My First Love Is My King

My First Love Is My King
BAB 38



“ Siapakah gerangan yang kau bawa kemari yang mulia Ratu ?” Ucap salah satu perdana menteri.


“ Dia adalah Steven Morlouis” Ratu tersenyum. “ Benar .! dia adalah orang yang ada dalam ramalan para cenayang-cenayang 28 tahun yang lalu.” Ratu menatap kepada Pangeran Arnold dan istrinya. “ Dia adalah calon Raja terbe sar dan terakhir.”


Ipen tercengang.


Bahkan , bukan hanya Ipen saja yang terkejut atas pernyataan yang di nyatakan Ratu di Negeri ini tapi semua orang yang ada di sana diam seribu bahasa. Pangeran Arnold dan istrinya cemas dan menelan ludah.


“ Ratu Felisha, apa bukti bahwa anak muda yang kau bawa ini adalah Steven Morlouis, anak kandung mendiang Raja Morlouis?” tanya salah satu perdana menteri yang lain.


“ Tuan Robert, tolong tunjukan bukti yang kau bawa kepada ketua penasehat negara! ” Perintah Ratu Felisha kepada Robert yang 28 tahun menerima titah dari Raja Morlouis.


Kemudian Robert memberikan selembar kertas yang telah usang kepada ketua penasehat. Hanya penasehat negara yang mampu membedakan dokumen asli atau palsu.


Beberapa menit berlalu untuk meneliti keaslian dokumen itu.


Dan...


“ Dengan ini, kami menyatakan bahwa dokumen ini ASLI!!.” Ucap penasehat negara di depan semua orang yang ada disana.


Ratu Felisha tersenyum.


Semua orang semakin tercengang tak percaya.


Ipen tetap saja diam seribu bahasa.


Keringat dingin bercucuran deras dari calon Raja yang tak jadi di angkat.


“ Karena keturunan asli dari Raja Morluois telah di temukan, maka penobatan untuk pangeran Arnold di BATALKAN!!!”


Namun pro dan kontra tetap terjadi.


“ Tidak mungkin !!!” Ucap Pangeran Arnold.


“ Bagaimana bisa anak muda yang tidak pernah memasuki istana dan tidak tahu soal seluk beluk kerajaan akan menjadi Raja selanjutnya. Apakah anak muda ini cukup kompeten ?”


“ Tenang saja, Robert telah mendidiknya menjadi pemuda yang pintar dan cukup kompeten. Namun semua keputusan akan kami serahkan sepenuhnya kepada penasehat Negara.” Ucap Ratu Felisha berhati-hati.


Setelah cukup lama para penasehat Negara merundingkan soal hal ini. Akhirnya keputusan itu keluar.


“ Kami telah mengambil kesimpulan yang telah di sepakati semua para penasehat negara di sini. Maka kami memutuskan bahwa takhta akan jatuh kepada Pangeran Steven Morlouis. Namun Pangeran masih perlu adaptasi di dalam istana, untuk itu kekuasaan masih di wakilkan oleh Tuan Ratu Felisha yang merupakan ibundanya sampai Pangeran Steven siap untuk menduduki singgasana. Sebelum itu Pangeran Steven harus menikahi putri dari Kerajaan yang telah banyak membantu Kerajaan ini. Agar kerjasama antar Kerajaan semakin solid.”


Begitulah pengumuman yang telah di sampaikan oleh ketua penasehat Negara.


Ratu Felisha menyetujuinya. Ipen mengangguk membalas senyuman Ratu Felisha padanya.


********


Ipen mulai merenggangkan baju yang sedari tadi melekat erat di tubuhnya.


“ Pangeran..!”


Ipen tak percaya. Ibunya yang selama ini merawatnya, baru kali ini memanggilnya dengan sebutan yang sangat asing di telinganya.


“ Ibu..!!! apa yang kau katakan barusan ? pangeran ? siapakah yang saat ini kau panggil pangeran ?”


“ Nak.. mungkin malam ini kali terakhir aku menganggapmu sebagai anakku. Setelah ini kau adalah Putra Mahkota dan calon Raja di Negeri ini.”


“ Gak!! Gak mungkin!!”


“ Nak..!! aku akan menceritakan asal-usulmu. Aku harap kau dapat menerima semuanya dengan bijaksana sama seperti ayah kandungmu Raja Morlouis. Besarkan dan lapangkanlah hatimu untukmu menerima semua ini ya anakku..!!” Ucap Robert dengan penuh kepiluan di hatinya.


Akhirnya Robert dan Diana mulai menceritakan tentang asal-usul Ipen yang kini bernamakan Putra Mahkota Steven Morluois.


BERSAMBUNG...