
Di rumah Tabib.
"Tabib! apa yang terjadi pada Nyonya kenapa ia tak kunjung membuka matanya?" Tanya Aray dengan penuh kegelisahan.
"Tidak ada yang serius dengan majikanmu anak muda. Ia hanya kelelahan dan butuh waktu yang agak lama untuk tidur."
Seolah tak puas dengan jawaban tabib itu, Aray kembali menebak nebak apa yang terjadi terhadap Lily. Dan tak henti hentinya Aray mengutuk Leon dan Bibi Carlota yang telah banyak menyiksanya.
"Lily cepatlah kau membuka matamu! Mari kita hadapi semua bersama!" Ucap Aray menatap Lily nanar.
Tepat di hari ketiga Lily mulai membuka matanya.
"Aray?" Suara Lily terdengar parau.
Aray yang tertidur di samping ranjangnya sontak terbangun mendengar suara gadis yang ia tunggu tunggu.
"Lily! Kamu barusan bangun?"
"Hemm"
"Apa masih ada yang sakit? Coba katakan?"
"Tidak ada Aray. Hanya saja aku masih sangat lemah. Aku sulit menggerakkan badanku."
"Baiklah aku akan segera memanggil tabib untukmu."
******
Sudah 1 minggu Lily di rawat di rumah Tabib dan Leon sangat khawatir dengan keadaannya. Setiap hari Leon memerintah salah satu pegawainya agar melihat keadaan Lily setiap hari karena dia masih tak sanggup melihat Lily sendiri karena semua rasa bersalahnya.
Hari pertama.
"Nyonya muda masih dalam keadaan koma Tuan."
Hari kedua.
"Keadaannya semakin membaik namun Nyonya masih belum sadar."
Hari ketiga.
"Nyonya sudah mulai sadar Tuan, akan tetapi dia belum bisa turun dari tempat tidurnya."
Hari keempat.
"Hari ini Nyonya mulai pulih dan bisa berjalan meski dengan bantuan dari Aray."
Dan Hari ketujuh.
Leon dengan gusar menanti kedatangan Lily setiap hari namun Lily tak kunjung datang.
"Lily sudah sadar sejak hari ketiga di rawat kenapa ia tak kunjung datang ?" Ucapnya sendiri.
Leon segera lari keluar saat mendengar suara kaki kuda yang berhenti tepat di depan rumahnya. Leon terkejut saat melihat Aray datang sendirian tanpa Lily.
"Aray, kenapa kau datang sendiri ? Mana Lily ?"
"Mohon maaf Tuan Leon, Nyonya Lily ingin menginap di rumah orang tuanya maka dari itu aku mengantarnya kesana." Ucap Aray "Dan satu lagi aku takkan membiarkanmu atau Bibi Carlota menyakitinya lagi walau hanya seujung kuku karena aku mencintainya." Lanjut Aray tatapan mata yang sangat tegas sambil berlalu pergi meninggalkan Leon.
Deg.
Seperti ada yang tesambar petir tapi bukan pohon.
Leon membisu seribu bahasa mendengar apa yang di katakan pengawal istrinya barusan.
******
Di rumah orang tua Lily.
Di rumah gubuk nan sederhana itu terlihat Bu Lisa dan Pak Chandra sedang bersantai setelah sarapan pagi. Bu Lisa sedang membuatkan teh untuk suami tercintanya itu.
"Ini Pak tehnya" Ucap Bu Lisa sambil menyodorkan teh yang baru saja ia buat untuk suaminya.
"Terimakasih bu."
"Bagaimana kabar Mela ya Pak? sudah bertahun-tahun tidak pulang."
"Nanti kalau ada rejeki kita cari ya Buk?"
"Baiklah Pak. Setidaknya anak kita yang satunya sudah bahagia. Ibu ikut bahagia melihat Lily menikah dengan orang yang di cintainya"
"Iya Bu. Semoga Mela baik-baik saja dan bisa segera bahagia menyusul Lily."
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu di ketuk berasal dari rumah gubuk orang tua Lily.
"Siapa ya Pak yang datang pagi-pagi sekali?"
"Coba Ibuk buka"
Bu Lisa pun mendekati pintu dan membukanya.
"Ibuk" Teriak Lily berhambur memeluk ibunya.
Lily datang bersama pengawalnya namun Aray pergi pamit karena tak ingin mengganggu waktu terbaik Lily bersama keluarganya.
