
Di depan jendela kaca, seorang perempuan berdiri dan melihat kehebohan paruh baya yang mendapat hadiah sebuah mobil dari calon menantunya. Hati perempuan itu seakan teriris perih. Seorang Ibu kandung seakan rela menjual putrinya hanya demi harta. Lalu bagaimana dengan dirinya yang tak berpunya?.
Perempuan itu adalah Ruby. Di balik jendela kamar ia bisa melihat dengan jelas tingkah sang Ibu mertua saat sebuah kendaraan mewah terparkir di halaman luas kediamannya. Paruh baya itu luar biasa girang. Heboh bergerak ke sana ke mari dengan wajah berseri-seri.
Di tempatnya Ruby menghela nafas dalam. Ia tak tau pasti siapa sosok Bagas yang sebenarnya, namun menurut sang Suami jika pria muda tersebut memiliki cerita masa lalu dengan Selena, terbuka saat adik iparnya tersebut menerima lamaran tersebut seakan tanpa paksaan.
Dari mobil yang dihadiahkan untuk sang mertua, tentu Ruby dapat menyimpulkan jika seorang Bagas terbilang mapan dari segi finansial.
"Anak muda, andai kau tak berpunya pasti nasibmu tak jauh berbeda dengan diriku." Senyum Ruby seperti menyiratkan luka. Sampai sekarang sikap Margareth padanya tak jauh berbeda dari setahun lalu, hanya saja paruh baya itu diam-diam sering tertangkap basah memberi perhatian pada Celia, putrinya.
Margareth memang tak segarang dulu saat mereka bertemu, namun Ruby fikir jika paruh baya tersebut rela mengendalikan emosi hanya karna tak ingin ia dibenci oleh Sean, putranya sendiri. Ruby tak tau akan sampai kapan nasibnya berulang seperti ini. Tak disenangi mertua walau ia sudah berjuang sekuat tenaga, rasanya seperti berjalan di atas bara. Diam sakit bergerak pun makin sakit. Beruntung sikap Sean saat ini kian lebih baik. Perpisahan beberapa waktu lalu sepertinya menjadi pelajaran berarti untuk Sean. Pria tak mau kembali terjatuh dalam lubang yang sama dan menumbalkan kebahagiaannya. Biarlah, kejadian lalu ia jadikan pacuan untuk lebih bijak dalam mengambil sebuah keputusan. Hidup hanya sekali dan Sean tak ingin merasakan gagal untuk yang ke dua kali.
Ruby masih berdiri terpaku saat sepasang tangan kokoh memeluk pinggangnya dari belakang. Wajah Ruby menoleh, dan disambut sebuah bibir yang mengecuup bibirnya tanpa permisi.
"Sayang, kau sedang melamun," bisik Sean yang kini mendaratkan dagunya di bahu sang istri selepas adegan berciiuman beberapa detik lalu.
"Em, tidak. Aku hanya sedang mencari udara segar saja," jawab Ruby yang nampak menikmati sentuhan tangan dan bibir Sean di area kulit tubuhnya.
"Bohong."
Ruby tergelak seiring rengkuhan tangan Sean yang semakin erat memeluk pingganggnya.
"Kataka, apa diam-diam kau sedang memperhatikan Ibu?." Ah, Sean memang paling pintar menebak.
"Ya, aku memang sedang memperhatikan Ibu. Lihatlah, Ibu sangat senang begitu mendapat hadiah dari calon menantunya." Benarkah hal tersebut kian membuat Ruby rendah diri?.
"Kenapa, jangan katakan jika kau merasa rendah diri selepas kejadian hari ini?." Sean menggeser tubuh Ruby hingga mereka saling berhadapan. Saat Ruby hanya menunduk dan tak menjawab pertanyaannya, Sean pun bergerak untuk memeluk dan membenamkan wajah sang istri di dada bidangnya.
Sean menghela nafas panjang. Inilah yang tak Sean sukai dari Ruby. Mudah terbawa perasaan dan tak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri.
"Ruby, dengarkan aku. Ibu menjadi mertuamu bukan hanya sehari atau dua hari. Hampir tiga tahun kau menjadi menantunya, sayang. Tentu kau sudah faham dengan sifat Ibu baik dari luar bahkan sampai hal terdalam dari seorang Ibu. Aku yakin, kau pasti menemukan satu titik kelemahan dalam diri Ibu yang bisa kau jadikan senjata untuk bisa menaklukannya."
Titik lemah?.
Ruby sedang berfikir. Benarkah titik lemah seorang Margareth adalah harta. Lalu apakah dirinya harus menghadiahi Margareth mobil mewah lebih dulu agar bisa meluluhkan hati wanita paruh baya itu?.
