My First Love Is My King

My First Love Is My King
BAB 31



Siang hari, di Istana.


(Setelah 1 bulan kejadian itu.)


Morlouis di nobatkan menjadi Raja yang baru tepat di usianya yang ke- 26 Tahun. Sorak-sorai dan doa-doa, banyak terdengar di mana-mana.


Air mata haru mengalir di pipi Hera mendengar suaminya resmi menjadi Raja di Kerajaan Morland. Dia teringat akan janji Louis yang akan mencarinya saat dia berhasil naik takhta dan merubah dunia. Hera berfikir tak lama lagi Louis akan mencarinya dan kebahagiaan akan berpihak padanya lagi.


Namun siapa sangka. Derita baru, baru di mulai. Tuan Putri Felisha yang saat ini juga di angkat sebagai Ratu, menaruh dendam pada Hera. Dengan kekuasaan yang di milikinya, Sang Ratu mulai memburu Hera kembali. Meski Ratu Felisha tau bahwa pasukan mantan Raja Pedro berhasil membunuh Hera.


Ratu Felisha bukanlah orang yang mudah percaya sebelum ia menyelidikinya sendiri.


Karena sudah merasa sangat pulih dan situasi semakin tidak kondusif, akhirnya Hera beranjak pergi dari rumah Mbok Dukun dan membawa bayinya dalam pelukan.


Beberapa hari ia berjalan terkatung-katung, untuk mencari tempat yang di tunjuk oleh Louis di dalam surat itu.


Akhirnya ia menemukan rumah sepasang suami istri nelayan itu.


" Permisi.. "


" Anda siapa Nona ?"


" Saya Hera. Saya berfikir sebaiknya anda membaca surat ini."


Hera memberikan Surat beralaskan bulu domba itu kepada sepasang suami istri nelayan yang di tunjuk Raja Morlouis itu.


Suami istri itu menganga dan menutup mulutnya dengan ke dua tangannya.


" Nona, saya paham apa makna dari surat ini. Saya harap Nona mengikhlaskan bayi ini untuk tinggal disini dan Nona berusaha mencari tempat persembunyian yang lain. Bukannya kami tidak mau menerima anda Nona. Tapi sungguh, akan amat sangat bahaya jika kalian tidak bersembunyi secara terpisah."


" Saya bisa meninggalkan semua isi Dunia ini. Tapi untuk bayi yang ada di pelukanku ini, saya tak bisa meninggalkannya." Ucap Hera berlinang air mata.


( Jujur Author ikut mewek pas Hera ngomong begitu. huuu huuu huuu!!! )


" Apakah anda sangat dekat dengannya Tuan ?"


" Iya sewaktu kecil kami sering bermain dan belajar bersama. Dia adalah Putra Mahkota, dan aku merupakan anak dari salah satu pelayan di Istana. Percayalah Nona!. Dia adalah orang yang sangat bijaksana. Apapun yang di perintahkannya merupakan hasil terbaik dari setiap pertimbangannya."


Hera terdiam.


" Namanya Steven Morlouis, beri nama panggilan lain yang tak jauh dari namanya. Tolong bawa ini bersamanya" Ucap Hera sambil menyodorkan sebuah jepitan rambut bunga lili berwarna putih.



Belum terobati rindu yang dalam kepada suami tercintanya. Belum kering luka karena suaminya pergi meninggalkannya begitu saja dan selama ini menipunya dan keluarganya, dengan mengaku menjadi Rakyat biasa. Kini,,, Hera harus rela meninggalkan buah hati yang selama ini ia nantikan lewat doa dan air mata kepada keluarga yang asing bagi dia.


---------


Anakku, Ibu adalah Ibu yang paling beruntung di Dunia ini karena Tuhan mempercayakan Ibu untuk mengandung dan melahirkanmu. Maafkan Ibu yang tak bisa ikut merawatmu. Percayalah nak..! Doa dan air mata Ibu tak kan pernah berhenti untukmu.


Sehatlah Nak..!


Tumbuhlah Nak.. !


Teruslah bertahan hidup..!


Ini adalah perintah pertama dan terakhir Ibu untukmu.


------------


Kemudian Hera pergi meninggalkan bayi yang berusia 40 hari itu bersama surat resmi dari ayah bayi itu, kepada sahabat suaminya, yang merupakan suami istri nelayan muda yang di tunjuk di dalam surat itu.


Robert dan Diana adalah sepasang suami istri nelayan yang baru saja menikah dan belum di karunia seorang anak. Kehadiran Steven di rumahnya merupakan amanat yang sangat besar, sehingga mereka berdua memutuskan untuk tidak memiliki anak kandung. Agar mereka bisa fokus hanya merawat Steven dan memastikan Steven tidak kekurangan kasih sayang.