
Selepas lamaran sederhana antara Wira dan Kiran berlangsung, kiranya akan berlanjut seperti apa hubungan dari kedua insan tersebut?.
Jika seorang gadis mendapatkan pendamping hidup seorang pria berstatus duda dengan satu anak, mungkin selama menunggu hubungan diresmikan sang gadis akan sibuk melakukan pendekatan atau pun mengambil hati putra dari sang calon suami. Akan tetapi yang dirasakan Kiran justru berbeda. Bukan sibuk mengambil hati sang calon anak tapi dirinya justru dipusingkan dengan sikapnya sendiri untuk mendekatkan diri pada sang calon suami.
Kiran sudah cukup dekat dengan Willy namun masih tak begitu dekat dengan Wira. Sang gadis masih canggung, begitu pun dengan sang pria yang bersikap acuh, tapi butuh.
Sejak lamaran saat itu, Wira memang kerap mengunjungi Kiran di kediamannya. Bukan hanya untuk membahas masalah pernikahan namun Wira juga kerap menghabiskan waktu di sana meski terkadang hanya diam.
Kiran menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal. Sudah satu jam mereka duduk di ruang tamu namun masih tak ada pembicaraan penting dari ke duanya. Wira sibuk dengan laptopnya sementara dirinya pura-pura bermain ponsel dari pada kikuk.
Sepulang dari resto memang Wira kerap mengantar Kiran dan beristirahat lebih dulu. Terkadang ia juga membawa sisa pekerjaannya pulang dengan Kiran yang setia menemani meski sampai tertidur sebab Wira hanya terfokus pada pekerjaan bukan calon istrinya.
"Ehem."
Kiran terperanjat. Ponsel dalam gengaman terjatuh namun beruntung mendarat di pangkuan.
"Maaf, bukan ingin bersikap abai namun aku akan terbebani andai pekerjaanku belum selesai." Wira berucap sebelum menutup laptop. Ia menatap Kiran dan memasukkan laptop pribadi tersebut ke dalam tas.
Kiran diam. Karna cukup jarang berinteraksi diantara ke duanya membuat Kiran canggung dan rikuh ingin menjawab apa.
"Kiran, tidak perlu setegang itu juga tak perlu seformal ini saat bersamaku. Bukankah kau tau jika kita sebentar lagi akan menikah?."
Kiran pun mengangguk lemah.
"Baiklah, kau sudah masak sesuatu untuk makan malam kita?."
Wajah muram Kiran kini berbinar. Ia menatap Wira dan mengangguk antusias.
"Sudah. Aku masak ayam kecap kesukaan Tuan." Kiran membekap mulut selepas berucap. Ia keceplosan dengan mengatakan Ayam kecap sebagai masakan kesukaan Wira.
Wira pun mengulum senyum.
"Dari mana kau tau jika Ayam kecap merupakan masakan kesukaanku?." Sepertinya ada kebahagiaan tersendiri saat seseorang yang akan menjadi belahan hidup mengetahui tentang apa yang kita suka dan tak kita sukai.
"Em, Ibu yang mengatakannya padaku," jawab Kiran malu-malu. Ibu yang dimaksud adalah Ibu dari Wira.
Wira mengangguk. Ya, dirinya sudah bisa menebak jika sang Ibu lah yang sudah memberitahukannya pada Kiran.
"Ibu baik, beliau juga sering mengajariku memasak." Menurut Kiran calon mertuanya adalah perempuan baik. Bukan hanya di rumah Kenan, saat menyambangi rumahnya pun Ibu Wira selalu mengajarinya banyak hal. Bukan bermaksud menggurui, hanya saja status calon suami yang duda dengan seorang putra, membuatnya harus banyak memiliki ilmu pengetahuan tentang menjadi istri sekaligus Ibu yang baik untuk keluarga kecilnya.
"Benarkah?."
"Ya," jawab Kiran seraya menganggukkan kepala.
Meski tak menatap Kiran namu pria itu mengulas senyum. Apa yang ia dengar sudah menjadi angin segar untuk kehidupan pernikahannya ke depan.
Meski sadar jika diantara mereka jarang berinteraksi namun Wira selalu menunjukkan keseriusan. Mengantar juga menjemput Kiran untuk bekerja hampir setiap hari, juga berkunjung kerumah sebagai ganti kencan meski pun nyatanya ia hanya disibukkan dengan pekerjaan. Akan tetapi diluar sikap acuhnya itu, tersimpan pengharapan besar agar Kiran bisa menerima dirinya yang apa adanya.
Wira tak ingin melebihkan dan berpura-pura menjadi orang lain untuk menarik perhatian Kiran. Pria itu justru ingin menunjukan seperti inilah dirinya sebenarnya. Cuek, pendiam, namun perhatian meski terkadang ditunjukan secara lebih berbeda dari pria kebanyakan.
Wira ditemani Kiran pun menikmati makan malam. Fatimah yang sudah makan lebih dulu kini sudah terlelap di kamarnya.
Seperti ucapan Kiran, malam ini ia memasak ayam kecap untuk sang calon suami. Selayaknya calon istri, Kiran mulai menyiapkan makanan kedalam piring Wira. Mengambil apa yang pria itu inginkan sebelum dinikmati.
"Bagaimana rasanya?." Kiran bertanya meski ragu, tentang rasa masakannya pada Wira.
Wira pun menyuapkan ayam kecap ke dalam mulut. Mengunyahnya dan terlihat sedang menimang rasanya.
"Em," ucap sang pria seraya mengunyah. "Enak," lanjutnya kemudian. "Ini enak," ucap Wira lagi dan kembali menyuapkan lauk beserta nasi ke dalam mulut.
Mendengar jawaban Wira tentu Kiran tersenyum senang. Ia sendiri tak yakin jika masakan yang ia buat enak seperti penuturan Wira. Akan tetapi ia pun berterimakasih pada Wira. Terlepas enak atau pun tidaknya masakan yang ia buat, setidaknya Wira menghargai usahanya dengan tidak mengucapkan kata-kata pedas nan menyudutkan.
"Selepas menikah apa kau masih ingin bekerja?." Sembari menikmati makan, Wira bertanya pada Kiran. Sejujurnya ia ingin mendengar jawaban langsung dari Kiran tentang keputusan yang akan gadis itu ambil. Tetap bekerja atau mengundurkan diri dan menjalani status barunya sebagai ibu rumah tangga.
Kiran terdiam. Ia berfikir sebelum menjawab. Mungkin ini waktu yang tepat baginya untuk berterus terang sekaligus menyuarakan keinginannya.
"Aku akan mengundurkan diri. Menjadi Ibu rumah tangga untuk mengurus Willy dan... Mas Wira." Kiran menundukkan wajah. Ah malu sebenarnya jika terlalu berterus terang seperti ini.
Terdengar helaan nafas lega dari Wira. Jauh dilubuk hati terdalam, jawaban seperti inilah yang ia nantikan. Ia sendiri sudah tak sabar melihat reaksi Willy saat mereka tinggal bersama. Setiap hari bersama, hingga Willy bisa merasakan memiliki seorang Ibu seperti teman-temannya.
"Aku senang mendengarnya." Kini Wira tak menutupi lagi bentuk perhatian dan rasa sukanya pada Kiran meski terlambat untuk gadis itu sadari.