
Di Istana.
Seorang pelayan setia berbisik kepada Putra Mahkota. Tak lama, dengan wajah penuh kepiluan. Putra Mahkota berlari ke suatu tempat.
Di sana sudah ada Raja Pedro dan beberapa pasukan Raja yang telah memburu Hera, istrinya.
Kemudian tangisnya pecah ketika melihat jasad yang tertutupi daun pisang, terbujur kaku di depannya. Dia sangat mengenal baju kuning itu, baju yang sering di pakai istrinya.
Louis terus menangis tersedu-sedu. Kemudian di bukanya daun pisang yang menutupi wajah itu. Dia tetap menangis dan mengepalkan tangannya, meski ia tau bahwa mayat itu bukan Hera.
Aku akan segera menjadi orang yang paling berkuasa Hera. Dan menciptakan Negeri yang paling damai untuk kita tinggali. Aku akan mencari dan menemukanmu kembali. Sabarlah sampai saat itu tiba. Ucap Louis dalam hati sambil mengepalkan genggaman tangannya.
*******
Pangeran memerintahkan pelayannya untuk memanggil Cenayang Kerajaan untuk menemuinya.
" Ada apakah gerangan pangeran memanggil diriku kemari ?" Tanya Cenayang itu.
" Apakah kau bisa melihat, kapan waktu yang tepat untuk ku naik takhta sebagai Raja ?. Mengingat keadaan Ayah ku yang semakin tua. Aku kasihan jika semua beban di tanggungnya."
" Waktu yang tepat untuk anda naik takhta belum terlihat, Pangeran. Anda harus melakukan ritual suami istri dengan Tuan Putri pada malam bulan purnama ke 13 di tahun ini. Jika sudah selesai, kabar selanjutnya akan saya sampaikan kepada Raja."
Memang benar selama menikah, tak pernah sedikit pun Louis menyentuh Felisha. Bagaimana dia bisa menyentuhnya jika hati Louis bukanlah untuk dia.
********
Di kamar Louis.
Tok..tok..tok..
"Pangeran, Tuan Putri datang untuk menemuimu." Ucap pelayan setia Louis.
"Biarkan dia masuk."
Kemudian pelayan itu membuka pintu untuk Tuan Putri. Dengan penuh keanggunan, Tuan putri itu memasuki kamar pangeran.
Pada dasarnya seorang Putri yang di nikahkan Raja untuknya, adalah seorang wanita baik dan polos. Dia sangat menjunjung tinggi kehormatannya dan sangat santun kepada siapapun yang ia temui.
Meski Pangeran dan Putri pasangan serasi dan kekuatan mereka, bisa membawa Negeri ini menjadi Negeri yang sangat makmur. Pangeran tetap saja tidak bisa jatuh cinta padanya.
Ini adalah pertama kali bagi Sang Tuan Putri Felisha memasuki kamar suaminya. Padahal usia pernikahan mereka berjalan 5 bulan.
" Pangeran, aku dengar kau tidak enak badan beberapa hari ini. Ini aku bawakan teh herbal untuk membuatmu lebih nyaman."
" Terimakasih Putri Felisha. Aku akan meminumnya."
" Pangeran.. "
" Hemm.. "
" Apakah kau sudah mendengar bahwa minggu depan adalah bulan purnama ke 13 tahun ini?."
" Benarkah ?."
" Aku di beritahu, bahwa itu waktu yang tepat untuk kita melakukan ritual hubungan suami istri. "
" Iya Tuan Putri. Aku sudah tau soal itu." Pangeran tidak berani menatap wanita cantik yang ada di depannya berjarak 2 meter itu.
" Itu adalah waktu yang sangat bagus untuk mengandung calon Putra Mahkota. Aku harap engkau tidak menundanya atau pun beralasan lagi."
Di balik kelemah lembutan seorang Tuan Putri Felisah, ia juga memiliki ketegasan termasuk kepada Pangeran.
Bagi keluarga Kerajaan, Ritual suami istri bukan hanya sekedar soal cinta dan pelepas nafsu saja. Namun itu Ritual suci untuk mencetak generasi selanjutnya.
Bagi Felisha, ritual itu harus segera terlaksana demi kebaikan Kerajaan Morland.
BERSAMBUNG...