My First Love Is My King

My First Love Is My King
BAB 27



Angin berhembus dengan sangat tenang. Malam ini malam Bulan Purnama Biru. Cahayanya menerangi seluruh permukaan bumi bagaikan lentera yang indah. Dalam suasana malam yang damai ini, lahir lah sang pewaris takhta terakhir dalam kerajaann Morland.


Seorang wanita tua yang membantu Hera melahirkan tersentak kaget ketika melihat bayangan yang ada di bola mata bayi suci itu.


Raja terbesar dan terakhir


Dengan penuh hati-hati bayi itu ia bersihkan dan di pakaikannya baju bayi terbagus yang saat itu ia punya. Kemudian ia mulai bertanya kepada ibu bayi suci itu. Meski awalnya ragu akhirnya Ibu dari bayi itu, sambil menyusui mulai bercerita tentang asal-usul bayi yang baru saja terlahir itu.


" Saya sendiri tidak percaya Mbok. Bahwa suami yang saya nikahi itu adalah Putra mahkota di Kerajaan Morland Negeri ini. Saya baru tahu tadi sore ketika ada segerombolan orang datang untuk menangkap saya. Lalu siapa yang mengantar saya kemari Mbok ?. Karena seingat saya, saya berhasil di tangkap oleh salah satu dari mereka."


" Seseorang yang menangkapmu mengantarkanmu kemari nyonya. Dia meminta 1 set pakaianmu untuk di bawa bersamanya ".


" Syukurlah, aku dan bayiku masih di beri kesempatan untuk hidup."


" Pria itu berpesan untukmu agar terus bersembunyi karena di sini juga bukan tempat yang aman untukmu."


Hera menangis sambil mendekap putranya itu.


" Kalau begitu beritahu Mbok. Bayi ini mau nyonya beri nama siapa ?. Karena bayi ini harus segera melakukan ritual pemberian nama."


" Steven Morlouis." Ucap Hera Lirih sambil teringat akan mimpi suaminya itu lewat surat yang ia terima. "STEVEN MORLOUIS!" Ucap hera lebih tegas dan yakin.


Kemudian ritual pemberian nama mulai di lakukan oleh dukun beranak itu.


Ritual yang memakan waktu 1 jam itu akhirnya selesai.


"Nyonya. Para Cenayang Istana berhasil menangkap nama Steven sebagai Raja terakhir di Negeri ini. Para perebut kekuasaan akan berlomba-lomba untuk mencelakainya atau bahkan membunuhnya. Maka dari itu Steven haruslah memakai nama panggilan yang lain yang tak jauh dari namanya".


Hera terus memperhatikan wanita tua itu tanpa bergeming.


"Kalian juga harus bersembunyi secara terpisah agar kalian bisa terus hidup. Sementara ini tinggallah di sini selama 40 hari sampai keadaan kalian benar-benar pulih karena kedepannya akan ada banyak rintangan yang akan di hadapi". Imbuh dukun itu.


*********


Sementara itu di dalam istana


Memang benar apa yang di katakan dukun itu. Pada saat yang sama. Setiap malam bulan purnama cenayang-cenayang istana melakukan ritual secara rutin. Tapi untuk ritual kali ini cenayang memuntahkan darah tanda ada kekuatan yang lebih besar telah hadir di bumi ini. Dengan sisa kekuatan yang di miliki cenayang itu tetap melanjutkan ritualnya dan berhasil menangkap nama Steven Morlouis sebagai Raja terbesar dan terakhir di negeri ini. Para selir dan perdana menteri yang mendengar berita itu berlomba-lomba mengutus orang suruhannya untuk mencari dan membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir di bulan purnama ini.


*********


keesokan Harinya


Tok tok tok


Terdengar suara pintu di ketuk dari depan rumah dukun itu. Terlihat seorang pria berbadan besar dengan pedang di punggungnya berdiri di depan rumahnya.


"Anda siapa ??" Tanya seorang pekerja obat di rumah dukun itu membuka pintu.


BERSAMBUNG...