
Setelah berhari-hari Ayah Ipen pergi ke kota. Hari ini ia pulang ke rumah. Kedatangan-nya di sambut istri dan anak laki-laki satu-satunya.
"Bapak kenapa lama sekali ke kotanya ? Bikin anak dan istri cemas saja." Tanya ibu Ipen sambil membantu ayah Ipen melepas tas kain dan jaket usangnya.
Ayah Ipen tak menjawab.
Kemudian Ibu Ipen masuk ke dalam untuk menyiapkan kopi untuk suaminya itu.
" Nak.. Kamu ingat tidak kalau Bapak menyuruhmu fokus berlatih pedang ?" Tanya ayah Ipen kepada Ipen yang sedang membersihkan rumah.
Ipen terdiam.
Cccccctttttaaarrrr
Terdengar bunyi gelas pecah dari dalam. Ibu Ipen kaget mendengar perkataan Ayah Ipen sehingga membuat gelas kopi yang ia pegang terjatuh di lantai.
Ayah dan Ipen langsung berhambur ke arah suara itu berasal takut-takut terjadi apa-apa pada wanita kesayangan mereka.
"Ibu .. kenapa ?? Ibu tidak apa-apa ??" Tanya Ipen sembari membantu mengumpulkan pecahan gelas itu.
" Ini tangan ibu licin nak. Gak sengaja gelas yang ibu pegang terjatuh." Jelas Ibu Ipen.
"Yasudah buk.. yang penting Ibu tidak kenapa-kenapa."
Setelah membereskan kekacauan barusan. Ibu Ipen menghampiri ayah Ipen yang sedang duduk sendirian di teras rumah.
" Pak kok sendirian ?"
" Ipen di mana pak ?"
"Hmmmmm.... Ipen baru saja pergi ke rumah monde buk "
" Pak.. Ada apa sih pak ?? Kok Ipen di suruh berlatih pedang ?? " Nampak kegelisahan di dalam raut wajahnya.
"Tidak bisakah dia cukup menjadi anak kita ?!. Anak yang terlahir biasa dan hidup dalam kehidupan yang sederhana saja ?? " Lanjutnya.
"Hhhmmmm..."
"Begini buk.. " Berhenti sejenak " Raja Morluois meninggal dalam peperangan,, Bapak menyuruh Ipen fokus berlatih pedang hanya untuk berjaga-jaga saja." Jelas lelaki setengah tua itu sambil terus menghisap cerutu yang ada di tangannya itu.
"Tapi pak. Tak perlu-lah Ipen...." Tidak melanjutkan kata-katanya.
" Terus bapak ngapain ke kota ??? "
" Ibu harus kembali sadar dan mengakui bahwa anak yang kita sayang, yang kita jaga dan kita rawat selama ini bukanlah anak biasa buk. Jadi kita harus bersiap-siap dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Kita tidak bisa terus menutup mata dan telinga kita buk. Kita tak bisa duduk manis dan bersantai buk. Ada beban amanat besar yang saat ini kita tanggung."
" Ibu takut pak.! Ibu tidak mau Ipen masuk dalam dunia yang seperti neraka itu pak. Cukuplah dia menjadi manusia biasa yang menikah, memiliki anak-anak yang lucu dan bahagia dengan segala kesederhanaan. Apalagi Ipen sedang jatuh hati pada gadis cantik itu pak Saat ini mereka sedang bahagia. Jangan rusak kebahagiaan mereka. " Ibu Ipen meneteskan air mata.
" Ibu tahu tidak?. Di istana saat ini sedang kacau saling memperebutkan takhta. Akan ada perang buk sebelum pengangkatan Raja yang baru. Imbasnya pasti juga pada Rakyat-Rakyat buk. Kandidat-kandidat calon Raja terkenal sangat kejam dan jahat. Apakah kita akan terus berdiam diri ?. Apa lagi kalau sampai salah satu kandidat itu naik takhta cepat atau lambat keluarga kita pasti akan di bantai buk karena takut takhtanya di ambil alih oleh orang yang paling berhak. Maka dari itu buk, cepat atau lambat kita harus bersiap-siap melepas Ipen kembali ke asalnya."
" Tapi pak.... Beri Ipen waktu ,, biarkan sementara ini dia bahagia bersama orang yang selama ini dia cintai dan dia rindukan. "
BERSAMBUNG....