
3 bulan berlalu sejak kepergian Ipen.
Di sebuah teras rumah sederhana yang di miliki oleh Lily. Lily duduk sendiri menatap halaman kosong di depan rumahnya yang gersang dan kosong. Tiba-tiba Bu Lisa yang merupakan Ibu Lily datang menghampiri dengan membawa segelas teh di tangannya.
" Ly. Minum teh dulu." Ucap Ibu Lily sambil menujulurkan teh untuk anak gadisnya itu.
" Iya bu. Terimakasih banyak" Lily menerima teh buatan Ibunya dan mulai meneguknya.
" Ly.. kenapa akhir-akhir ini ibu sering lihat kamu murung ?"
" Entah lah bu.. Bingung mau cerita dari mana."
" Apakah karena orang yang kau cintai itu pergi ke kota ??"
Lily mengangguk.
" Sabar Nak! Dia akan kembali dalam pelukanmu."
'Loh ibu tau dari mana ? perasaan aku gak pernah cerita kalau Ipen pergi ke kota dan ibu juga gak tau orang yang aku cintai siapa ? hmm mungkin Mona yang menceritakannya pada ibu.' Ucap Lily dalam hati.
Memang betul Lily tak pernah memberi tahu ke dua orang tuanya, siapakah orang yang ia cintai. Sehingga membuat ibu Lily salah tangkap dan mengira orang yang di cintai Lily adalah Leon.
Rumah Lily dan Leon memang tak begitu jauh, sehingga berita perginya Leon ke kota terdengar oleh Ibu Lily dan mengira anaknya murung karena hal itu.
" Ly.."
"Hemm"
" Apakah orang itu tidak berkata sesuatu sebelum pergi ke kota?"
" Iya bu. Dia bilang setelah semua urusannya selesai dia akan mencariku dan melamarku."
Ibu Lily tersenyum, seolah memang itu jawaban yang ingin ia dengar.
" Yasudah nak. Lapangkan hatimu untukmengikhlaskan dia ke kota. Demi masa depan kalian berdua juga. Sabar lah nak dalam menantinya." Ujar Ibu Lily sambil menepuk-nepuk pundak putrinya.
'Benar apa yang di katakan Ibu. Bisa jadi dia ke kota karena sedang bekerja keras demi masa depannya kita dan mencari bekal agar bisa melamarku' Ucap Lily dalam hati.
Lily juga tidak mengetahui bahwa ibunya sedang salah paham atas apa yang menjadi pujaan hatinya.
"Iya bu aku akan sabar. Makasih Ibu memang yang terbaik"
"Iya dong nak! Kamu yang kuat yah. Ibu yakin suatu hari nanti kamu akan bahagia hidup dengan orang yang kau cintai."
"Lily.." Teriak gadis seusia Lily terdengar dari depan halaman rumahnya.
" Eh Mona sudah datang menjemput bu. Lily pamit berangkat dulu ya bu." Pamit Lily sambil mencium punggung tangan ibunya.
" Iya hati-hati nak!"
" Loh Ibu Mona mau kemana ?" Tanya Lily kaget melihat sahabatnya tak datang sendiri.
" Ini Ly.. Ibu mau kepasar sekalian bareng sama Mona." Jawab Ibu Mona. " Ibu mu sudah ke pasar ?" Tanyanya.
Tiba-tiba Ibu Lily datang dengan membawa dompet kain di tangannya.
" Lily kok belum berangkat ?" Tanya Lisa yang melihat anaknya masih di depan halaman. " Eh ada Ibu Mona juga. Mau kemana bu ?"
" Aku mau kepasar bu."
" Yaudah hayuk kita berangkat barengan saja. Biar anak- anak berangkat kerja sama-sama."
Ibu Mona mengangguk.
" Lily dan Mona berangkat kerja dulu ya buk" Seru Mona dan Lily pamit pada kedua ibu mereka..
" Hati-hati anak-anak! Pulang kerja langsung pulang loh!" Teriak Ibu mereka.
Dari jauh Ibu Mona dan Ibu Lily melihat ke dua anak gadis mereka berangkat ke tempat kerja.
" Tidak terasa anak-anak sudah besar ya Bu Lily.?"
