My First Love Is My King

My First Love Is My King
BAB 54



"Lalu kenapa kau berakhir menikahi gadis bodoh itu?" Ucap wanita dari dalam kamar mandi yang tak pernah Lily tau itu siapa.


"Dia tidak bodoh sayang. Dia hanya polos. Atau mungkin juga sudah naik 1 tingkat menjadi lebih bodoh hahahahahahaa"


Suara lelaki itu sangat Lily kenal yang tak lain adalah suara Leon, suaminya.


"Kenapa kau lebih memilih tidur denganku? bukankah istrimu jauh lebih cantik di banding aku."


"Entahlah aku hanya jijik saat melihatnya aku melihat kebodohanku."


Mereka terus tertawa dan menyudutkan Lily.


Lily diam terpaku mendengar semua itu. Air matanya mengalir semakin deras.


Tak lama Lily termenung bersama suara senda gurau sepasang kekasih dari kamar mandi di tengah kamar mewah yang seharusnya menjadi miliknya itu. Ia segera menghapus air matanya dan melanjutkan pekerjaannya dengan sangat cepat lalu keluar dari kamar yang terasa panas menyengat itu.


Ting..tong..ting..tong..


Terdengar suara bell di rumah besar itu berbunyi..


"Lily!!!! Ini cepat kau ganti baju."


Bibi carlota yang merupakan kepala pembantu di rumah itu menyodorkan sehelai pakaian dan menyuruh Lily mengganti pakaiannya. Lily masih terheran heran dengan sikap Bibi yang tiba-tiba memberinya pakaian yang bagus lagi.


"Udah cepat ganti baju. Orang tuamu yang tak tahu malu itu datang!"


Lily tersenyum dan ingin segera berlari menemui mereka. Namun Bibi menahannya dan mengharuskannya ganti baju terlebih dahulu.


'Untuk apa aku harus berganti baju untuk menemui orang tua ku sendiri?' Tanya Lily dalam hati.


*******


"Mari silahkan masuk Bu Lisa dan Pak Chandra !!" Ucap Rina salah satu pembantu di rumah itu yang membukakan pintu untuk orang tua Lily.


Nampak senyum lebar dan mata yang berbinar di wajah mereka. Mereka memasuki dan menuju ruang tamu di pandu oleh Rina.


"Silahkan duduk di sini Pak, Bu !! Mohon tunggu sebentar Nyonya Lily sedang berganti pakaian. Pak Chandra dan Bu Lisa mau minum apa?"


"Baik Mbak. Apa aja yang penting seger."


Rina pun pergi masuk ke dapur.


"Ibuu....!!!! Bapak...!!!" Teriak Lily yang sudah terlihat sangat rapi dan cantik dengan dress berwarna jingga. Lalu berlari memeluk mereka.


"Loh loh kok malah nangis." Tanya Bu Lisa yang menyadari bahwa anaknya itu menangis di pelukannya.


"Haduh baru juga beberapa hari tidak ketemu lah kok sudah mewek anak bapak yang cantik ini."


"Aku kangen sama kalian. Aku ingin pulang."


"Gak boleh gitu Nak. Kamu di sini punya tanggung jawab mengurus suamimu." Bu Lisa mengelus ngelus punggung anaknya. "Ibu bahagia Nak. Ibu gak nyangka apa yang menjadi mimpi ibu selama ini menjadi kenyataan dan kamu bisa menikah dengan orang yang kau cintai."


'Orang yang ku cintai? Siapa maksut ibu dengan orang yang ku cintai.' Gumam Lily dalam hati.


"Untung Bapak waktu itu menerjang hutan dan malam buat ketemu Leon. Coba tidak semuanya akan terlambat. Memang cintamu dan Leon sangat kuat Nak. Tak bisa di pisahkan." Jelas Pak Chandra dengan bangga.


'Jadi begitu ceritanya kenapa Leon datang tiba-tiba... dan... yasudahlah... jadi Bapak dan Ibu salah paham dengan kedekatanku dan Leon.' Ucap Lily dalam hati.


"Ngomong-ngomong di mana suamimu Nak?" Tanya Bu Lisa sambil celingak celinguk ke kanan kiri.


