My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Extra Part Kiran Dan Wira



Semburat keemasan sinar sang mentari mulai menggeliat memancari bumi. Dari sela tirai kaca yang tersibak, suasana langit pagi mulai terlihat. Di sebuah ranjang berukuran king size, tubuh seorang perempuan menggeliat dengan sepasang mata mengerjap, coba menyesuaikan cahaya sekitar yang memasuki indra penglihatannya.


Kiran, perempuan yang beberapa jam lalu resmi menyandang status barunya sebagai seorang istri dari Wira, sedang mengumpulkan nyawa selepas beberapa saat membuka mata dari tidur setengah lelapnya.


Begitu sepasang bola matanya terbuka sempurna, Kiran lekas menggeser pandang ke sisi lain ranjang. Bibir mungilnya mengurai senyum lembut ketika melihat wajah Wira masih terlelap di sampingnya ada, hei bukan tepat di samping sebab masih ada seorang anak kecil yang ikut terlelap di tengah-tengah mereka.


"Eemmm..." Bocah jail yang tak lain ada Willy itu menggeliat namun dengan kedua mata yang masih tertutup rapat.


Kiran kembali mengulum senyum begitu mengingat kejadian semalam. Meski rasa cinta itu belum sepenuhnya datang darinya untuk Wira, namun setelah semalam dirinya memberikan sesuatu yang amat berharga pada sang pria, getaran cinta itu mulai terasa dan semakin ada.


Cukup lama mereka menikmati indahnya surga dunia lewat penyatuan dua insan yang resmi terikat dalam suatu hubungan sakral. Wira yang sudah pernah berumah tangga pastinya lebih berpengalaman dari pada dirinya yang tak tau apa-apa. Beruntung Wira dengan sabar membawanya untuk mencicipi sebuah pengalaman baru yang belum pernah dirasa sebelumnya.


Kiran melirik kearah wajah sang suami yang masih terlelap damai. Wajah khas pria dewasa yang tenang dan berkharisma. Meski terkenal dingin dan tak banyak bicara, rupanya Wira sangatlah lembut saat menyentuhnya.


Wajah Kiran bersemu. Ia lekas menuruni ranjang untuk membersihkan diri di kamar mandi selepas berhasil melepaskan pelukan tangan Willy di lehernya.


Ini adalah hari pertamanya sebagai seorang istri sekaligus Ibu. Kiran tak ingin bermalas-malasan. Bukankah setelah mandi dan berpakaian ia harus menyiapkan sarapan serta kebutuhan suami dan putranya?.


Wira dan Willy masih terlelap saat Kiran sudah rapi dengan pakaian rumahan. Dengan gerakan pelan ia menutup pintu kamar agar tak membangunkan suami serta putranya.


Ruangan yang Kiran tuju adalah dapur. Di sana rupanya sudah ada Bibi pelayan yang sedang memotong sayuran.


"Bibi, bisa Kiran bantu," sapa Kira yang kini sudah mensejajari posisi Bibi pelayan yang di pantry.


"N-nyonya, tidak usah," cegah bibi pelayan setengah berteriak. Ia terkejut dengan kedatangan Kiran yang tiba-tiba terlebih meminta izin untuk ikut bantu memasak.


"Kenapa tidak usah?." Kiran tak mengerti kenapa Bibi pelayan melarangnya.


"Biar Bibi saja yang memasak. Nyonya Kiran di kamar saja. Nanti Nyonya besar bisa marah," jelas Bibi pelayan sembari melirik ke arah pintu masuk dapur. Takut-takut jika Nenek Willy mendengar ucapannya.


"Hah, memang Ibu akan marah kenapa?."


Bibi pelayan menepuk kening. Binggung seperti apa menjelaskan pada Kiran jika Nyonya bisa saja marah jika pekerjaan pelayan justru diselesaikan majikan.


"Bengini Nyonya, saya takut Nyonya besar marah jika Nyonya Kiran membantu pekerjaan saya. Lebih baik, Nyonya ke kamar saja dan biarkan Bibi yang memyelesaikan masakan." Setengah berbisik Bibi pelayan berucap.


"O, jadi itu masalahnya?."


Bibi pelayan mengangguk pasrah.


"Bibi tidak perlu khawatir. Bila Ibu marah, biar aku yang hadapi."


Bibi pelayan tentu terbelalak.


"Tapi, Nyonya," rengek paruh baya tersebut dengan raut wajah mengiba.


