
Hanya kosong dan kehampa'an yang saat ini Steven rasakan. Padahal ia tinggal dalam Istana yang sangat besar,indah, dan megah. Segala kebutuhannya terpenuhi tanpa ada yang kurang sedikitpun. Sesekali ia bercermin dan melihat seseorang yang sangat asing baginya.
Setelan berbahan sutera kualitas terbaik kini selalu melekat pada tubuhnya.
" Tidak. Ini bukan aku. Aku rindu orang memanggilku Ipen. " Ucapnya pada dirinya sendiri.
Setiap hari ia di kelilingi oleh orang-orang yang tak di kenalinya. Jangankan untuk keluar dari istana, untuk menemui orang tua yang selama ini telah merawat dan membesarkannya penuh kasih sayang adalah hal yang tak mudah di lakukan baginya. Semua yang ia lakukan harus sesuai rencana dan dia tak bisa melakukan hal apapun atas kehendaknya sendiri.
Istana semakin ketat, bukan hanya untuk Steven tapi untuk semua yang tinggal di istana. Semenjak skandal Raja Morlouis saat menikah dengan wanita miskin ketika masih menjadi Putra Mahkota. Sejak saat itu Raja Pedro mencatatnya dalam buku hukum istana dan mematenkannya agar tidak siapapun dapat melanggarnya.
" Pangeran Steven! Ratu Felisha datang berkunjung" Suara pelayan wanita itu memecah lamunannya.
" Baiklah, Suruh ia masuk!"
Tap..tap..tap
Suara hentakan kaki yang sangat anggun memasuki ruangan kamar Pangeran Steven.
" Ada apakah gerangan Ibunda datang kemari ?" Tanya Pangeran Steven sambil menundukkan pandangannya.
Kemudian Ratu Felisha duduk di kursi yang tak jauh dari tempat Steven berdiri.
" Pangeran! usiamu sudah sangat matang. Sudah saatnya untuk kamu memilih calon istri untuk kamu nikahi."
" Aku sudah punya calon sendiri Ibunda. Aku sangat mencintai gadis itu. Bolehkah aku membawanya kemari untuk aku nikahi ? aku sudah berjanji akan menikahinya." Jawab Pangeran Steven.
" Bukan begitu Anakku. Ini adalah pernikahan Istana. Yang bukan berarti ini hanya soal cinta. Pernikahan ini adalah soal politik agar kerja sama semakin baik. Ini bukan demi kamu ataupun aku Nak!. Tapi ini demi Negeri ini."
Steven terdiam.
" Saat ini ada 3 kerajaan yang benar-benar loyal banyak membantu kerajaan kita selama 10 tahun terakhir ini. Mereka memiliki Putri-putri yang cantik jelita. Putri-putri mereka nantinya akan menjadi kandidat yang akan kau pilih untuk kau nikahi. Proses pemilihan Putri akan di laksanakan secara adil dan bertahap."
Bagitulah kurang lebihnya Ratu Felisha menjelaskan Kepada Pangeran Steven soal pernikahan dan proses pemilihan Putri.
Setelah itu Ratu Felisha beranjak pergi dari kamar Pangeran Steven.
' Hal konyol macam apa ini ? aku di seret paksa kesini. Saat itu juga kehidupanku berubah drastis. Bukan hanya hidupku, namaku juga berubah. Dalam waktu 1 malam aku sudah berpredikat sebagai Putra Mahkota di Negeri ini. Dan saat ini aku harus menikahi seseorang yang tak ku kenal dan tak ku cintai atas nama Negeri.
Bagaimana Lily yang saat ini sedang menantiku kembali??
Tidak.. Tidak.. Ini tidak bisa di biarkan.
Aku harus kabur dari sini.
Lalu..
Dimana Ibu dan Bapak berada saat ini?
Lily.. bersabarlah.. Aku akan keluar dari penjara neraka ini. Aku akan segera menemuimu dan menikahimu.' Ucap Steven menggerutu sendiri.
Keseharian Steven hanya berdiam diri di kamar Setelah mengikuti kelas kerajaan. Saat keluar dari kamarnya perlahan-lahan ia mengahafal rute jalan keluar istana serta gerak gerik para penjaga untuk bekal ia yang akan berusaha kabur.
Setelah beberapa hari meneliti akhirnya tibalah saat untuk ia memulai aksinya.
Tok..tok..tok..
Suara pelayan pria mengetuk pintu. Soal pelayan Pangeran Steven meminta ijin kepada Ibundanya yang tak lain ialah Ratu Felisha, untuk mengganti beberapa pelayan wanita di ganti dengan pelayan pria. Dan Ratu Felisha menyetujuinya.
