
"Kita akan ke mana, Nyonya."
Margareth tersentak dari lamunan saat sopir pribadinya bertanya arah tujuan. Paruh baya itu mengusap wajahnya kasar kemudian menatap ke arah luar jendela.
"Kita kembali ke Ibu kota saja."
Jawaban sang majikan membuat pria itu menghela nafas dalam. Mereka bahkan belum benar-benar beristirahat dan kini harus kembali melakukan perjalan berjam-jam lamanya.
"Nyonya, apakah tidak lebih baik jika kita beristirahat lebih dulu." Sang sopir membeli usul. Akan tetapi saat pria itu melirik ke arah spion depan, Margareth justru menatap tajam padanya.
"Baik, kita akan beristirahat tapi setelah hari ini biarkan posisimu menjadi sopirku digantikan oleh orang lain."
"Tidak! Maaf, Nyonya. Kita tidak perlu beristirahat." Tak banyak kata, pria itu lekas menambah kecepatan laju kendaraan dan melepas bebas di jalanan raya.
Margareth tersenyum miring.
Dasaar kaum rendahan. Kau fikir bisa memang melawanku.
Dalam duduknya Margareth tak henti menghubungi kontak Sean. Ia tak patah arang meski pun puluhan panggilannya selalu ditolak oleh sang anak.
Margareth mengerutkan kening saat salah satu rekan sosialitanya menghubungi lewat jaringan telephon.
"Halo, Jeng."
"........ "
Kini Margareth mengingat sesuatu. Bukankah dia dan rekannya memiliki janji untuk mempertemukan anak-anak mereka. Sebuah rencana perjodohan yang pernah dibahas dan mendapatkan persetujuan dari ke dua belah pihak keluarga, hanya keluarga namun dari kedua anak mereka masih belum dipertemukan.
Margareth tersenyum tipis. Sepertinya Selena tidak akan menolak dengan rencana perjodohan ini. Sebab Putri cantiknya itu satu server dengannya. Menyukai uang dan semua yang berbau kemewahan.
Tanpa ragu, Margareth lalu menghubungi Selena. Meminta pada putrinya itu untuk bersiap menuju sebuah tempat yang sudah ditentukan lebih dulu oleh calon pasangannya tersebut.
💗💗💗💗💗
Selena duduk terpaku di kursi meja rias. Ia menatap pantulan wajahnya yang sudah terpoles Make up dengan gaun indah yang terbalut di tubuh. Gadis itu tak mampu menolak keinginan sang Ibu. Setidaknya untuk pertemuan kali ini dirinya akan lebih dulu mengenal sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima atau pun menolaknya.
Ponsel di atas meja riasnya berkedip. Satu pesan rupanya terkirim dari satu nomor asing yang berisikan sebuah alamat.
Kening Selena berkerut. Kenapa pertemuan pertemuan mereka diadakan disebuah hotel, kenapa tidak di kafe atau Mall saja?.
Selena tak ingin berfikiran buruk. Ia pun bergegas keluar dari rumah dengan membawa tas mungil berisikan barang pribadinya sebelum mengendarai kuda besi menuju alamat yang sudah diberikan oleh putra rekan Ibunya.
Selepas menempuh tiga puluh menit perjalanan, Selena pun sampai ke sebuah hotel yang sudah dijanjikan. Gadis itu mengecek kembali ponselnya, dan sang pria rupanya sudah menunggunya di dalam.
Selena menuju di area resto yang terdapat di dalam hotel. Ia menatap ke sekeliling, dan menemukan seorang pria dengan stelan jas lengkap, melambaikan tangan padanya.
Ah, itu dia.
Gadis itu tersenyum tipis kemudian menghampiri meja yang sudah dipesan oleh sang pria.
"Maaf, sudah menunggu lama."
"Oh, tidak masalah." Saat Selena mengulurkan tangan, pria itu langsung menyambutnya, dan tanpa diduga pria itu menggarahkan punggung tangan Selena untuk ia kecup.
Selena yang terkejut, sontak menarik tangannya dan menyimpan di balik punggungnya.
"Perkenalkan, Nona. Namaku Leo, putra tunggal dari keluarga Pramuditya," ucap sang pria memperkenalkan diri. Jika di perhatikan, Leon memiliki paras rupawan dengan postur tubuh tinggi tegap. Kulitnya bersih dengan rambut hitam legam yang tersisir rapi ke belelakang, dan sebagai seorang gadis pada umumnya Selena tentu terpesona oleh penampilan fisik sang pria saat pertama berjumpa. Akan tetapi selepas insiden kecup punggung tangan tadi, Selena sedikit bisa membaca tentang karakter dari seorang Leon yang menurutnya ...
Ah, lagi-lagi aku tak ingin memiliki fikiran buruk.