" Iya bu Mona. Semoga persahabatannya mereka langgeng sama seperti persahabatannya kita yaa hihihi" Ibu Lily nyengir.
" Iya semoga ya bu Lily. Tidak terasa sebentar lagi Mona ada yang menyuntingnya."
" Loh yang bener bu ? Lily juga loh"
" Waduh bisa-bisa kita punya hajat barengan ini buk" Bu Mona tersenyum sambil menutup mulutnya.
" Masih di rahasiakan bu. Lily bagaimana ?"
"Entah lah, anaknya belum mau ngaku hihihi"
Sama seperti Lily dan Mona, Ibu mereka juga turut bahagia dan tidak sabar dengan hal baik yang mereka tunggu.
Harapan yang sama di harapkan ke dua ibu itu, hanya ingin melihat putri-putrinya menikah dengan seseorang yang tulus mencintainya, terlebih lagi muda tampan dan kaya bagaikan seorang pangeran yang akan menyunting cinderella si gadis miskin.
******
Satu-persatu tangan Lily mulai memilih dan memilah jagung pak sungkar yang ia panen. Setelah itu jagung yang kondisinya segar dan bagus, ia bawa ke Mona yang hari ini bertugas untuk menimbang jagung-jagung tersebut.
Suitt.. suitt..
Mona bersuil menggoda Lily.
" Apa'an sih Mona ?" Lily jengkel tapi ia tersenyum.
" Enaknya besok yang mau libur." Ucap Mona.
Lily sambil meletakkan jagung-jagung yang telah di pilih di atas meja untuk di timbang.
" Oh iyaa yaa.. besok aku libur" Lily baru menyadari bahwa besok ia akan libur. "Aku harus ke desa seberang itu lagi. Siapa tahu besok aku sudah melihat Ipen kembali."
" Silahkan nyonya lanjutkan perjuanganmu!." Mona menyahuti.
" Doain aku ya sahabatku yang terbaik di dunia ini."
" Yang baik itu kamu Ly. Kamu selalu ada di saat aku membutuhkanmu. Aku gak tau harus bagaimana membalas semua kebaikanmu."
" Udah Mona. Tidak usah bicara seperti itu lagi. Kali ini aku cuma butuh doamu agar aku bisa segera bertemu pangeran nelayanku." Mata Lily berbinar menerawang entah kemana.
" Pasti aku doain lah Ly.. Ngomong-ngomong.. kenapa sih kamu baik banget sama aku?"
" Karena aku menyayangimu Mona. Kamu sudah ku anggap seperti adikku sendiri. meski sebenarnya usia kita tak terpaut jauh hehehe"
" Wah payah, Masak ya cuma beda 5 bulan aku udah di anggep adik kandung" Mona menjewer telinga sahabatnya itu.
"Ampun kanjeng Ratu."
Lily dan Mona tertawa terbahak.
"Sudah,,sudah,, nanti pak Sungkar marah" Ucap Lily.
Mereka mengehentikan aktifis mereka yang sedang bercanda.
" Ngomong-ngomong.. Kenapa ya Kak Mela sangat membenci Adik yang sangat baik seperti dirimu?"
Karena pertanyaan Mona, membuat Lily kembali mengingat memory tentang kakaknya yang memang terlihat sangat membencinya, meskipun sampai detik ini ia tak tahu di mana letak kesalahannya.
" Aku juga gak tahu Mona. Padahal aku sangat menyayanginya. Aku ingin makan bersamanya, tidur bersamanya, dan tertawa ataupun menangis bersamanya. Tapi sampai detik ini aku sama sekali tidak tahu kenapa Kak Mela sangat benci kepadaku." Bulir bening menetes dari mata bulat yang di miliki Lily.
" Sabar Ly.. Aku janji aku akan terus melakukan semua hal yang ingin kau lakukan dengan Kak Mela. Bukan bertujuan untuk mengganti posisinya di hatimu. Melainkan hanya agar sedikit menghibur laramu."
"Aahhhh Mona... kau memang yang terbaik."
BERSAMBUNG
.
.
.
.
.
Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.
Jangan lupa terus dukung aku !
Dengan cara Like, Coment, dan rate bintang 5.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa ngedukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