
Sebagian ruangan terlihat sepi saat Wira keluar dari ruang kerjanya. Malam kian merangkak dan sebagian besar para karyawan resto sudah pulang. Hanya menyisakan beberapa tenaga kebersihan yang tampak disibukkan dengan perkerjaan mereka.
Wira sedikit menjembulkan kepalanya ke pintu dapur. Memeriksa apakah masih ada seseorang yang tertinggal di sana. Kosong. Tak ada siapa pun di sana, begitu pun dengan keadaan dapur yang sudah bersih mengkilat.
Pria itu menghela napas, padahal ia berharap jika Ruby masih berada di sana. Ah, giila. Wira terpekik dalam hati. Kenapa ia jadi semengharapkan ini pada Ruby.
Beberapa karyawan menyapa begitu Wira melintas di hadapan. Pria itu sendiri hanya mengulas senyum tipis sebagai jawaban. Wira akan segera pulang, ia bergegas menuju area parkir dan mulai menghidupkan kuda besinya.
Wira Pranata, pria berusia 35 tahun itu melajukan kuda besinya dengan kecepatan sedang, membelah padatnya jalan pusat kota. Wira mengingat sesuatu, sepertinya ia akan singgah lebih dulu ke suatu tempat sebelum pulang.
Sepuluh menit perjalanan, Wira pun membelokkan kendarannya ke sebuah area parkir pusat perbelanjaan. Sepertinya ada beberapa barang yang harus ia beli di tempat ini.
Begitu memasuki pintu utama bangunan, Sean lekas menarik satu buah troli dan berkeliling mencari barang yang masuk dalam daftar belanjaan. Wira menghentikan langkah tepat di depan rak susu formula dengan berbagai merk dan ukuran.
Wira mengamati satu persatu dari sekian banyak produk secara seksama. Wira meraih satu buah produk susu formula dan meneliti setiap kandungan yang terdapat dalam setiap kemasan. Meski sejak dua tahun lalu Wira sudah memilih satu produk untuk dikonsumsi sang putra, namun tidak ada salahnya jika ia ingin mencari pilihan lain mengingat usia putranya yang kuan bertambah.
Wira akhirnya memasukkan satu kaleng susu formula dengan merk berbeda dari yang konsumsi sang putra, diantara beberapa kaleng susu lain di dalam troli yang merupakan susu yang biasa dikonsumsi putranya. Wira bergerak ke sisi lain. Masih mencari barang-barang yang berhubungan dengan putra kecilnya.
Tak banyak yang tau jika status Wira ada singgle daddy dari seorang putra putra bernama William hasil dari pernikahannya dengan sang mantan istri.
Pria berpostur tinggi tegap itu lekas mendorong troli ke depan meja kasir selepas memastikan seluruh daftar belanjaan telah terbeli. Bukan karna tak mampu membayar seseorang untuk melakukan hal semacam ini layaknya perempuan, namun semenjak William lahir, hal seperti ini sudah menjadi rutinitas baginya dan ia pun menikmatinya.
"Terimakasih," ucap Sean selepas menerima kantong belanjaannya dari tangan kasir.
💗💗💗💗💗
Kedatangan Wira rupanya sudah disambut perempuan paruh baya yang berdiri di ambang pintu. Seorang pelayan bergerak membuka pintu bagasi untuk mengambil barang yang tersimpan di dalamnya selepas mendapat perintah dari Wira.
"Ibu belum tidur?." Wira bertanya pada sosok perempuan paruh baya yang merupakan Ibu kandungnya, begitu menyambutnya di pintu rumah.
"Belum, Ibu menunggumu pulang," jawab sang Ibu berterus terang. Perempuan itu tersenyum, sementara Wira menggiring langkah sang ibu untuk masuk kembali ke dalam rumah.
"Jika Ibu ingin menungguku, lebih baik duduk di dalam saja. Di luar cuaca sangat dingin, nanti Ibu bisa sakit." Wira memperingatkan sang Ibu yang terkadang bertingkah sesuka hatinya sendiri. Ibu Wira memang masih cukup aktif bergerak, namun diusianya yang sudah menginjak angka 60an membuat kondisi kesehatannya kerap menurun dan jatuh sakit andaikata tak mengaikuti pola hidup dengan baik.
"Wira, tidak perlu berlebihan. Ibu masih sehat, Ibu masih bisa melakukan apa pun yang Ibu mau termasuk mengurus Wiliam tanpa bantuan pengasuh." Wira sontak terdiam begitu Ibunya menyinggung soal Wiliam.
"Ibu, aku ingin melihat Wily di kamarnya," ucap Wira selepas beberapa saat terdiam. Pria itu pun mengayunkan langkah untuk menuju kamar putranya yang berada di lantai dua.
Perlahan Wira menekan gagang pintu kamar sampai tak menimbulkan suara sedikit pun. Pria yang masih mengenakan kemeja itu menekan saklar lampu, mengubah lampu tidur dengan lampu yang lebih terang, hingga sesosok tubuh balita berusia dua tahun nampak terlelap di dalam ranjang tidur.
