
Di dalam rumah gubuk yang terbuat dari anyaman bambu dan begenteng jerami.Terdapat seorang gadis yang sedang duduk di ujung tempat tidurnya yang terbuat dari papan kayu. Dia harap-harap cemas memikirkan kisah cintanya dengan orang yang di cintainya yaitu Leon.
Tok.. tok.. tok..
Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk. menyadarkan gadis itu dari lamunan syahduhnya
"Mona.. Ayo nak keluar! kita makan malam dulu" Suara wanita yang serak itu terdengar dari balik pintu, Yang tak lain adalah suara ibu Mona.
Mona bergegas merapikan rambutnya.
"Iya bu sebentar lagi Mona keluar."
Setelah itu Mona keluar dan menuju ruang makan yang menjadi satu dengan ruang tamu.
Di depan meja makan sudah tertata makanan sederhana seperti nasi jagung, sayur kecamba dan lauk tahu tempe.
Di tengah-tengah makan malam yang di santap oleh Mona dan Ibunya tiba-tiba terdengar suara lelaki dari depan rumah mereka.
" Permisi !!"
Mona menghentikan aktifitas makannya dan menuju ke arah suara laki-laki itu berasal.
Krttttt.
Suara pintu usang yang di buka oleh Mona.
Mata mona terbelalak saat melihat seseorang yang tak asing lagi baginya.
"Leon ???!!!"
Leon membalasnya dengan senyuman.
" Ada apa kamu kemari?" Mona memelankan suaranya sambil salah tingkah ia celingukan ke arah ibunya.
" Aku merindukanmu" Leon berbisik ke telinga Mona.
Deg..
Lagi-lagi jantung Mona berirama tak menentu.
Ibu Mona menghampiri dua orang yang sedang terpaku di depan pintu.
" Siapa yang datang bertamu Mona ?" Suara Ibu Mona memecah keheningan barusan.
" Eh.. eh.. ini buk.. Temen." Ucap Mona kikuk di depan ibunya.
Tersirat senyum lebar di wajah Leon mengarah ke Ibu Mona.
Ibu Mona sangat mengenal siapa putrinya itu. Jelas sekali dia melihat bahwa putrinya itu sedang salah tingkah.
" Kok gak di suruh masuk sih Mona ?" Ucap ibu Mona untuk mengulur waktu agar lelaki itu tak keburu pergi.
"Enggak usah buk. Ini temen Mona mau pulang."
"Kenapa buru-buru anak muda?. Sini mari makan malam bersama kami."
'enggak usah buk malu' Mona berbisik dan mencubit lengan ibunya.
" Mari bu !. Dengan senang hati." Jawab Leon meski menyadari Mona sedang salah tingkah.
Mereka memasuki ruang makan yang terletak tak jauh dari ruang tamu.
" Mari sini anak muda. Silahkan duduk" Sambil merapikan kursi yang hendak di duduki Leon.
" Terimakasih bu. Tidak usah repot-repot." Kemudian Leon menduduki kursi tersebut.
" Baginilah keadaan kami anak muda. Semoga engkau berkenan menikmati masakan yang sederhana ini."
" Tidak masalah bagiku bu. Aku sangat menyukai apapun yang di masak oleh seorang ibu karena aku tak memiliki ibu." Leon tersenyum.
Kondisi ruang makan yang sangat sederhana sangat jauh berbeda dengan ruang makan yang di miliki Leon.
Namun semua itu tak menyurutkan Leon untuk duduk dengan manis dan melahap semua yang ada di hadapannya itu.
" Beginilah kondisiku Leon. Setiap hari hanya ini yang bisa ku makan. Tak seperti dirimu..."
Ucapan Mona terpotong.
"Ssssstttt..!!! " Leon menghentikan suapannya. "Cukup Mona aku menyukai apapun yang ada pada dirimu. Dan jangan lagi membandingkan kedudukannya kita. Akan ku pastikan suatu saat nanti aku akan membahagiakanmu." Ucap Leon sungguh-sungguh.
Menyadari situasi itu, Ibu Mona beranjak pergi je dapur.
" Ayahku sudah merestui hubungannya kita. Kedatanganku kemari sebetulnya karena aku ingin pamit kepadamu. Besok aku akan pergi ke kota untuk menyelesaikan sekolahku. Setelah itu aku akan melamarmu Mona."
Mata Mona berbinar.
"Benarkah yang kau katakan? kenapa semudah itu bagi ayahmu merestui hubungannya kita ?"
" Kan aku sudah bilang. Bahwa ayahku orang yang sangat baik. Dan tak pernah tak mengabulkan apa yang ku mau."
Gyuut..
Mona memeluk Leon.
Di balik tirai pemisah antara dapur dan ruang makan. Ibu Mona menangis terharu sambil memegang dadanya. Ia tak percaya ada lelaki kaya dan baik jatuh cinta kepada anaknya itu. Terlebih lagi ayah lelaki itu telah merestuinya.
BERSAMBUNG...