
Braaakkkk
Suara pintu aula yang di buka dengan sekuat tenaga.
"BERHENTIIII...!!!!!"
Semua mata tertuju ke arah dari mana suara itu berasal. Seorang pria muda dengan setelan baju berwarna coklat yang tak lain merupakan baju seragam khas salah satu sekolah terbesar di kota.
" Leon" Geming Mona saat mengetahui bahwa suara itu berasal dari kekasihnya.
"Mohon maaf anda siapa Mohon untuk menunggu di depan aula" Ujar pemandu wisata.
Leon terus berjalan ke arah pelaminan tak perduli dengan keadaan sekitar.
Terpancar cahaya kelegaan dari wajah Pak Candra dan Bu Lisa akhirnya orang yang dinanti-nanti datang juga. Orang yang diharapkan dapat membantu Lily tak lain adalah Leon.
"Leon?" Ucap Pak Zubair saat melihat anaknya mulai memasuki aula dan mendekatinya.
" Ada apa kamu kemari?. Bukannya kamu sedang ujian." Suara Pak Zubair dengan nada agak di tekan.
"Bagaimana bisa aku mengikuti ujian di hari pernikahan yang telah kau siapkan Ayah ?" Ucap Leom menghadap ayahnya. "Penghulu mohon maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama karena yang akan menikah adalah aku." Leon tersenyum bahagia tapi palsu kepada penghulu dan mengambil alih tempat duduk ayahnya. "Terima Kasih Ayah telah menyiapkan semua ini untukku dan orang yang kucintai." Kata-kata Leon bagaikan bom atom yang siap meledak dan mengguncang semua yang ada di dalam aula. Mereka pun terkejut dan saling menerka-nerka.
'Leon?' Ucap Lily tertahan di kerongkongannya karena terlalu terkejut dengan apa yang di katakan sahabatnya itu.
Lily menangis dalam hati memikirkan perasaan sahabat dan ibunya yang saat ini menyaksikannya.
Jleb.
Kini pisau beracun itu menusuk hati Mona.
'Apa yang kau lakukan Leon? Bagaimana dengan janjimu padaku? Kenapa kau menikahi sahabatku di depan mata kepalaku dan ibuku? Bagaimana masa depan kita?' Mona menangis menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan berhambur keluar aula.
Ibu Mona turut terpukul dengan tindakan gegabah yang di lakukan Leon.
'Maafkan aku Mona. Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menyelamatkan Lily. Meskipun aku juga harus mengorbankan masadepanku. Harus selalu kau tau Mona, Cinta ini selamanya milikmu.' Ucap Leon dalam hati.
Sama seperti Mona, pisau beracun itu juga telah menyayat hati Leon.
Namun Rona bahagia terpancar dari wajah Pak Chandra dan Bu Lisa karena sampai saat ini ia tak tahu bahwa Leon dan Lily tidak saling mencintai dan harapan mereka berdua melambung tinggi untuk Lily dari pernikahan ini.
Janji suci pun terucap dengan hikmat dan acara berjalan lancar. Kini Leon dan Lily pun sah menjadi suami istri.
******
Di rumah Leon. Malam pengantin.
Di kamar yang sudah berhias indah dengan perpaduan bermacam-macam bungal dan pita. Di ujung ranjang yang telah bertaburan kelopak mawar Lily duduk terpaku sendiri.
Kreekkk.
Suara pintu terbuka dan orang yang tak asing baginya kini masuk dalam kamar itu.
"Biarkan malam ini aku tidur di sini. Aku malas menghadapi semua pertanyaan ayahku. Kamu tidur di bawah saja ya. Aku tidak mau seranjang sama kamu dan aku tidak bisa tidur di bawah." Ucap Leon.
"Leon. Bagaimana bisa..." Ucap Lily terputus.
"Cukup! Aku tak ingin bicara denganmu ataupun menatapmu. Silahkan kamu tidur di bawah." Jawab Leon dan membalik badannya membelakangi Lily.
Sangat dingin. Seperti bukan Leon yang selama ini di kenalnya.
Lily perlahan beranjak dari tempat tidur itu dan mulai mengambil sehelai kain untuk menjadi alasnya tidur di bawah. Di atas keramik yang tak kalah dingin menusuk.
BERSAMBUNG...
.
.
.
.
.Terimakasih para readers telah membaca novel perdanaku ini dan rate bintang 5.
Untuk para Author hebat, bebas tinggalkan jejak disini agar aku bisa ngedukung kalian juga.
Sayangheee dari Author. ❤