" Pangeran Steven, makan malam anda sudah siap."
" Silahkan masuk Pelayan."
Kemudian pelayan itu masuk membawa 1 talam berisi beberapa makanan. Tanpa sepengetahuan pelayan itu, Pangeran Steven menaburkan serbuk ke dalam minuman teh bunga agar siapapun yang meminumnya tertidur.
Sudah menjadi peraturan di istana bahwa semua makanan dan minuman Pangeran harus di incipi oleh pelayannya. Saat pelayan itu meneguk teh bunga itu, perlahan-lahan ia sangat mengantuk berat dan akhirnya tertidur.
Pangeran Steven segera menukar baju yang ia pakai dengan baju yang di pakai pelayannya. Kemudian Pangeran Steven membaringkan pelayan yang tertidur itu di atas ranjangnya.
Dengan berpakaian pelayan, Pangeran Steven mengendap-endap bermaksud keluar dari istana.
" Pangeran sudah tidur. Ia tak ingin ada yang mengganggunya. Jangan terima tamu siapapun itu ya." Jelas Steven kepada pelayan wanitanya yang ada di luar kamar saat menyamar sebagai pelayan.
Di sisi lain Ratu Felisha meminta tolong kepada Robert untuk membujuk anaknya agar memahami situasi dan kondisi di istana. Terutama soal pernikahan istana itu.
Robert mengajak istrinya Diana untuk menemui Pangeran Steven yang merupakan anak yang selama ini mereka anggap sebagai anak mereka sendiri.
" Mohon maaf Tuan, untuk saat ini Pangeran Steven sudah tertidur dan tidak ingin menemui tamu siapapun itu."
Robert dan Diana merasa ada yang janggal.
" Tapi kami di perintah Ratu Felisha untuk menemui Pangeran Steven." Jelas Robert.
Setelah adu mulut lumayan lama akhirnya Robert dan Diana di persilahkan untuk masuk.
Saat memasuki kamar itu terlihat Pangeran Steven sudah tertidur lelap membelakangi mereka.
Diana mencoba mendekat ingin memandang wajah putranya yang telah berbulan-bulan tak bertemu.
Namun alangkah kagetnya mereka setelah menyadari bahwa wajah yang mereka tatap saat ini bukanlah wajah Pangeran Steven melainkan wajah pelayannya.
" Ibu tunggu di sini dan memastikan tidak ada satu orangpun yang masuk ke sini."
" Bapak mau kemana ?"
" Aku akan mencari Pangeran Steven. Sepertinya ia belum terlalu jauh dari sini."
"Baik pak. Hati-hati ya pak."
Robert segera keluar dan mengendap-endap mencari Pangeran Steven yang menyamar sebagai pelayan.
Akhirnya ia menangkap sesosok postur tubuh yang sangat ia kenal. Kemudian menariknya ke dalam ruangan kosong.
"Bb..bb..bapak ??" Pangeran Steven tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Sssttt!!! Jangan berisik"
" Aku sangat merindukan Bapak , Ibu dan Lily. Aku tidak betah jika harus tinggal di sini pak."
" Kembalilah ke kamarmu Pangeran! karena keberadaanmu dengan menyamar seperti ini akan membahayakan orang-orang yang ada di sekitarmu."
Meskipun Robert telah mengambil siasat dengan sangat cepat namun salah satu perdana menteri mengetahui bahwa salah satu pelayan pria telah lancang tidur di tempat tidur Pangeran.
Keesokan harinya..
Semua orang berbondong-bondong ke lapangan siksaan menyaksikan hukuman yang di berikan kepada pelayan itu.
Pangeran Steven sengaja di turut sertakan dalam acara hukuman itu agar ia mengetahui sekejam apa istana itu.
" Pangeran Steven, Hukuman apa yang sekiranya pantas untuk pria selancang ini ?"
Pangeran Steven terdiam. Dan terngiang kembali ucapan Robert semalam.
' Jika esok pelayan yang sengaja kau tidurkan di atas ranjangmu itu di hukum jangan sekalipun kau membelanya. Biarkan perdana menteri menghukumnya agar tak menaruh curiga padamu.'
" Kuserahkan hukumannya kepadamu perdana menteri pertahanan" Ucap Steven sambil berlalu dari tempat yang tragis itu.
Perdana Menteri peratahanan itu pun tersenyum sinis.
BERSAMBUNG...
.
.
.
.
Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.
Jangan lupa terus dukung aku !
Dengan cara Like, Coment, dan rate bintang 5.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa mendukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