Deg.


Lily teringat kejadian yang di alaminya tadi pagi dan membuatnya salah tingkah.


"Emm... Anu Bu.. Leon sedang tidur."


Lily berbohong. Ada rasa cemas di benak Lily takut orang tuanya mengetahui apa yang Leon lakukan tadi pagi.


"Ya sudah Nak kalau tidur. Tidak usah di bangunkan!"


"Pak Zubair mertuamu kemana Ly?" Tanya Pak Chandra.


"Seperti biasa jam segini Pak Zubair ke kebun sawit Pak, mengontrol para pekerja."


"Beruntunganya kamu anakku"


Terasa miris di hati Lily mendengar bahwa orang tuanya bahagia karena dikiranya Lily hidup bahagia. Lily tak sanggup membayangkan bagaimana jika sampai orang tua Lily tau apa yang sebenarnya menimpa anak bungsunya itu.


"Oh iya ini Ibu bawakan Ayam kari kesukaanmu."


"Ih Bapak nih tidak menghargai buatan seorang Ibu untuk putrinya."


"Sudah.. Pak Buk.. Aku sangat rindu masakan Ibu. Aku akan memakannya dengan lahap karena masakan Ibu memang yang terbaik."


Lily menerima 1 kotak berisi ayam kari buatan ibu tercintanya itu.


"Kalau begitu ibu dan bapak pamit pulang ya Nak. Salam untuk suamimu."


"Baik Pak Buk. Aku akan menyampaikannya!!"


Lily mengantar orang tuanya pulang sampai di depan rumah. Ada rasa berat saat di tinggal dua orang tua terkasihnya di tempat tinggal neraka yang berwajah istana baginya. Dengan sangat lemas ia mulai memasuki neraka itu lagi.


" Wah ini enak sekali."


Lily kaget hingga matanya hampir melotot melihat Bibi Carlota memakan Ayam kari buatan ibunya yang ia letakkan di atas meja barusan.


"Bi.. Kenapa kamu memakan makanan itu? Lancang sekali kamu!!! Apa tidak cukup kah bagimu memberikan ku makanan sisa para pembantu dan kini kau memakan makanan buatan ibuku?!!!" Lily geram terhadap Bibi Carlota.


Mata Bibi Carlota melotot dan hendak membalas ucapan Lily namun tiba tiba.


"Ada apa ini ribut-ribut ?"


Leon datang bersama wanita asing menghampiri mereka.


"Begini Tuan. Aku tidak sengaja mencicipi makanan di atas meja ini. Aku kira ini milik Pak Zubair dan ternyata Nyonya muda marah besar terhadap ku karena mencicipi masakan Ibunya."


"Jadi ini penyebab keributannya?" Leon menatap wadah berisi ayam kari itu.


Ccctaaaarrrrrrr....


Tiba-tiba Leon membuangnya ke lantai. Lily kaget setengah mati dengan apa yang Leon lakukan.


"Sudah berasa jadi Ratu ya kamu. Hal sesepele ini saja kamu ributkan."


Deg.


Kata-kata itu bagaikan belati tajam yang mengiris-iris hati Lily namun Lily tidak mampu melawan mengingat Leon telah banyak mengorbankan segalanya.


"Maaf ya Sayang... Kamu jadi menyaksikan hal ini." Leon meminta maaf kepada wanita asing di sebelahnya.


Wanita itu tersenyum manja.


"Yaudah yuk mari aku antar kau pulang." Ajak Leon kepada wanita itu.


"Oh iya Bi. Bibi tidak usah takut sama gadis ini lagi jika dia semena-menanya sendiri." Pesan Leon kepada Bibi Carlota sebelum pergi meninggalkan rumah.


Leon pun pergi dengan Nindi yang menggandeng tangannya manja.


Tes...


Tes...


Tes...


Air mata Lily menetes lagi entah sudah kesekian kalinya untuk hari ini.


BERSAMBUNG...


.


.


.


.


Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.


Jangan lupa terus dukung aku !


Dengan cara Like, Coment, dan rate bintang 5.


Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa mendukung kalian juga.


Sayangheee dari Author. ❤