
Di malam yang dingin, Lily menangis meratapi jalan takdirnya dengan berselimut dingin yang menusuk. Dia tidak tahu harus memulai hari esok seperti apa.
Bagaimana ia harus menghadapi Leon yang sekarang menjadi suami sahnya?
Bagaimana ia menghadapi Mona dan Ibunya yang melambungkan semua harapannya pada Leon ?
Bisa kah mereka memahami posisi Lily ?
Atau malah mereka membenci dan menyalahkan Lily?
Telah banyak orang yang mengorbankan masa depannya hanya demi menyelamatkan Lily dari garis hidup yang tak memihaknya.
Tanpa terasa matahari mulai tersenyum dan menyapa bumi kembali. Lily yang baru saja memejamkan matanya kini harus memaksanya untuk terbuka kembali kala sinar matahari telah menerobos masuk kedalam celah jendela di kamarnya. Dia menoleh ke arah Leon, yaa... Leon masih tertidur membelakanginya dengan baju setelan yang masih lengkap dengan sepatu dan kaos kakinya. Lily menatapnya iba, demi dirinya Leon harus mengorbankan masa depan dan semua mimpinya bersama Mona.
"Maafkan aku" Ucapnya lirih.
Setelah membereskan tempat ia semalam tidur dan seluruh kamar, Lily pergi mandi di kamar mandi dalam kamarnya. Kemudian ia mendekati Leon untuk mencoba membuka alas kaki yang melekat di kaki Leon.
Brukkk..
Lily terjatuh oleh tendangan Leon.
"Jangan sentuh aku!" Ucap Leon dingin dengan mata yang masih terpejam.
Deg.
Lily sangat terkejut dengan perlakuan sahabat yang selama ini sangat manis padanya.
Tok..tok..tok..
"Nyonya muda.. Ini aku bawakan satu setel baju untukmu." Suara pelayan terdengar dari luar pintu.
Lily beranjak bangun sambil mengusap air matanya.
"Iya bi.."
Krekkk.
Lily membuka pintu kamarnya dan di dapatinya pelayan itu membawa nampan berisi 1 setel pakaian berwarna abu-abu untuknya.
" Ini nyonya 1 setel baju untuk nyonya."
"Tapi aku udah ganti baju bi."
"Di pakai saja apa yang telah di sediakan rumah ini nyonya."
Lily menerima nampan itu.
"Kalau sudah berganti pakaian, nyonya dan tuan muda ditunggu Tuan Zubair di meja makan."
"Baik bi. Terimakasih banyak yaa."
Bibi itu tersenyum sembari memutar balik badannya lalu pergi. Lily kembali masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian.
Kreekkk....
Lily lupa mengunci pintu kamar mandinya.
"Aaaaaaaaa" Teriak Lily.
Pipi Lily merona merah dan tangannya berusaha menutupi apa saja yang bisa ia tutupi.
Leon yang baru setengah sadar juga ikut kaget mendengar teriakan Lily dan menutup pintu kembali kamar mandi yang barusan ia buka.
Leon duduk di tepi tempat tidur dan masih tak percaya dengan apa yang sekilas ia lihat. Namun ia berusaha sekuat mungkin untuk melupakan apa yang ia lihat barusan. Meskipun sudah sah sah saja bagi mereka yang saat ini sudah berstatus sebagai suami istri.
Lily keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih tertunduk malu.
"Harusnya kau mengunci pintunya!" Ujar Leon tanpa menatapnya.
"Maafkan aku! Aku tidak tahu cara menguncinya. Di rumahku kamar mandinya hanya bertutup tirai dan tak semewah ini."
Leon masih tak mau menatap Lily.
"Ayah mu mengajak kita sarapan."
Leon masuk kamar mandi dan bersiap tanpa menjawab ucapan Lily . Namun Lily tetap menunggunya.
Setelah Leon merapikan diri mereka bersama-sama menuruni anak tangga menuju ruang makan yang ada di ruang tengah dalam rumah itu.
Di sana sudah ada Pak Zubair yang menunggu kedatangan mereka dan beberapa makanan yang sudah siap tertata rapi di atas meja.
Leon menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Lily duduk dengan tersenyum. Lily membalas senyumannya.Kemudian Leon duduk di samping istrinya itu.Pak Zubair menelan ludah salah tingkah melihat mereka berdua.
Acara sarapan berjalan hening tanpa ada sepatah katapun yang keluar dr mulut mereka. Setelah sarapan Leon dan Lily beranjak pergi.
"Leon!"
Leon menoleh ke arah Pak Zubair yang memanggilnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu."
Leon sudah bisa menduga dengan apa yang akan di bahas oleh ayahnya itu maka dari itu ia selalu berusaha untuk menghindarinya.
"Maaf Yah. Ada hal yang harus aku lakukan dengan istriku."
"Tidak usah banyak alasan!" Ucap Pak Zubair agak meninggi membuat Lily tersentak kaget.
