
Daun daun kering yang berjatuhan ke tanah saling bergesekan menciptakan suara gurih yang khas kala sepoi angin berhembus menimpanya. Sinar rembulan bagaikan lentera yang menggantung indah di atas langit yang gelap gulita. Tak lupa juga suara hewan malam saling sahut menyahut bagaikan melodi yang seirama. Lily dengan segala kecemasannya masih terjaga dan tak kunjung bisa memejamkan kedua matanya. Berkali-kali iya membolak balikkan badan mencari posisi yang pas agar ia bisa segera terlelap namun semuanya nihil. Malam yang semakin larut hanya menambah kegelisahan di hatinya.
Krreekkk.
Dengan perlahan Lily membuka pintu kamarnya dan berjalan mengendap-endap menuju salah satu kamar di lantai atas yang tak lain adalah kamar suaminya. Rasa kegundahannya pun semakin meningkat kala ia mengetahui bahwa kamar itu ternyata masih kosong, yang ia ingat saat terakhir kali melihat suaminya tadi pagi menangis dan berlutut di rumah Mona. Lily takut terjadi apa-apa dengan sahabat yang kini menjadi suaminya itu.
'Leon kamu dimana ? Aku takkan khawatir jika aku tahu kamu bersama Mona dan baik-baik saja. Aku hanya takut kamu masih duduk bersimpuh di depan rumah Mona atau kamu melakukan hal gila yang membuat dirimu dalam bahaya. Aku berharap kamu baik-baik saja Leon. Cepatlah kembali.'
Bibir Lily tak berhenti bergeming terus bertanya-tanya dan ribuan doa tak berhenti di panjatkannya untuk sang suami. Lily terus mondar mandir di dalam kamar suaminya sambil sesekali menggigit kukunya. Akhirnya Lily kelelahan dan tak sengaja ia tertidur di bangku meja rias milik Leon dengan meletakkan kepalanya di meja rias dan tubuhnya duduk di bangkunya.
******
Tak lama Lily memejamkan mata, tiba-tiba matahari kembali menyapa. Tak seperti pagi-pagi biasanya, suasana pagi ini terasa sangat sunyi karena Bibi Carlota si penguasa yang ngaku-ngaku, semalam pulang ke kampung karena memang 1 minggu ini adalah hari liburnya jadi pagi ini tidak ada yang heboh mencari Lily untuk menyuruh melakukan pekerjaan ini itu. Sedangkan Pak Zubair dan beberapa pengawal ada pekerjaan soal perdagangan di luar pulau.
Lily masih memejamkan matanya tanpa ia sadari bahwa matahari sudah mulai meninggi.
Kreeeekkk.
Suara pintu kamar Leon terbuka dan nampak Leon dengan terhuyung-huyung sangat lemah memasuki kamarnya. Antara sadar dan tidak Leon melihat gadis yang tertidur di meja riasnya lalu mendekatinya kemudian duduk tepat di sampingnya dan menatapnya dalam.
"Istriku... kamu adalah wanita tercantik yang pernah ku temui di dunia ini. Sifat baik dan ketulusanmu sama sekali tak pernah ada yang menandingi. Tapi... tapi kenapa kamu sama sekali tak bisa mencuri hatiku ?" Ucap Leon sambil menatap Lily dalam dengan jarak yang sangat dekat.
Lily kaget saat ada aroma alkohol yang berasal dari Leon menembus hidungnya.
"Leon?" Lily mengedip-ngedipkan matanya tak percaya dengan apa yang di lihatnya karena benar wajah Leon hanya berjarak 10 cm dari wajahnya dan Leon menatapnya sangat dalam.
"Leon kamu mabuk?" Lily mencoba menjaga jarak dan menghindarinya.
