My First Love Is My King

My First Love Is My King
BAB 15



Suara deburan ombak yang sudah sangat tidak asing, Setiap hari Setiap waktu selalu bergemuruh di tempat dimana Ipen tinggal.


Tak terasa malam semakin larut sehingga dingin angin malam semakin menusuk. Dari jauh terlihat bayangan seorang wanita duduk sendirian menatap laut di dermaga sehingga membuat Ipan teringat akan gadis yang dicintainya waktu pertama kali bertemu dia menangis di tempat itu. Langkah kakinya tanpa ia sadari telah melangkah ke arah wanita yang duduk sendirian itu. Dengan memakai dress panjang berwarna abu-abu wanita itu membiarkan rambutnya melambai lambai di terpa angin.


Ipen terus memperhatikannya, wanita itu hanya menatap kosong ke arah laut atau lebih tepatnya menatap pulau yang ada di sebrang laut sana sambil sesekali menarik nafas dalam.


'Shela' Gumam Ipen menyebut nama panggilan Mela di rumah bordil.


Tak lama wanita itu berlari menuju wanita setengah tua yang kesusahan membawa barang-barangnya hingga beberapa barangnya terjatuh ..


"Hati-hati Bu .. mari sini saya bantu." ucap Mela sambil memungut barang barang yang tergeletak di tanah.


Ipen langsung berlari kearah mereka ketika menyadari bahwa wanita tua itu adalah ibunya.


"Bu maafkan aku datang terlambat."


"Walah punya anak bujang lah kok sering terlambat jemput ibunya." Kata ibu Ipen ngedumel. "Untung ada anak cantik ini yang bantuin ibu." Lanjutnya.


Mela tersenyum menatap Ibu Ipen tanpa sedikitpun tertarik melihat Ipen.


"Makasih ya Nak atas bantuannya! "


"Iya Bu sama-sama."


"Mari mampir rumah Ibu Nak . rumahnya tidak jauh dari sini , ini sudah malam." Ajak ibu Ipen.


Rasa penasaran menyeruak dengan tiba-tiba di dalam hati Ipen. Apa yang dia lihat barusan benar-benar merupakan sisi lain dari Mela kakak yang telah tega terhadap adiknya itu. Tak bisa di pungkiri rasa rindu terpancar jelas dari sorot mata yang sendu milik wanita itu.


'Sebenarnya dia wanita yang baik, tapi kenapa dia bertingkah seperti itu terhadap adiknya ? aku melihat dalamnya Kerinduan di sorot matanya tapi kenapa dia tidak mencoba untuk pulang sedangkan keluarnya juga sangat merindukannya ?


dia juga orang yang polos sama seperti adiknya tapi kenapa dia bisa terjun dalam dunia fana yang seperti itu ?.'


Ribuan pertanyaan berkecamuk di benak Ipen tentang sesosok wanita yang barusan tanpa sengaja dia temui itu, ada rasa ingin mendekatinya namun tertahan karena keraguan yang tak jelas, dia takut malah menjadikan keadaan semakin runyam.


"Gadis tadi itu baik sekali ya Pen .. kalau di perkirakan mungkin usianya tak jauh denganmu. Ibu ingin punya mantu yang baik kayak gitu."


"Alamak Ibuk ini apa-apan sih ? kan Ipen sudah punya calon sendiri Buk" Ipen memanyunkan bibirnya.


" Tapi bagi ibu Lily itu terlalu kecil deh buat kamu Pen.. Lebih cocokan sama yang tadi." Goda Ibunya.


"Hhaaa ?? Ibuk mulai lagi .. Tanpa restu ibu pun Ipen bakal kawin lari..!!" Ipen ngotot.


" Bagaimana bisa ibu tak merestui kalian Nak? jika ibu adalah saksi bisu semua rasa cinta rindu dan doamu tercurah padanya."


"Aaaahhh.. Ibu memang yang terbaik"


'Apa aku cerita saja ya semua yang ku ketahui kepada Ibu ?' dalam hati Ipen.


BERSAMBUNG....