"Istriku.. Silahkan kamu ke atas dulu, aku akan menyusulmu nanti." Ucap Leon pura-pura manis.
"Ehemmm"
"Ada apa yah ?"
"Kenapa kau pulang dan justru menikahi Lily calon istri ayah. Bukannya kamu menyetujui ayah untuk menikah lagi. Lalu bagaimana dengan ujianmu dan masa depanmu? Lalu bagaimana dengan gadis yang kau cintai itu. Hah ?!!!!"
"Hanya itu yang mampu menghentikan pernikahan konyol Ayah. Aku harus terpaksa mengorbankan semuanya."
"Siapa yang memberitahumu? Pasti orang tua gadis sialan itu!"
"Ayah juga sama sialannya."
Leon memutar badannya hendak pergi dari ayahnya.
"Kalau begitu mulai nanti malam biarkan gadis bodoh itu tidur di kamar pembantu!"
"Lakukan teserah apa yang ingin Ayah lakukan!!"
Leon melanjutkan langkah kakinya dan pergi.
*******
Sore harinya, Lily keluar dari rumah itu memakai gaun abu dan selendang yang memukau.
"Bi tidak bisakah aku memakai pakaian yang biasa ku pakai saat keluar rumah? Aku merasa tidak nyaman dengan pakaian mewah ini."
"Nyonya muda menurut saja dan memakai apa yang telah disediakan. Pak Zubair sangat menjaga harga diri dan martabatnya di depan semua orang maka dari itu pakaian anda pun harus terjaga saat keluar rumah karena mencerminkan perlakuan keluarga Pak Zubair terhadap anda."
"Aku ingin ke rumah temanku Bi. Apakah aku harus di kawal ?"
Lily melirik Pria gagah berseragam yang tak ia kenal itu.
"Iya Nyonya. Wajib bagi anda kemanapun harus di kawal."
Lily pasrah dengan apa yang menjadi peraturan di rumah itu. Bersama pengawalnya Lily menuju rumah sahabatnya Mona.
Akhirnya Lily sampai di depan rumah tua yang tak lain merupakan rumah sahabatnya.
Tok..Tok..Tok..
Lily mengetuk pintu rumah tua itu.
Tiba-tiba pintu itu dibuka oleh seseorang yang tak lain adalah sahabatnya sendiri yaitu Mona.
"Untuk apa kamu kemari? " sapaan Mona Ketus terhadap Lily.
"Mona Bagaimana kabarmu?"
" Menurutmu bagaimana Apakah aku terlihat baik-baik saja Setelah Kau menghancurkan segalanya."
" Maafkan aku Mona itu semua bukan kehendakku"
"KehendakMu atau bukan yang jelas saat ini masa depanku dan ibuku hancur dan kacau hanya karena kamu gadis pembawa sial. Oh mungkin sekarang bukan pembawa sial lagi karena hidupmu sudah bergelimang harta bagaikan Cinderella."
Kata-kata Mona terus menghunus jantungnya. Ia tak menyangka bahwa orang yang ia sayangi seperti adik sendiri sekarang meremukkan jantungnya dengan kata-kata kasarnya namun ia masih sangat memahami kenapa Mona sampai setega itu karena semakin kasar kata-kata Mona semakin besar rasa sakit hatinya, begitulah Lily mengenal sahabatnya itu.
"Tidak usah pura-pura menangis Lily. Aku nggak menyangka orang yang selama ini aku kira tulus padaku ternyata menusuk ku dari belakang"
"Maafkan aku Mona semua ini tak seperti yang kau pikirkan pikirkan"
Lily masih mencoba menjelaskan semuanya dan berharap Mona mampu memahami dan tak merusak hubungan persahabatan mereka.
"Lalu seperti apalagi ini pernyataan yang kamu tidak menolak saat Leon menikahimu. Padahal kamu tahu bahwa Leon kekasihku dan dia melakukan semua itu demi melindungi gadis bodoh seperti dirimu dan Kamu menerimanya Mumpung Ada Kesempatan yaa??!!!!"
Lily menggeleng gelengkan kepala sambil terus menangis tak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Lily benar-benar di buat tak bisa berbicara sepatah katapun di depan sahabatnya itu.
"Sekarang kau pergi dari sini!!! Enyah kau dari hidupku!!! aku membencimu sangat sangat membencimu!!!"
Mona mendorong Lily dan menutup pintu dengan sangat keras, membiarkan Lily yang masih terpaku dan menangis di depan rumahnya.
Dibalik pintu Mona pun menangis, matanya yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar denga sangat deras. Sebenarnya sangat berat bagi Mona mengatakan hal-hal sekasar itu namun bagaimana lagi jika kondisi hati Mona saat ini sedang kacau dan hancur.
.
.
.
BERSAMBUNG..
.
.
.
.
Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.
Jangan lupa terus dukung aku !
Dengan cara Like, Coment, dan rate bintang 5.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa mendukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