"Tidak apa-apa Bu"
"Jangan-jangan kita mau punya cucu Pak" Bu Lisa tertawa.
"Ah Ibuk ini apa-apaan sih?" Ucap Lily
"Suamimu mana Nak ?" Tanya pak Chandra.
"Leon sibuk Pak.Wajarlah Pak, Pak Zubair kan sedang ada urusan di luar kota."
"Padahal Ibuk kangen loh sama mantu ibuk. Kalau di pikir pikir Leon gak pernah kesini ya selama nikah sama kmu mungkin terlalu sibuk bekerja untuk masa depan kalian"
Lily tersenyum mendengar celotehan ibunya.
*********
Sudah 1 minggu Lily menginap di rumah orangtuanya, selama itu juga Leon terus memikirkan tentang Lily namun ia terlalu gengsi untuk menengoknya padahal jarak rumah mereka sangat lah dekat dan bisa di tempuh hanya dengan berjalan kaki.
Perlahan-lahan Leon menuju dapur dan di temuinya mbak Rina yang sedang memasak.
" Ada yang bisa di bantu Tuan?" Rina kaget melihat Tuan mudanya menemuinya di dapur.
"Emmm Anuuu.. Aku ingin bertanya di mana kamar Lily yang sudah di siapkan oleh Bibi Carlota?"
"Mari saya antarkan Tuan!"
Rina mematikan kompornya dan memandu Leon menuju kamar Lily. Sebenarnya Leon ingin memberikan hadiah berupa kalung sebagai permintaan maafnya karena ia tak berani memberikannya secara langsung maka dari itu ia ingin meletakkannya di kamar Lily.
"Di sini ????" Tanya Leon merasa tak yakin karena seingat dia ruangan itu adalah gudang yang sudah lama tak terpakai.
Mbak Rina mengangguk dan pergi meninggalkan Tuannya.
Kreekkk.
Leon membuka pintu itu secara perlahan dan benar ruangan itu sangat gelap dan dingin, hanya ada tikar dan lilin yang sudah mati. Di sudut ruang masih ada banyak barang barang usang tak terpakai. Leon menangis tak menyangka bahwa Lily sangat menderita hidup di rumahnya padahal ia memerintahkan Bibi Carlota menyiapkan kamar yang terbaik untuk Lily meski ayahnya menyuruhnya tinggal di kamar pembantu, Leon tetap menyuruh Bibi Carlota untuk memberi fasilitas terbaik karena Leon sangat mempercayai Bibi Carlota yang telag merawatnya sedari kecil.
Kejadian itupun membuat rasa bersalahnya semakin tinggi dan rasa khawatirnya semakin besar hingga suatu hari ia bertekad untuk menyusul Lily ke rumah orangtua Lily. Meskipun di penuhi rasa kecanggungan, Leon tetap terus melanjutkan misinya.
Di rumah Lily, Leon sempat diam mematung di depan halaman saat melihat Lily dan keluarganya tersenyum bahagia di teras rumah sambil menyantap makan siang dan..
Deg.
Lagi-lagi hati Leon bagai tersambar petir saat melihat Aray juga ada di sana duduk bersama Lily dan keluarganya dan mereka nampak sangat akrab melihat tawa yang mereka pancarkan.
Cukup lama mematung tanpa sengaja Lisa melihat bayangan Leon yang sudah berdiri sedari tadi menatap mereka dan Lisa pun menghampiri menantunya itu.
"Nak Leon"
Suara Bu Lisa mengejutkan Leon.
"Mari masuk Nak! Kenapa tidak masuk?"
"Aku barusan sampai Buk dan ini mau masuk" Leon tersenyum kemudian masuk dengan di buntuti Bu Lisa.
Leon masuk dengan penuh senyuman yang tak ada yang tahu apa arti senyuman itu.
Lily dan Aray menatap terkejut seolah tak percaya dengan apa yang di lihat oleh mata kepala mereka.
************
BERSAMBUNG
************
.
.
.
.
.Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini.
Jangan lupa terus dukung aku !
Dengan cara
🌼Like
🌼komen sebanyak-sebanyaknya
🌼rate bintang 5
🌼 favoritkan agar kalian bisa terus tahu updetan terbaru
🌼Ajak teman-teman atau saudara kalian ikut menikmati novel ini juga.
🌼Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa mendukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