"Apakah aku harus memberikan Ibu mobil mewah lebih dulu untuk bisa menaklukan hatinya?."
Ruby yang terlihat kebingungan dan asal menjawab justru membuat Sean terbahak.
Ya, Tuhan. Pendek sekali fikiranmu, Sayang.
"Rupanya kau masih belum pintar juga." Sean mengelengkan kepala dan mencubit gemas puncak hidung sang istri.
Ruby sontak menggeleng selepas mengingat jika jawabannya tadi justru ditertawakan oleh sang suami.
"Putranya, dan titik lemah Ibu ada padaku."
Ruby mengernyit. Hah, maksudnya.
"Kenapa, tidak percaya?." Lagi, Ruby menggeleng.
"Kau tau sepenting apa aku bagi Ibu, terlebih sudah tak ada lagi Ayah di antara kami. Aku dan Selen memang setara, hanya saja aku seorang pria yang pastinya sudah menjadi pengganti Ayah dalam struktur keluarga. Aku kelak akan menjadi wali saat Selena menikah nanti. Jadi bisa kau bayangkan seperti apa Ibu jika aku tak ada?."
Ya, benar juga. Selama ini memang Sean lah yang memiliki peranan besar dalam hidup Margareth dan Selena. Segala fasilitas dan uang, Sean lah yang menanggungnya. Bukan atas permintaan dari Margareth, namun Sean yang merasa mampu memang bertanggung jawab penuh atas hidup Ibu dan adiknya. Jadi selama ini pun, harta peninggalan mendiang Ayah Sean masih utuh dan hanya berkurang saat Margareth yang mengunakannya untuk bersenang-senang.
"Jadi, maksudnya?."
"Bukankah kubilang kau harus mencari titik lemah Ibuku, dan kini kau sudah tau jawabannya 'kan?."
"Ya, dirimu."
pusing aku.
"Kenapa, kau masih belum mengerti juga?." Sean mungkin berniat menggoda Ruby. Apalagi saat melihat wajah sang istri yang semakin jengkel saat menatapnya.
Sean tergelak.
"Aku rasa itu pekerjaan paling mudah untukmu, sayang. Sepertinya kau tak perlu bekerja keras lagi karna titik kelemahan Ibuku ini, justru sudah lebih dulu takhluk kepadamu."
Ah, jawaban macam apa lagi ini?.
Ruby terdiam, seperti mencerna ucapan sang suami.
"Jika kau mau menakhlukan Ibu, maka kau perlu menakhlukanku. Tapi sepertinya hal tersebut tak perlu kau lakukan karna aku sudah lebih dulu takhluk kepadamu." Menurut Sean titik lemah Margareth ada pada dirinya. Sesungguhnya selama ini paruh baya itu hanya menggertak dan tak pernah benar-benar berani untuk menyakiti Ruby dan Celia jika berada dalam lindungannya.
"Justru ketakutan dan rasa tak percaya dirimu itu yang membuat Ibu terus berkeinginan untuk memojokanmu. Maka dari itu, tetaplah bersikap biasa saja. Tetap percaya diri dan jadilah dirimu sendiri. Apa kau tau, jika kau kembali pergi maka bukan aku saja yang dibuat gila tapi juga Ibu." Sean menjeda ucapannya. "Kau ingin tau kenapa?." Sean menatap lekat pada Ruby yang menganggukkan kepala kemudia pria tampan itu mengarahkan jari telunjukknya ke arah box bayi di mana Celia sedang terlelap.
"Sekarang Celia memiliki peranan besar, wajahnya yang begitu mirip denganku sepertinya mulai meluluhkan hati Ibu. Entah kau menyadarinya atau tidak tapi beberapa kali aku sempat melihat Ibu diam-diam memasuki kamar dan melihat Celia. Aku bisa melihat binar keharuan di wajah Ibu. Kau tau kenapa? Karna Celia perempuan, makajika dibandingkan diriku, putri kita justru semakin mirip dengan Selena saat kecil. Rupaya berbagai kenangan di masa lalu bersama Ayah, mungkin saja teringat kembali. Saat mereka berjuang untuk membesarkan putra-putrinya dalam keterbatasan." Tentu Margareth dan mendiang suami tak kaya begitu saja. Mereka bekerja tak tau siang dan malam untuk mewujudkan sesuatu yang mereka impikan.
"Benarkah?."
"Tentu," jawab Sean seraya menganggukkan kepala. Sean membawa Ruby untuk duduk di pangkuannya. Pria itu ingin bermaja. Ia tak perlu memikirkan lagi tentang Margareth. Pria itu sudah yakin jika tanpa dirinya bersusah payah pun, hati Margareth sudah akan luluh dengan sendirinya.
Tbc.