"Saya Selena, putri dari Nyonya Margareth, rekan Ibunda anda." Selena enggan menjabarkan ini dan itu. Apa yang ia ucap sepertinya sudah cukup sebagai pengenalan diri.
"Se Le Na, nama yang cantik secantik parasmu," puji Leo seraya mengedipkan satu mata, berniat menggoda sang gadis.
"Terimakasih."
Leon mulai berbicara ini dan itu. Tentang pekerjaannya sebagai model dan juga atlit basket yang memiliki jam tanyang cukup tinggi. Selena menanggapinya dengan anggukan, sesekali gadis itu memberi pujian sebagai apresiasi, kerja kerasnya yang sudah sedemikian rupa memuji diri sendiri.
Selena perlahan jengah. Ucapan Leon semakin lama semakin jauh. Bahkan mulai membuka hubungan percintaannya dengan beberapa artis muda yang kandas dengan alasan tak sejalan. Benarkah?.
"Kau sendiri, bagaimana dengan kisah cintamu sebelum ini?." Rupanya Leo berusaha mencari tau tentang kehidupan Selena.
"Hanya sekedar cinta monyet saat SMA, selebihnya aku tak lagi berpacaran. Aku lebih fokus kependidikan dan bisnis kuliner milik keluargaku."
"Oh, benarkah?." Leo memasang ekspresi wajah tak percaya. "Bagaimana mungkin dengan dirimu yang sesempurna ini tidak menjalani hubungan dengan seorang pria, em maksudku ya sepertinya rugi saja jika parasmu tidak kau gunakan untuk menarik perhatian para pria yang kau sukai." Leo tergelak, sementara Selena justru kian jengah. Benar-benar jegah. Memangnya apa yang lucu hingga membuat pria itu tertawa.
Saat seorang pelayan perempuan mengantar nampan berisi pesanan yang semula dipesan Leo lebih dulu ke atas meja, Selena lekas meneguk minumannya. Ia merasa haus, hanya dengan mendengar cerita Leon yang seolah tak ada habisnya.
"Selena, kau lapar?." Leon bertanya seraya menatap sang gadis di depannya yang mulai melahap hidangan tanpa menawarinya.
Selena cuek, hanya menganggukkan kepala kemudian melanjutkan kembali makannya.
Leon mendengus, kemudian menyerigai. Pria rupawan itu kemudian ikut melahap hidangan bagiannya. Sesekali ia melirik pada Selena yang tengah melahap makanan dengan cara yang elegan.
Menarik, dan aku harus bisa mendapatkan dia.
💗💗💗💗💗
"Kenapa harus ke kamarmu?." Begitu langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu kamar yang di tempati Leo, Selena bertanya. "Jika ada sesuatu di dalam yang ingin kau ambil, ambillah. Aku akan menunggu di sini saja."
Leo tersenyum tipis, begitu mendengar ucapan Selena. Ke dua insan ituasih berdiri di depan pintu salah satu kamar yang sudah dipesan Leo. Pria itu berucap jika dia akan mengambil sebuah benda yang masih tertinggal di dalam, dan meminta Selena untuk menemani ke dalam untuk mengambil barang tersebut bersama-sama. Akan tetapi, Selena sepertinya menolak dan berkata jika ingin menunggunya di luar saja.
"Selena, apa yang kau takutkan. Kau khawatir jika aku akan melakukan hal yang tidak-tidak padamu? Oh, ketahuilah Selena, kita bahkan sudah hampir dijodohkan. Jadi mana mungkin aku tega melakukan hal yang semena-mena padamu."
Leon membuka pintu kamar dengan kunci yang tadinya ia simpan di saku celana. Pintu itu sengaja Leo buka lebar, seolah mengintruksi Selena untuk ikut masuk ke dalam.
Gadis itu berfikir sejenak. Sesungguhnya ia pun takut andaikata masuk ke dalam, namun jika menunggu di luar orang lain justru akan berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Meski ragu, akhirnya Selena pun masuk ke dalam. Diam-diam, sudut bibir Leo tertarik membentuk serigai kemenangan. Begitu Selena lengah, Leo lekas bergerak untuk menutup pintu dan menguncinya.
Selena terkesiap. Rupanya apa yang sempat ia fikirkan, memang benar.
"Leo, apa yang kau lakukan? Cepat buka pintunya, aku ingin keluar!." Selena berlari mendekati pintu, menarik-narik gagang pintu agar terbuka, namun sayang semua hanya sia-sia saat pintu itu sudah terkunci sempurna.
Leo terbahak. Ia memainkan anak kunci di tamgan sebelum menyimpannya lagi ke dalam saku pakaian.
"Percuma berontak, sayang. Bersiaplah, hari ini kau akan menjadi milikku."
Tbc.