"


Mona mengangguk.


"Yuk kita cari makan."


"Aku ingin makan di tempat kemarin kita makan."


"Di mana ? yang di dekat pantai itu ?"


"Iya Leon. Makanan di sana enak banget. Aku ketagihan."


"Baiklah. Apasih yang tidak buat kamu."


Mereka saling memandang dan tersenyum.


Kemudian mereka berjalan menuju warung yang di maksud oleh Mona itu. Setelah sampai di sana Mona memesan banyak makanan dan makanan yang di pesan itu pun datang. Leon terbelalak melihat jejeran menu makanan yang tertata rapi di meja.


"Kamu yakin mau makan semua ini ?" Tanya Leon.


"Bukan aku... tapi kita... hehehehe"


"Ki... ki.. kitaa ??"


"Iya betul kita. Aku dan kamu. Suasana hatiku lagi bahagia jadi aku ingin makan yang banyak bersamamu. Aku lihat kamu juga tambah kurus jadi kamu harus makan yang banyak."


Leon menyanggupinya meskipun tak yakin tapi Mona terus menyuapinya dengan makanan-makanan itu.


Errrghh...


Leon dan Mona bersendawa dan mereka tertawa memandang satu sama lain.


"Akhirnya habis juga hehehe"


"Puas kamu yaa habis menjejeliku dengan banyak makanan."


"Hahahahaha iya betul aku sangat puas sekali."


"Yaudah yuk sekarang kita pulang!"


"Tunggu Leon."


"Ada apa?"


"Aku ingin kita mampir ke pantai sebentar."


"Heemmmm lagi lagi kamu masih tidak mau berpisah denganku yaa?? Baiklah yuk kita ke pantai."


Akhirnya mereka menuju pantai. Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di pantai tempat mereka bermain kemarin.


"Leon aku ingin duduk di sana" Mona menunjuk sebuah bangku di bawah pohon kelapa.


"Yaudah yuk."


Mereka menuju bangku tersebut dan duduk disana.


"Makasih Leon untuk waktunya kamu telah membuatku bahagia."


"Aku juga sama bahagianya Mona."


"Aku juga berterimakasih karena telah memaafkan kesalahanku."


"Aku minta maaf juga karena telah kasar terhadapmu padahal kamu dan Lily tidaklah salah sama sekali. Itu hanyalah takdir kalian berdua.Kamu dan Lily sama-sama orang baik jadi tak salah waktu menuntunmu dalam pelukannya."


"Cukup Mona tak perlu berbicara seperti itu."


Mereka terdiam sejenak.


Tiba-tiba Mona melepaskan cicin yang Leon lingkarkan di jari manis Mona kemarin.


"Kisah kita sudah cukup sampai disini Leon."


"Enggak Mona!!! Jangan !!! Apa maksudnya semua ini?"


"Kamu sudah cukup memberikan kebahagiaanku untukku Leon. Kini saatnya kamu kembali kedalam pelukan istrimu. Lily gadis yang baik, aku sangat menyayanginya. Tak usah kau menyalahkan dirimu sendiri ataupun Lily karena yang terjadi pada kalian adalah garis takdir yang telah di tentukan untuk kalian."


"Tapi kamu tahu betul Mona aku sama sekali tak mencintainya. Cintaku hanya untukmu."


"Aku tahu Leon. Tapi kini saatnya kamu juga untuk melepasku karena aku bukanlah takdirmu. Tolong kau jaga Lily baik-baik. Sampaikan salam ku bahwa aku minta maaf karena telah sangat kasar terhadapnya. Aku harap kalian bahagia."


Tes .. Air mata Mona terjatuh.


"Gak bisa Mona!!! Kamu minta aku menceraikannya aku akan menceraikannya saat ini juga Mona. Aku sangat mencintaimu. Melepaskanmu adalah hal yang tak mungkin aku lakukan."


"Terlepas dari bagaimanapun cara mu menikah dengannya, baik di dasari atas cinta atau tidak. Bagiku pernikahan tetaplah pernikahan


yang terjalin dengan ikatan yang suci, dengan alasan apapun kita tidak bisa menodainya."


Air mata Mona dan Leon menangis semakin deras.


"Jadi kamu sengaja berdandan cantik dan rapi, membahagiakanku dan memaksaku makan yang banyak hanya untuk melepaskanku karena kamu tahu aku takkan makan saat kamu meninggalkanku ?" Leon menangis tersedu-sedu. "Aku akan memuntahkan semuanya agar kau tak jadi memutuskanku.Biarlah aku kelaparan sampai sekarat agar kau iba dan kembali padaku"


Cplesss.


Mona menampar Leon.


"Cukup Leon cukuuuuuppp!!!!!" Teriak Mona sambil menangis. "Kamu harus sadar Leon!!! Mari hentikan semuanya sekarang!!!" Kemudian Mona pergi berlari meninggalkan Leon tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya...


Tes.. Tes.. Tes..


Air mata Leon menetes deras.


Kau meninggalkanku tanpa perasaan...


Hingga kujatuhkan air mata...


Kekecewaanku sungguh tak berarah...


Biarkan ku harus bertahan..


(Back sound ST12 mengiringi tangisan Leon yang masih diam terpaku.)


Sementara Mona masih terus berlari secepat mungkin dan membiarkan air matanya terus mengalir deras.


Aku menyesal tlah membuatmu menangis..


Dan biarkan memilih yang lain...


Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu...


Pasti itu terbaik untukmu...


Janganlah lagi kau mengingatku kembali...


Aku bukanlah untukmu...


Meskiku memohon dan meminta hatimu...


Jangan pernah tinggalkan dirinya... Untuk diriku...


(Backsound Rossa mengiringi langkah kaki Mona.)


.


.


.


.


Bersambung...


.


.


.Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.


Jangan lupa terus dukung aku !


Dengan cara Like, komen sebanyak-sebanyaknya, rate bintang 5 dan Ajak teman-teman atau saudara kalian ikut menikmati novel ini juga.


Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa mendukung kalian juga.


Sayangheee dari Author. ❤