Wily tergolong anak yang pintar. Dia tak rewel dan banyak menuntut pada sang Ayah atau pun pada sang Nenek. Wira menghela nafas dalam, merasa Iba akan sosok sang putra yang tak mendapat sentuhan kasih sayang dari Ibu kandungnya.
"Berbahagialah, Nak. Semoga kelak kau mengerti bahwa ada alasan kuat dibalik perpisahan Ayah dan Ibumu. Semoga, nanti engkau akan mendapatkan penganti Ibumu dengan seseorang yang lebih baik." Wira mengusap kepala sang putra yang masih terlelap dalam. Selepas melabuhkan satu kecupan di kening, Wira pun kembali mematikan lampu dan mengantinya dengan lampu tidur sebelum keluar dari kamar sang putra.
"Wira." Ibu dari Wira mendekati sang putra selepas pria itu menutup kembali pintu kamatr Wiliam.
"Ada apa Ibu?."
"Kemari, Duduklah," pinta sang Ibu seraya membimbing sang putra untuk di sebuah kursi panjang bersamanya.
Perempuan paruh baya itu sejenak menatap wajah letih sang putra sehabis bekerja. Wira belum juga beristirahat apalagi membersihkan tubuh semenjak datang. Sudah menjadi kebiasaan, jika Wira akan lebih dulu melihat sang putra yang sidah terlelap sebelum masuk ke kamar pribadinya.
"Kau lelah?." Ibu bertanya, ia menepuk bahu sang putra juga meneliti wajah rupawan putranya itu.
"Sedikit, Ibu. Hari ini pekerjaan bisa dibilang lebih banyak dari pada hari biasa." Wira menjawab sekenanya. Sebenarnya bukan karna urusan pekerjaan dirinya merasa lelah, namun entah mengapa akhir-akhir ini dirinya merasa jika fikirannya tak menentu begitu melihat Ruby dan juga putranya. Kenapa bisa begitu? Entahlah, Wira pun tak tau jawabnya.
"Maka dari itu, menikahlah. Kau butuh seorang istri yang bisa merawat dan menemanimu. Begitu pun Wily, dia butuh juga butuh seorang Ibu."
Wira terdiam. Lagi-lagi sang Ibu mengingatkannya untuk lekas mencari pendamping hidup, mengantikan sosok Ibu kandung Wily yang kini menghilang entah kemana selepas resmi bercerai.
"Aku masih belum siap, Ibu. Ibu pasti tau alasan utama diriku untuk tak terburu-buru dalam mencari seorang Ibu sambung untuk Wily yang akan aku nikahi. Perceraianku dengan Amara masih menyisakan luka mendalam, dan aku masih berfikir berkali lipat untuk berani berkomitmen dengan perempuan." Meski terbilang cukup tampan, namun sikap Wira yang jauh dari kata ramah pada setiap orang, membuat pesona sang pria kurang digandrungi banyak wanita. Wira pun pendiam dan tak banyak mempunyai teman diluaran. Terlebih saat pernikahannya dengan Amara kandas, Wira semakin menutup diri dari dunianya.
"Kau masih muda, Nak. Setidaknya bukan hanya berfikir tentang dirimu saja, tapi lihatlah putramu. Bukan Nenek keberatan untuk mengasuhnya, hanya saja Wily juga butuh figur seorang Ibu." Ibu Wira merasa jika keberadaan pengasuh di samping Wily belumlah cukup.
"Bukannya aku tidak ingin, Ibu. Hanya saja aku masih belum menemukan perempuan yang tepat. Lagi pula untuk menikan dalam kondisiku yang sudah memiliki seorang putra, tidaklah mudah." Wira menghela nafas. Sesungguhnya bukanlah tidak mudah, namun Wira-lah yang sendirilah yang belum menginginkannya.
Ibu Wira hanya geleng kepala. Entah sudah keberapa kali ia meminta pada putranya untuk menikah lagi. Akan tetapi jawaban sang anak selalu sama. Belum siap dan masih butuh waktu.
Perempuan paruh baya itu pun mengerti akan kondisi mental Wira yang sempat terguncang pasca mengetahui istrinya berkhianat. Namun, di balik setiap prahara yang terjadi, bukankah hidup tetap harus berjalan. Wora pun butuh seseorang pendamping dan Wily yang membutuhkan seorang Ibu.
Wira pun beranjak, merasa jika pembicaraanya dengan sang Ibu sudah selesai, ia pun lekaa ke kamar untuk membersihkan tubuh kemudian beristirahat.
Doakan saja yang terbaik untukku, Ibu. Saat ini aku sedang berusaha mengejar cinta seseorang yang aku inginkan. Entah akan berakhir seperti apa, namun aku yakin jika perempuan itu adalah perempuan yang tepat untuk menjadi Ibu sambung bagi Wily.
Tbc.