
Pagi-pagi buta, Ipen dan keluarganya berangkat ke kota dengan mengendarai kereta kuda.
Ipen tak membawa banyak barang karena ia berfikir hanya beberapa hari di sana dan segera pulang.
Robert juga belum bercerita apa-apa soal Ipen. Dia masih kebingungan harus mulai menjelaskannya dari mana.
Sanggupkah Ipen mendengarnya ??
Sanggupkah Ipen menerima semua kenyataan yang ada ??
Setelah sampai di kota. Ipen sekeluarga menuju tempat yang di katakan oleh Ratu Felisha yaitu Balai perpustakaan Cahaya Langit. Di dalam balai itu sudah di sediakan ruangan khusus untuk mereka tinggali. Mereka tidak di ijinkan melangkahkan kaki keluar dari balai tersebut.
" Pak..!!" Seru Ipen.
" Iya Pen ??"
" Kenapa kita tidak boleh keluar dari Balai ini Pak ? Ipen bosan ada di dalam sini."
" Di luar sangat berbahaya untuk kita Nak.! Kamu bisa menghabiskan banyak waktu di sini dengan membaca buku."
" Kapan kita akan pulang Pak ?? Aku rindu sama Lily."
" Weleh.. weleh.. dasar anak muda!. Baru juga berapa hari udah ngerengek aja."
Tiba-tiba Diana menarik lengan suaminya menjauh dari Ipen.
" Pak..!!! Jujur, katakan!!. Sebenarnya untuk apa kita sekeluarga jauh-jauh kemari ??"
" Ehemmm"
Robert mengeluarkan benda tipis dari balik bajunya dan memberikannya kepada Diana.
Diana mulai membaca kata tiap kata surat yang ada di tangannya itu. Surat itu adalah Surat perintah Ratu Felisha.
Diana sangat terkejud, entah apa yang di rasakannya. Semua kegelisahan, kecemasan, ketakutan, tumpah jadi satu.
" Tidak bisa Bu.. Kita harus mengembalikan Ipen ke tempat asalnya. Demi Negeri ini Buk. Kalau tidak maka Raja Bengis yang akan duduk di takhta nomor 1 itu. Rakyat kecil yang akan tertindas Buk."
Dengan berat hati Diana menyetujui pilihan Suaminya. Memang kenyataan, bahwa mereka di amanahi untuk merawat Ipen dengan baik agar suatu saat bisa mengembalikan posisinya. Dan saat itu akhirnya tiba..
******
Malam hari Ipen tak bisa tidur dengan nyenyak karena merindukan gadis yang ia cintai itu.
Tiba-tiba Diana datang menghampiri anak angkatnya itu.
" Ipen kenapa belum juga tidur ?"
" Ipen memikirkan Lily bu..! Kapan kita pulang Bu ??"
Diana terdiam.
" Ipen gak sabar untuk pulang Bu. Banyak hal yang ingin aku lakukan bersama Lily. Ipen juga sudah punya banyak tabungan untuk melamar Lily." Ipen tersenyum.
" Hal pertama yang akan aku lakukan setelah pulang ialah memberi kejutan untuk Lily dengan datang ke rumahnya. Setelah itu Lily akan mengajakku berkeliling desanya dan mengenalkanku pada teman-temannya. Sungguh aku tak sabar untuk itu Bu."
Mendengar apa yang Ipen khayalkan membuat Diana terdiam dan menangis.
" Nak.. kamu sudah dewasa, tak perlu kekanakan seperti itu."
" Loh.. Ibu ini gimana sih ?. Dulu pas aku gak bisa jatuh cinta malah di paksa-paksa buat nyari kekasih. Eehh sekarang aku malah di bilang kekanakan. Hhhhffttt.."
" Nak..!! Kini ada beban yang sangat besar tertumpu di pundakmu. Hidupmu kini bukan soal cinta dan rindu lagi. Tapi kini meliputi kesejahteraan nyawa orang banyak di Negeri ini. Jadilah bijaksana nak..!!"
Ipen terdiam tak kebingungan. Dia benar-benar sulit mencerna kata-kata yang Ibunya katakan.
BERSAMBUNG...