Tanpa sepatah kata pun tiba-tiba Leon memegang leher Lily dan mengarahkan wajah Lily lebih mendekati wajahnya kemudian mencium bibirnya dengan penuh hasrat. Mata Lily terbelalak karena terkejut setengah mati dengan apa yang di lakukan Leon. Lily berusaha menghindarinya namun apalah daya kekuatannya tak bisa melepaskan ia dari jeratan Leon yang saat ini mabuk dan di penuhi dengan hasrat yang menggebu kemudian Leon menyalurkan semuanya dengan sangat kasar ganas dan tanpa ampun. Lily menangis dan sekuat mungkin menahan rasa sakitnya namun tetap saja ia tak bisa berkutik dan hanya bisa pasrah dengan semua perlakuan Leon terhadapnya.
******
Sementara di halaman Aray menunggu Lily yang sudah berjanji akan menemuinya namun Lily tak kunjung datang sehingga membuat Aray penasaran dan bertekad mencari Lily di kamarnya.
Aray semakin gelisah ketika mengetahui kamar Lily sudah kosong dan Aray mulai mencari di setiap sudut rumah yang saat ini sangatlah sepi. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti kala mendengar suara decit ranjang dari kamar Leon, dengan perlahan Aray mendekatkan telinganya ke tembok kamar itu dan sayu sayu terdengar suara Lily menahan tangis dan teriakannya.
Deg.
Entah kenapa ada rasa sakit yang menusuk hati Aray yang tak sengaja mengetahui hal ini. Ia merasakan hatinya telah patah menjadi kepingan kepingan yang tak bisa di satukan kembali.
******
******
******
Sore hari menjelang malam menyapa.
"Bibi!!!!!!" teriak Leon.
Leon mulai terbangun dari tidurnya dan merasakan kepalanya sangat sakit dan berat.
'Mungkin ini efek mabuk.'
Ia berusaha memanggil salah satu pelayannya untuk mengambilkannya air minum.
"Bibi Carlota!!! Mbak Rina !!! tolong ambilkan aku minum" Teriak Leon.
Leon berusaha duduk dan membuka selimutnya, dia terkejut saat melihat tubuhnya sudah tanpa busana. Leon semakin terkejut saat melihat ada banyak darah di atas spreinya yang berwarna putih bersih itu tiba-tiba Leon merasa lemas dan berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ia tertidur.
Tok... tok.. tok...
"Tuan ini segelas air minumnya" Suara mbak Rina terdengar dari balik pintu.
"Tidak usah mbak!!! Aku tidak jadi haus, biar nanti aku ambil sendiri."
Leon tak ingin Rina masuk dan lebih terkejut dari pada dia saat melihat semua ini.
Tiba-tiba ada bayangan gadis cantik muncul dalam bayangannya.
"Lily? Iya benar itu Lily. Apakah aku bertengkar dengannya? apakah aku melukainya hingga darahnya banyak bececeran seperti ini?"
Leon sama sekali tidak tahu bahwa darah itu berasal dari darah suci Lily karena memang ini adalah pertama juga bagi Leon melakukan hal seperti itu. Gadis yang gonta-ganti ia bawa ke kamar hanyalah sebagai drama (pura-pura) agar Lily sakit hati dan membencinya karena sesungguhnya Leon tak benar-benar kasar dan membenci Lily.
Lalu perintah dari mana Lily di tempatkan di ruangan yang lebih pantas di sebut gudang?.
Leon sangat penasaran dengan apa yang terjadi namun ia malu jika harus bertanya langsung kepada Lily.
"Ehemmm.. Mbak Rina!"
"Iya tuan Leon ada apa ?"
"Apakah kamu tadi siang mendengarku bertengkar dengan seseorang ?"
" Tidak Tuan. Aku tidak mendengar suara apa-apa."
"Apakah kamu melihat Lily ?"
"Iya Tuan. Dia ada di kamarnya."
"Apakah kamu lihat badannya terluka dan berdarah?"
"Tidak tuan. Nyonya Lily baik-baik saja"
Hffttt syukurlah kalau begitu, Lalu itu darah siapa ?. Gumam Leon dalam hati.
BERSAMBUNG dulu yaaa... 😁😁😁
.
.
.
.
.Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.
Jangan lupa terus dukung aku !
Dengan cara Like, komen sebanyak-sebanyaknya, rate bintang 5 dan Ajak teman-teman atau saudara kalian ikut menikmati novel ini juga.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa mendukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