
Sore hari, di istana.
Semua penghuni istana beserta para pejabat tinggi Negara, berkumpul untuk menjadi saksi pengangkatan Raja baru, yang akan di nobatkan kepada Pangeran Arnold, yang saat ini berusia 40 tahun.
Meskipun terkenal dengan kekejaman dan kebengisannya, Pangeran Ronald tetap terpilih sebagai Raja selanjutnya karena Mendiang Raja Morlouis di kenal tidak memiliki keturunan. Dan Pangeran Arnold adalah anak kedua dari Raja Pedro, Ibunya adalah selir.
Ratu Felisha sangat tidak rela jika Kerajaan dan Negeri yang telah ia makmurkan bersama suaminya dengan segala pengorbanan dan air mata kini harus jatuh kepada orang yang sangat kejam. Dengan segala upaya ia mencari penerus takhta sah yang selama ini di sembunyikan, yaitu anak kandung dari mendiang Raja Morlouis.
“ Negeri telah kehilangan Mataharinya. Negeri ini telah kehilangan panutannya. Negeri ini telah kehilangan seorang Rajanya. Agar tak membuat Negeri ini terlalu lama terluntang-lantung tanpa seorang nahkoda, oleh sebab itu, dengan ini, kami akan menginformasikan kepada dunia bahwa tepat di hari ini. Keluarga kerajaan akan mengangkat Raja baru yang akan di nobatkan kepada Pangeran Arnorld. Kepada Pangeran Arnold di persilahkan untuk berdiri untuk proses pemakaian mahkota.” Ucap ketua menteri kerajaan membaca benda tipis yang ada di tangannya.
Dengan membusungkan dada, Pangeran Arnold mulai berdiri.
Proses penyerahan mahkota pun di mulai.
“ BERHENTIIIII..!!!!!” Suara wanita yang tegas itu. Tak lain berasal dari Ratu Felisha.
Semua orang yang ada di dalam ruangan terkejud dan menghentikan segala aktifitasnya.
“ Ada apakah Ratu ?” Tanya Pangeran Arnold yang masih pura-pura tersenyum dan pura-pura baik.
“ Sekarang..! Turunlah kamu dari singgasana itu.”
“ Apakah maksud semua ini Ratu Felisha ?” Tanya seorang perdana menteri yang membaca naskah penobatan tadi.
Semua orang di aula terheran-heran dan saling berbisik dengan apa yang di katakan Ratu Felisha.
“ Ada alasan apa kau menghentikan proses penobatan suamiku. Apakah kau masih belum rela melepas predikatmu sebagai Ratu, kakak ipar ?” Ucap wanita yang merupakan istri dari Pangeran Arnold.
“ Mulai lancang ya bicara mu!. Bukan kah kamu yang sudah tak sabar menyandang predikat sebagai Ratu?. Sayangnya, kursi takhta ini bukan untuk suamimu.” Ucap Ratu Felisha dengan penuh senyuman yang begitu anggun.
“ Baiklah, aku akan memberitahu kalian semua. Bahwa penerus takhta yang sah telah di temukan, yaitu anak kandung dari mendiang Raja Morlouis. Yang selama ini telah kami sembunyikan dengan baik."
“ Pengawal bawa masuk meraka!!” Titah Ratu Felisha kepada pengawalnya.
Bersama Robert dan Diana, Ipen yang sudah berdandan sangat rapi itu memasuki aula istana.
Siapa mereka?
Ketampanan anak muda itu mirip sekali dengan Mendiang Raja!
Bukan kah itu Robert, sahabat kecil Raja.
Ada apa ini ?
Apa yang sebenarnya Ratu Felisha rencanakan ?
Berbagai macam pertanyaan dan kegaduhan muncul di benak orang-orang yang berkumpul disana.
Ipen mengikuti saja bagaimana alurnya seperti air yang mengalir sampai ke hulu. Meski sebenarnya dia masih kebingungan dan kesulitan mengartikan semuanya.
Tersirat kecemasan di wajah Pangeran Arnold dan istrinya.
Mungkin kah ia yang di maksud para cenayang 28 tahun yang lalu ?
Namun bagaimana bisa ???? bukankah ibunda telah membunuhnya dan ibunya. Ucap Pangeran Arnold dalam hati.
Kalau dia benar adalah calon Raja terakhir yang di prediksi oleh cenayang itu, maka akan sangat berbahaya. Ucap perdana menteri.
BERSAMBUNG...