"Ya, benar," jawab Bibi pelayan seolah membenarkan namun tetap dalam mode gamang.


"Nah, pintar." Tak mau berdebat hingga membuang banyak waktu dengan sia-sia, Kiran lekas membuka kulkas dan mulai mempersiapkan bahan-bahan.


"Nasi goreng kecap untuk Maa Wira juga Ibu, dan omelet untuk Willy," gumam Kiran sembari mengeluarkan satu persatu bahan yang ia butuhkan.


Di tempatnya Bibi pelayan masih mematung. Ia tak bisa berbuat banyak selain pasrah dan membiarkan Kiran menggantikan tugasnya. Ia mungkin hanya berdiri di depan wastafel untuk mencuci peralatan setelah Kiran selesai memasak.


💗💗💗💗💗


"Wah, omelet," ucap Willy riang begitu sepiring omelet sebagai menu sarapannya sudah tersaji di hadapan. Tentunya lewat sentuhan tangan ajaib Kiran yang begitu dipuja puja sang bocah. "Wah, omelet buatan Bunda Kilan juala," sanjung Willy dengan mengangkat ke dua jempolnya. Bocah tampan itu menampakan barisan gigi susunya disela aktifitasnya mengunyah makanan.


Kiran mengulas senyum, begitu pun semua orang yang sedang menikmati sarapan.


"Iya dong, Bundanya siapa dulu?." Nenek Willy ikut menimpali.


"Willy," sahut bocah tampan itu cepat dan diiringi derai tawa yang lain. Bibi pelayan yang melihat interaksi majikannya di meja makan, tak urung ikut mengulum senyum. Ia merasa senang sebab sudah cukup lama tak disuguhi pemandangan sarapan dengan penuh kehangatan seperti ini.


Wira terlihat lahap menikmati nasi goreng kecap, meski terlihat paling tak banyak bicara. Ia hanya tersenyum tipis saat ada yang terlihat lucu dan menggelitik hatinya. Akan tetapi di balik sikap sok acuhnya itu, dirinyalah yang paling dibuat senang dengan pernikahannya ini.


Pria rupawan itu melirok ke arah Kiran yang rupanya tengah sibuk menyuapi Willy. Hah, ia sadar sekarang, jika Willy lebih menguasai Kiran dari pada dirinya.


Wira segera membuang pandangan ke arah lain, takut jika ketahuan sedang mencuri pandang ke arah Kiran. Pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia seperti tengah mengingat momen-momen awal saat dirinya dipertemukan dengan Kiran.


Ya, siapa yang mengira jika Ruby yang dulu sempat diingini namun justru Kiran yang berhasil dinikahi.


Mungkin semua masih terasa seperti mimpi. Kiran dulu bahkan sempat mengejeknya saat Ruby berhasil kembali ke pelukan sang mantan suami. Dan dengan bodohnya Wira juga sempat memasang wajah nelangsanya di hadapan Kiran saat cintanya pada Ruby tak tersampaikan.


Tanpa sadar Wira mengulas senyum tipis. Kejadian tersebut seperti baru saja dialami dan Ia seakan ingin memaki kebodohannya sendiri. Beruntung semua yang sudah terjadi tak membuat Kiran ilfil padanya.


Aku rasa pernikahan ini terjadi pun atas andil Willy.


Ya, faktanya memang Willy-lah yang membuat Kiran bisa menerima lamaran Wira.


"Mas, kenapa. Nasi gorengnya tidak enak?." Kiran bertanya pada Wira yang tak menghabiskan makanan dan terlihat hanya diam saja.


"Eh, tidak. Masakanmu enak, sangat enak." Wira terlihat kikuk. Ia lekas menyuapkan sisa nasi goreng ke dalam mulu begitu sadar jika sang Ibu sedang melotot ke arahnya.


"Pelan-pelan Mas. Nanti tersedak," ucap Kiran yang menganggsur segelas air putih pada Wira saat suaminya itu seperti kesetanan menyuapkan makanan ke dalam mulut hingga kesulitan untuk mengunyah.


Willy terkekeh. Pagi ini menjadi pagi terindah diseumur hidupnya. Ia kini sudah memiliki keluarga yang utuh. Punya Ayah, Bunda, Nenek dan sebentar lagi Aadikk...


Willy terkikik. Lekas membungkam mulut saat pandangan mata semua orang tertuju padanya.