
" Ada yang bisa di bantu Tuan ?".
Di tengah hiruk-pikuk Rumah Bordil dan suara alunan gendang dan lagu yang saling tumpang tindih. Terdengar suara wanita yang menyapanya.
Ipen reflek menoleh ke arah suara itu berasal.
Daaannn...
Suara itu berasal dari wanita yang dia cari barusan. Terlihat berbeda karena tertupi oleh tebalnya riasan dan indahnya baju kain sutra merah menyalah yang sedikit terbuka, di balut kain sifon hitam yang menerawang.
" Emm anu.." Ipen sedikit salah tingkah karena bingung langkah apa yang harus di ambil selanjutnya. di tambah mengingat pertengkaran Mela dan Lily menandakan Mela bukanlah orang yang mudah dan polos seperti Lily.
" Aku mau kamu." Ipen bengong tak sadar dengan apa yang di ucapkannya.
Deg..
Jantung Mela berdegup mendengar kata-kata itu keluar dari bibir si pria yang sangat tampan dan memukau ini.Wajah Mela memerah dan menundukkan pandangannya.
" Eh anu.. Aku ingin minum teh bunga matahari di sini." Lanjut Ipen yang menyadari bahwa dia salah ucap dan membuat Mela salah tingkah.
" Baik tuan .. " Mela memberi kode kepada pelayan agar menyiapkan pesananan pria yang ada di hadapannya itu.
" Kalau boleh tau darimana asal Tuan ? karena aku tak pernah melihat Tuan masuk di tempat ini. " tanya mela mulai mendekat.
" Aku dari desa pelayan di samping pasar. " Jawab Ipen sedikit tersenyum. Matanya terus kesana kemari menandakan dia masih kebingungan .
" Kenapa jauh-jauh kesini hanya untuk minum teh tuan ? " Tanya Mela penasaran.
Kemudian pelayan datang membawakan pesananan Ipen.
" Aku hanya sedikit lelah berjalan dari gunung dan ingin minum teh disini." Lanjut Ipen sambil menyeruput tehnya.
"Apakah tidak ada hal lain yang kau inginkan Tuan ? " Ucap Mela menggoda dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ipen.
Ipen reflek menjauh dan memejamkan mata.
Bagi Ipen seorang pria dewasa yang tak pernah dekat ataupun tertarik pada wanita, hal seperti itu hanya membuatnya risih.
" Emm tidak ada Nona. " Pangkas Ipen yang sangat salah tingkah di buatnya. " Aku sudah mendapatkan apa yang ku mau di sini. " Sambil menunjuk tehnya. " Aku hanya ingin menikmati teh dan musik ini sendiri. " Lanjut Ipen agar Mela segera pergi dari pandangannya.
"Baiklah Tuan. Jika ingin mencariku di sini. Sebut saja nama Stella."
Muuacch ..
Kecupan itu mendarat di pipi kiri Ipen.
Kemudian Mela berlenggak lenggok berlalu dari pandangannya . Ipen hanya merasa campur aduk, ingin marah karena pipinya yang begitu suci tak tersentuh oleh siapapun malah di sentuh oleh bibir si kupu-kupu malam di sini. Namun yasudahlah inilah resiko paling minim jika masuk Rumah Bordil seperti ini.
'Apakah gadis itu tau kalau kakaknya di sini mempunyai pekerjaan seperti ini ?
Apakah kakaknya mengusirnya karena takut ketahuan kalau dia bekerja di tempat seperti ini?'. Ucap ipen dalam hati.
Ipen tak sanggup membayangkan bagaimana rasa kecewa dan sedihnya gadis itu jika mengetahui kondisi kakaknya yang seperti ini.
Semua perlakuan Mela pada Ipen membuat Ipen salah tingkah dan mengurungkan misi awalnya yaitu bertanya tentang Lily karena dia bingung harus mulai bertanya dari mana, sedangkan mela makin agresif.
'Kenapa juga harus bertemu di tempat seperti ini,, wajar saja di kira aku menginginkah hal lain seperti para hidung belang yang masuk di sini.' Ipen menepuk jidatnya.
BERSAMBUNG....